Matahari siang itu bersinar terang di atas halaman SMA Seongmun. Spanduk berwarna cerah terpasang di pintu gerbang, menyambut para orang tua yang datang menghadiri acara tahunan sekolah. Suasana ramai, penuh tawa dan percakapan, membuat jantung Lee Leo berdetak makin cepat.
Ia berdiri di balik panggung aula, merapikan dasinya sambil menarik napas panjang. Hari ini, ia akan tampil di depan banyak orang, membawakan proyek kelasnya. Rasa gugup bercampur antusias memenuhi dadanya, tapi ada satu hal yang membuatnya tenang: ayah, ibu, dan adiknya sedang dalam perjalanan ke sekolah.
"Pasti mereka sebentar lagi sampai. Sangwon pasti bakal teriak paling kencang begitu lihat aku di panggung. Aku nggak boleh bikin mereka kecewa."
Disaat yang bersamaan, Mobil keluarga Lee melaju tenang di jalan siang itu. Suasana cerah, pepohonan di pinggir jalan bergoyang diterpa angin.
Di kursi belakang, Lee Sangwon menempelkan wajahnya ke jendela, melihat ke luar dengan mata berbinar.
“Hyung pasti gugup banget sekarang, ya,” katanya sambil terkekeh, membayangkan ekspresi kakaknya.
Ibu yang duduk di sampingnya tersenyum. “Nanti begitu sampai, jangan godain Hyungmu. Dia sudah cukup gugup.”
Ayah yang menyetir ikut tertawa kecil. “Hari ini pasti hari besar untuk Leo. Ayah bangga sekali sama dia.”
Sangwon mengangguk mantap, lalu mengepalkan tangannya. “Aku juga bangga, Ayah. Aku bakal teriak paling keras pas Hyung tampil. Aku janji!”
Mobil melaju melewati persimpangan besar. Semua terasa biasa—sampai tiba-tiba, suara klakson panjang memecah udara.
PRIIIITTTTTT—!!!
Ayah menoleh ke kanan, wajahnya langsung pucat. Dari arah berlawanan, sebuah truk kontainer besar melaju kencang, remnya jelas tidak berfungsi.
“ASTAGA—!!” Ayah refleks memutar setir, tapi semuanya terjadi terlalu cepat.
Teriakan ibu menggema di dalam mobil. “SANGWON PEGANGAN!!”
Sangwon yang panik menutup matanya, tubuhnya terhentak ke depan saat mobil ditabrak keras. Suara besi beradu memekakkan telinga, kaca depan pecah berkeping-keping, sabuk pengaman menahan tubuh mungilnya dengan hentakan kasar.
KRAAAAK!!
Dentuman keras seakan menghancurkan dunia. Rasa sakit menyebar di seluruh tubuh Sangwon, kepalanya terbentur sisi jendela. Penglihatannya kabur, suara-suara menjadi samar.
“Ayah...? Ibu...?” suaranya lirih, tapi tidak ada jawaban.
Darah terasa hangat di pelipisnya. Cahaya matahari yang masuk dari kaca pecah perlahan meredup. Dunia yang tadi penuh warna kini memudar menjadi hitam pekat.
“Hyung... tolong...” bisiknya sebelum kesadarannya menghilang.
Di tengah jalanan yang ramai, sirene mobil polisi dan ambulans mulai terdengar dari kejauhan, tapi bagi keluarga Lee, semuanya sudah terlambat.
Baru saja ia mencoba tersenyum, seorang guru berlari kecil masuk ke ruang tunggu belakang panggung. Wajahnya pucat, matanya penuh kebingungan.
“Leo...” panggilnya dengan suara yang bergetar.
Leo menoleh, heran. “Ya, Pak? Ada apa?”
Guru itu menelan ludah, lalu menghampiri Leo. Tangannya meremas bahu Leo dengan hati-hati, seakan takut kata-kata yang akan keluar akan menghancurkan anak itu.
“Ada telepon... dari pihak kepolisian.”
Leo mengernyit, hatinya tiba-tiba terasa tidak enak. “Polisi? Untuk saya?”
Guru itu menarik napas panjang, matanya menatap Leo penuh iba. “Mobil keluargamu... mengalami kecelakaan di jalan tol menuju sekolah. Mereka sudah dibawa ke rumah sakit.”
Leo terpaku. Kata-kata itu tidak langsung masuk ke kepalanya. “A... apa maksud Bapak? Ayah... Ibu... Sangwon?” suaranya nyaris pecah.
Guru itu tidak menjawab, hanya menunduk. “Kamu harus segera ke rumah sakit.”
