Api Yang Tak Pernah Padam

14 1 0
                                        

Minggu-minggu setelah rapat pertama, Drupada sering menemukan dirinya "kebetulan" berada di tempat yang sama dengan Bharata

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Minggu-minggu setelah rapat pertama, Drupada sering menemukan dirinya "kebetulan" berada di tempat yang sama dengan Bharata. Bukan karena sengaja-setidaknya begitu ia yakinkan dirinya-tapi dunia seolah selalu mempertemukan mereka.

Suatu sore, saat semua orang sudah pulang, Drupada turun ke lobi dengan kepala penuh laporan. Di sana, Bharata berdiri sendirian, jasnya terlipat rapi di lengan, menunggu taksi. Mereka bertukar pandang.

"Kau belum pulang?" tanya Bharata ringan.

"Masih ada revisi," jawab Drupada canggung, merapikan tasnya yang hampir jatuh.

Bharata menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Jangan sampai terlalu keras pada diri sendiri."

Kalimat sederhana, tapi telak. Kata-kata itu menggema sepanjang perjalanan pulang, bahkan lebih lama daripada suara hujan yang menghantam jendela kamarnya.

---

Malam berikutnya, mereka terjebak hujan di depan gedung kantor. Hujan deras turun tiba-tiba, trotoar sepi, lampu jalan berpendar kabur. Bharata berdiri dengan payung hitam di tangan, lalu melirik Drupada.

"Ayo, kita satu payung. Mobilku agak jauh."

Drupada ingin menolak, tapi suaranya hilang. Mereka berjalan berdekatan, bahu nyaris bersentuhan, suara hujan seperti menyelimuti mereka dari dunia luar. Drupada bisa mencium aroma sabun dari jas Bharata, bisa mendengar napasnya. Detik itu, kota yang bising terasa hening.

Namun saat mereka sampai di mobil, layar ponsel Bharata menyala. Nama seorang wanita muncul, foto profilnya adalah senyum manis di tepi pantai. Bharata mengangkat telepon, suaranya berubah hangat, penuh kasih.

Drupada berpaling, merasakan dadanya diremas. Api itu berubah jadi luka.

---

Ada juga momen kecil yang tak pernah lepas dari ingatannya.
Seperti saat mereka duduk berseberangan di kafe sebelum meeting, dan Bharata dengan santai mendorong secangkir kopi ke arahnya.

"Kau terlihat lelah. Minum ini."

Drupada menunduk, menyentuh cangkir yang masih hangat. Jemarinya hampir bersentuhan dengan jari Bharata. Hanya sedetik-tapi cukup untuk membuat darahnya berdesir, cukup untuk menyalakan api yang lebih besar.

---

Hari-hari berikutnya, Drupada terjebak dalam perang batin. Setiap tatapan Bharata terasa seperti undangan, tapi setiap percakapan tentang pasangannya terasa seperti benteng. Ia ingin lari, tapi justru makin terikat.

Hingga sampailah mereka di tepi sungai, pada sore muram itu.
Gerimis baru saja reda, udara dingin menusuk. Mereka berdiri bersebelahan, diam terlalu lama.

"Bharata..." suara Drupada pecah. "Apa aku salah mencintaimu?"

Bharata memejamkan mata. Saat membuka kembali, ada getir di sorotannya. "Kau tidak salah. Tapi aku bukan milikmu. Kalau kau tetap di sisiku... kau akan hancur."

Air mata menuruni pipi Drupada, bercampur dengan sisa hujan. "Aku sudah hancur sejak hari kau pertama kali menolongku."

Mereka berdiam, tak berani mendekat, tak sanggup menjauh. Hanya api di antara mereka yang semakin membakar, tapi tak pernah bisa jadi terang.

---

Malam itu, Drupada berjalan sendirian di jembatan kota. Lampu-lampu bergetar seperti obor kuno, bayangan tubuhnya panjang di aspal basah. Ia berhenti, menatap sungai yang gelap, airnya berkilau oleh lampu jalan.

Tangannya gemetar. Tubuhnya goyah. Tapi akhirnya ia menyerah-dan membiarkan arus memeluknya.

Fajar esoknya, Drupada tak kembali.

---

Ketika Bharata menerima kabar, ia berlari ke rumah sakit. Tubuhnya kaku saat melihat Drupada terbujur kaku di bawah kain putih. Tangannya gemetar saat menyibakkan kain itu, menatap wajah yang kini damai, seolah tertidur.

Ia meletakkan setangkai bunga liar di sisi tubuh dingin itu.
Tak ada air mata. Hanya tatapan kosong yang dalam, dipenuhi luka.

Sejak hari itu, Bharata menyimpan nama Drupada sebagai rahasia. Tak pernah ia sebutkan, tak pernah ia akui, tapi di setiap hujan, setiap jembatan, setiap payung hitam yang ia bawa-ia teringat.

Karena ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Cinta yang hanya ada untuk membakar, sampai ke akhir hayat.

Drupada & BharataStories to obsess over. Discover now