Langit malam di Bangkok tampak pekat, seakan menyembunyikan ribuan rahasia di bawah cahaya neon kota. Di tengah hiruk pikuk kehidupan malam, berdiri sebuah bangunan megah yang tak banyak orang berani dekati. Sebuah mansion besar dengan arsitektur modern bercampur klasik, dikelilingi pagar besi tinggi, kamera tersembunyi, dan para penjaga bersenjata. Itulah markas Joss Wa-yar Sangngern, ketua mafia terbesar di Asia Tenggara.
Joss dikenal sebagai sosok yang dingin. Tatapannya tajam, tubuhnya tinggi menjulang dengan bahu lebar yang memancarkan wibawa. Ia jarang bicara, tapi sekali ia mengucapkan kata, itu adalah perintah mutlak. Semua orang yang mengenalnya tahu, tidak ada ruang untuk kesalahan di hadapan pria itu.
Malam itu, Joss duduk di ruang utamanya. Sebuah ruang luas dengan jendela kaca besar yang menghadap ke kota, dinding-dinding dihiasi lukisan mahal, dan meja panjang dari kayu hitam. Di sekelilingnya, enam orang kepercayaannya berada di posisi masing-masing.
Terlihat Force yaitu sekretaris yang rapi dan tenang, sedang mencatat laporan keuangan bisnis gelap mereka. Joong, tangan kanan, berdiri di dekat pintu dengan tubuh tegap dan tatapan waspada. Aou, tangan kiri, menyandarkan diri di kursi, sesekali memutar pisau lipat di tangannya. Book, mata-mata licik dengan senyum samar, melaporkan pergerakan kelompok kriminal lain. Dunk, sang dokter, merapikan kotak medisnya sembari menyalakan rokok. Dan Boom yaitu hacker jenius, duduk dengan laptop terbuka, jemarinya lincah menari di atas keyboard.
Rapat malam itu berjalan normal, hingga suara pintu besar terbuka dengan kasar.
Semua mata tertuju pada sosok yang melangkah masuk. Seorang anak muda, mungkin tak lebih dari 18 tahun, dengan rambut berantakan dan tatapan menantang. Ia mengenakan seragam sekolah yang sudah tak rapi, dasi longgar, dan tas selempang usang yang tampak penuh.
“Permisi” suaranya lantang, tanpa rasa takut. “Aku disuruh mengantar barang untuk kalian”
Seisi ruangan hening. Joong hampir saja mengangkat pistolnya, tapi Joss mengangkat tangan, memberi isyarat untuk menahan diri.
Anak itu yaitu Gawin Caskey terlihat meletakkan tas di atas meja besar tanpa ragu. Dari dalamnya, tampak beberapa senjata api terbungkus rapi. Ia menatap Joss lurus-lurus, seolah tak gentar sedikitpun meski berada di sarang singa.
“Barangnya lengkap. Kalian bisa cek sendiri”
Aou terkekeh rendah. “Anak ingusan… Kau tahu ini tempat siapa? Kau pikir kau bisa keluar dengan hidup-hidup setelah masuk ke sini?”
Namun Gawin tidak bergeming. Ia justru melipat tangan di dada, bibirnya melengkung sinis. “Aku tidak peduli. Tugasku hanya mengantar barang ini. Kalau kalian tidak puas, salahkan bos kalian yang memesan, bukan aku”
Keberanian itu membuat semua orang terkejut. Force menoleh ke Joss, menunggu instruksi. Tapi Joss hanya menatap Gawin dengan mata hitamnya yang dingin. Dalam keheningan itu, ada sesuatu yang tak biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Joss merasakan sesuatu bergetar dalam dadanya.
Anak ini berbeda.
“Siapa namamu?” suara Joss rendah, berat, dan penuh kuasa.
“Gawin. Gawin Caskey” jawabnya cepat, menantang, seolah nama itu cukup untuk dikenang.
Senyum samar muncul di wajah Joss. Sebuah senyum yang jarang sekali orang lihat, bahkan oleh enam orang kepercayaannya.
Malam itu, tanpa disadari, takdir mereka mulai terikat. Pertemuan itu bukan sekadar urusan senjata ilegal, melainkan awal dari kisah yang akan mengubah hidup keduanya selamanya.
أنت تقرأ
Defying the Dark King (JossGawin)
عاطفيّةJoss sudah hidup cukup lama dalam dunia gelapnya, tidak mengenal apa itu cinta dan kasih sayang, sampai akhirnya ia bertemu dengan Gawin seorang anak berandalan yang tanpa sengaja masuk ke dalam hidupnya dan berani menolak dirinya. KaryaKarsa [chat...