Dalam sekejap, darah Leo seakan berhenti mengalir. Tangan dan kakinya bergetar hebat. Buku program yang ia pegang jatuh ke lantai dengan bunyi pelan. Tanpa berpikir, ia berlari keluar aula, menembus kerumunan murid, lorong sekolah, lalu halaman depan. Nafasnya tersengal, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Tidak mungkin... ini pasti salah... Sangwon pasti baik-baik saja... Ayah sama Ibu nggak mungkin..."
---
Rumah sakit penuh dengan suara langkah kaki, aroma obat, dan sinar lampu putih yang menusuk mata. Leo tiba dengan napas terengah, dadanya naik turun cepat.
Seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat, wajahnya serius. “Kamu keluarga pasien Lee?”
Leo mengangguk cepat, matanya memohon. “Saya... saya anaknya. Tolong katakan mereka baik-baik saja...”
Dokter itu menatapnya dalam-dalam, lalu perlahan menggeleng. “Ayah dan ibumu... meninggal di tempat. Benturan terlalu keras, mereka tidak sempat diselamatkan.”
Seakan ada palu besar yang menghantam kepala Leo. Dunia seketika runtuh. Kakinya goyah, hampir jatuh kalau tidak bersandar ke dinding. Air matanya menggenang, dadanya terasa sesak. "Tidak... jangan... ini bohong..."
“Tapi...” suara dokter itu berlanjut, “adikmu, Lee Sangwon... masih hidup. Dia mengalami luka parah di kepala, tapi berhasil melewati masa kritis. Hanya saja...” ia menunduk, “syaraf matanya rusak. Dia tidak akan bisa melihat lagi.”
Leo terdiam. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia memukul dadanya dengan tangan gemetar, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Kenapa harus Sangwon? Dia masih kecil... kenapa bukan aku saja?"
---
Ketika akhirnya diizinkan masuk ke ruang perawatan, Leo melihat adiknya. Sangwon terbaring di ranjang putih, wajahnya pucat, kepala diperban. Kedua matanya tertutup, tapi ada air mata menetes di sudutnya.
“Hyung...” suara itu lirih, pecah, tapi cukup untuk menusuk jantung Leo. “Gelap sekali... aku nggak bisa lihat apa-apa...”
Leo langsung meraih tangan adiknya, menggenggam erat. Tangannya sendiri gemetar hebat. “Won-ah... Hyung di sini. Jangan takut.” Air matanya jatuh di punggung tangan Sangwon. “Hyung janji... mulai sekarang Hyung nggak akan ninggalin kamu.”
Sangwon menggigit bibirnya, suaranya pecah. “Hyung... Ayah sama Ibu di mana? Mereka baik-baik aja, kan?”
Pertanyaan itu menusuk Leo lebih dalam daripada apapun. Ia tidak sanggup menjawab. Dadanya sesak, suaranya hilang. Akhirnya ia hanya memeluk adiknya erat, menahan tangis sekuat tenaga. "Bagaimana aku harus bilang... kalau mereka nggak akan pernah datang lagi?"
---
Beberapa hari kemudian, hujan turun rintik di pemakaman. Dua peti kayu perlahan diturunkan ke dalam tanah. Suara doa bergema, tapi bagi Leo hanya terdengar samar, tertelan oleh isak tangisnya sendiri.
Di sampingnya, Sangwon berdiri dengan tatapan kosong, matanya yang dulu cerah kini hampa. Jemarinya gemetar, mencari-cari genggaman.
Leo segera meraih tangan itu, meremasnya erat. Suaranya bergetar, serak karena terlalu sering menangis.
“Won-ah... mulai sekarang cuma ada kita berdua. Hyung tahu kamu takut... Hyung juga takut. Tapi Hyung janji, Hyung bakal jaga kamu. Apa pun yang terjadi, Hyung nggak akan biarin kamu sendirian.”
Air mata Sangwon akhirnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk Leo erat.
Langit mendung, tanah basah, dan wangi bunga duka menyelimuti mereka. Siang yang seharusnya penuh kebanggaan bagi Leo berubah menjadi awal dari luka panjang—sebuah janji tanpa akhir, yang akan menjadi beban sekaligus alasan Leo untuk terus bertahan hidup.
TBC
Holla mimin balik lagi nih bawa cerita yang kali ini Sangwon X Junmin nih...aku suka banget interaksi mereka pas di Like Jennie....
Hope you like it guysss
Jangan lupa vote dan komen nya yaaa
YOU ARE READING
Ketika Gelap Menemukan Cahaya
FanfictionKecelakaan itu merenggut kedua orang tua Lee bersaudara. Lee Sangwon selamat, tapi kehilangan penglihatannya untuk selamanya. Dan Lee Leo-kakak sekaligus satu-satunya keluarga yang tersisa-bersumpah tidak akan pernah melepaskan tangan adiknya. Namun...
