__________________________
Kota kecil itu selalu sama setiap sore. Jalan utama hanya diisi deru motor yang lewat santai, suara anak-anak berlari mengejar bola plastik, dan aroma asin dari laut yang jaraknya tak sampai satu kilometer dari kafe kecil milik Pharita.
Kafe itu sederhana, dinding bata ekspos dengan jendela besar menghadap jalan. Nama "Harbor Brew" terpampang di papan kayu, catnya sudah mulai pudar. Meski begitu, tempat itu selalu ramai oleh pelanggan tetap, nelayan tua yang butuh kopi hitam pahit, ibu-ibu yang nongkrong sambil gosip, dan beberapa mahasiswa dari kampus kecil dekat dermaga.
Pharita berdiri di balik meja bar, lengan bajunya digulung, rambutnya diikat seadanya. Gerakannya cepat, terlatih. Ia bukan tipe yang suka basa-basi dengan pelanggan, tapi orang-orang tetap datang karena kopi buatannya enak dan suasana kafe terasa akrab.
Sore itu harusnya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Pharita hanya fokus membersihkan gelas, mendengarkan deru kipas angin tua di langit-langit, dan sesekali menegur karyawan magang yang salah hitung pesanan.
Sampai bel di atas pintu berbunyi.
"Kring..."
Pharita mendongak, refleks menyambut. Tapi kata-kata yang harusnya keluar terhenti di tenggorokan.
Sosok yang berdiri di ambang pintu membuat seluruh udara di kafe seakan berhenti bergerak.
Ahyeon.
Bukan Ahyeon yang dulu ia kenal sebagai gadis glamor dengan gaun cantik, senyum manis, dan tawa yang bisa membuat ruangan terang. Yang berdiri sekarang berbeda, Ahyeon yang sekarang mengenakan hoodie kebesaran warna abu-abu, rambut sedikit berantakan, wajah pucat, mata sembab seolah kurang tidur. Tangannya meremas resleting hoodie, seperti ingin menutupi sesuatu.
Pharita mengedip cepat, otaknya mencoba menyangkal. Tapi jelas sekali, itu dia. Orang yang pernah ia cintai habis-habisan, lalu hilang tanpa jejak.
Keheningan kafe hanya diisi bunyi sendok jatuh dari tangan karyawan magang. Pelanggan lain ikut menoleh, sebagian berbisik pelan.
Ahyeon melangkah masuk, matanya berkeliling gugup, sebelum akhirnya berhenti tepat pada Pharita. Tatapan itu... tatapan yang dulu membuat Pharita merasa jadi satu-satunya orang di dunia. Sekarang malah menusuk seperti duri.
"...Hai," suara Ahyeon pelan, hampir tak terdengar.
Pharita menegakkan badan. Dadanya sesak, tapi wajahnya tetap datar. "Kamu... ngapain di sini?"
Ahyeon menelan ludah. Ada jeda panjang sebelum ia melangkah maju, menutup pintu di belakangnya. Hoodie kebesarannya bergeser sedikit, dan di balik kain tipis itu, samar-samar terlihat perut yang mulai membulat.
Mata Pharita otomatis turun ke sana. Tubuhnya kaku, otaknya menolak apa yang dilihat.
Ahyeon buru-buru merapatkan hoodie, seakan sadar arah pandangan itu. Nafasnya tercekat, lalu akhirnya ia berkata dengan suara yang nyaris pecah:
"Aku... butuh tempat, Rita."
Suasana kafe berubah aneh. Obrolan pelanggan menurun jadi bisik-bisik, beberapa malah sengaja melirik ke arah pintu. Pharita bisa merasakan semua tatapan orang, tapi yang paling menusuk hanya satu, tatapan Ahyeon.
Mereka berdiri saling berhadapan, jarak beberapa meter saja, tapi seakan ada jurang yang tak bisa diseberangi.
"Tempat?" Pharita akhirnya membuka mulut. Suaranya dingin, hampir sinis. "Bukannya kamu punya rumah besar, keluarga kaya, hidup nyaman? Kenapa harus datang ke sini?"
YOU ARE READING
Reuni
FanfictionCerita ini sepenuhnya fiktif dan merupakan hasil imajinasi penulis. Nama, tempat, dan kejadian yang muncul di dalam cerita tidak ada hubungannya dengan orang atau peristiwa nyata.
