Jakarta, 16 Mei 2000
Hujan malam itu turun deras, seperti tak ingin berhenti. Udara dingin menusuk tulang, dan kabut tipis menyelimuti jalanan sempit di pinggiran Jakarta. Lampu jalan berkedip-kedip, memantulkan cahaya pucat di genangan air. Seorang perempuan tampak sedang berjuang melahirkan dua jantung dalam tubuhnya. Sebuah klinik bersalin tua yang dihuni oleh seorang bidan dengan dua perawatnya. Perasaan panik menghantui perempuan itu setelah mengetahui anaknya kembar dengan jenis kelamin perempuan.
"Kembar...Perempuan" bisik bidan tua ketelinga perempuan itu.
Namun, pria yang menemaninya hanya mendengar kata kembar menatapnya dengan senyuman bahagia. Ia pun memikirkan dua nama bayi laki-laki.
"Raja dan Rama" terlontar dua nama dari mulut laki-laki itu. Ia terlihat sangat bahagia menantikan kehadiran keduanya. Kakinya pun melangkah begegas keluar klinik, nsmun langkahnya terhenti. Satu setengah jam perjuangan perempuan itu akhirnya tangisan bayi pertama terdengar.
Seketika pria yang merupakan ayah bayi itu membalikkan badan dan mendekat kearah suara tangis bayi. Ia terkejut menyaksikan bahwa bayi yang lahir adalah perempuan.
"What ?" kening pria itu berkerut.
Ada gurat kecewa dengan kenyataan didepan matanya. Ia pun mendekat memastikan bahwa bayinya perempuan. Tanpa pikir panjang Ia pun pergi meninggalkan perempuan yang masih telah berjuang dengan bayi kedua. Tidak terdengar suara tangisan.
"Ada masalah dengan bayiku ?" ucap perempuan itu memandangi bayi kedua.
"Tenanglah" sahut bidan berusaha menghibur.
Hingga perempuan itupun mendekap dua bayi kembarnya, sementara ayah kedua bayi itu memilih meninggalkan klinik tanpa menyentuh sedikitpun. Perempuan itupun tidak mencari tahu dimana suaminya berada, Ia sudah mengetahui bahwa bayi laki-laki yang diinginkannya.
***
Seorang perempuan berlari tergesa di bawah payung hitam. Nafasnya tersengal, matanya sembab. Di dadanya, ia menggendong dua bayi mungil yang terbungkus selimut wol lusuh, keduanya menangis pelan, seakan ikut merasakan kegelisahan sang ibu.
Panti Asuhan Bina Kasih terlihat dari kejauhan. Pintu kayunya yang kusam memantulkan kilatan cahaya dari petir yang menyambar. Perempuan itu berhenti di depan pintu. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu besi kecil di pagar. Ia memandang kedua bayi itu bergantian. Mata mereka, walau masih buram, memancarkan kehangatan yang seolah ingin menahan kepergiannya.
"Aishwa... Aishya..." bisiknya, menahan isak. "Maafkan Mama..."
Suara guntur menggelegar, membuat bayi-bayi itu terkejut dan menangis lebih keras. Air mata sang ibu bercampur dengan tetesan hujan di pipinya. Ia mencium kening keduanya satu per satu, lama, seperti ingin mengukir rasa cinta itu untuk terakhir kalinya.
Langkahnya goyah saat ia mengetuk pintu. Tak menunggu lama, ia meletakkan kedua bayi itu di keranjang rotan kecil yang sudah ia bawa, menaruh selembar surat di atas selimut:
"Tolong rawat mereka. Namanya Aishwa dan Aishya. Aku mencintai mereka... lebih dari hidupku sendiri."
Dari kejauhan, suara langkah kaki mendekat, penjaga panti yang terbangun karena ketukan pintu. Perempuan itu mundur beberapa langkah, lalu berlari masuk ke gelapnya malam, menghilang di balik tirai hujan.
Saat pintu dibuka, penjaga panti hanya menemukan dua bayi kembar yang saling menggenggam tangan, terbaring di keranjang. Di luar sana, hujan masih turun, membawa pergi jejak terakhir perempuan itu. Ia meninggalkan misteri yang akan mengubah hidup dua bayi tersebut selamanya.
ВЫ ЧИТАЕТЕ
Another Aishwa
Подростковая литератураAishwa tumbuh menjadi wanita anggun, dengan hati penuh empati. Ia memilih jalan kedokteran, menyalakan cahaya harapan bagi mereka yang terluka. Sementara Aishya, dengan jemari yang terbiasa menari di atas kertas, menemukan pelariannya dalam tulisan...
