📍 Tokyo, Japan
"Baru pulang kamu?!" Teriak seorang wanita paruh baya, pada suaminya. "Kamu tu peduli gak sih sebenernya hah!?"
Serangan bertubi tubi datang dari mulut seorang istri. Dia yang harusnya pulang ingin disambut, malah harus menahan amarah yang baru saja dipancing "aku kerja ma"
"Aku tau ya kerja kamu gak sampe jam segini..."
Ia menghembuskan nafas, mencoba tidak terpancing oleh emosi istrinya "aku lembur..."
"Egois sih kamu" ucap istrinya itu mampu membangkitkan emosinya pada akhirnya. Dia juga tidak mau kerja lembur sebenarnya. Tapi lembut kali ini benar benar tidak bisa dicancel, dan mengharuskan dia untuk ikut.
"Aku gak bisa cancel! Kamu pikir itu pilihan aku!" Suaranya mulai naik, mengimbangi lawan bicara. Mata sang istri bertambah tersulut.
"Eh jangan buat itu jadi alesan ya!" Istrinya menunjuk nunjuk muka sang suami "kamu pikir aku gak kerja hah! Sekarang giliran kamu yang jagain dia!"
"Aku gak bisa cancel!" Bentak lagi sang suami.
"ITU ANAK KAMU! hari ini giliran kamu yang jagain dia oniel!" Bentak indah, penuh emosi. Dia disini merasa paling berkontribusi "kamu dari tadi alasannya cuma kerja kerja kerja aja, aku..." "Kamu gak lihat aku, aku juga kerja tapi gak ngeluh kayak kamu! Kamu juga udah kayak lepas tangan tentang oline! Itu anak kamu!" Indah semakin meninggikan suaranya.
"Aku gak lepas tangan! Kamu pikir aku kerja buat siapa kalo gak buat dia indah!"
"Ya terus gimana sama matanya! Kamu kerja aku kerja, siapa yang nyari! Kamu dari Senin Ampe Sabtu kerja Mulu! Minggu pun kadang gak ada waktu! Itu anak kamu! Kasian dia gak bisa lihat!"
Isakkan terdengar dari balik pintu kamar seorang gadis. Anak mereka yang sudah kenyang menelan umpatan umpatan dari orang tuanya. Dia terisak tanpa mau mengeluarkan suara kencang.
Semuanya terasa sangat menyakitkan, dimana dia menangis tapi tidak ada satupun air mata yang jatuh. Dia tidak lagi bisa merasakan hal hal yang sebelumnya bisa dia rasakan. Oline luruh ke lantai, dia menahan tangisannya sekuat tenaga, ditemani pertengakaran diluar kamar yang makin lama makin nyaring ditelinga.
"Aku... Gak mau kalian berantem, aku gak papa begini dulu. Jangan pikirin aku dulu" kata hatinya yang ingin sekali dia teriakkan lantang. Tapi hanya menjadi andai saja.
Oline, gadis yang baru saja mendapatkan musibah. Dia harus menanggung hal berat diusianya yang masih sangat muda. Penglihatannya hilang beberapa Minggu yang lalu, oleh sebuah insiden ditengah kebahagiaan.
Oline awas! Kak berdarah kak!
Line? Kak gimana ini!?
Line! Penglihatannya samar samar menghilang. Suara teman temannya yang panik juga memudar, semuanya gelap. Hingga saat ini.
Kejadian yang membekas dan tentu saja tidak bisa dia salahkan. Oline hanya bisa menerima takdirnya. Menjadi gadis dengan penglihatan yang gelap.
---
Hari Minggu, tepat setelah pertengkaran malam itu. Akhirnya mereka menemukan jalan tengah untuk anak mereka. Oline perlahan turun dari mobil yang dia tumpangi, suara burung burung menyapa indra pendengarannya. Aroma khas desa, aroma tanah terkena air menyapa indra penciumannya.
Tapi tidak dengan indra penglihatannya. Oline tidak bisa merasakan indra itu. Dan harus memakai tongkat sebagai alat bantu dia jalan.
"Papa pastiin. Kamu udah bisa lihat line, satu... Satu tahun" nada tersiksa oniel ketika bicara itu, oline bisa merasakannya. "Kasih papa waktu satu tahun ya... Papa janji" ada sedikit cekatan pada nada akhirnya.
YOU ARE READING
SUNDAY (日曜日)
FanfictionImpian yang menghancurkanku, membuatku menemukan penggantinya... 愛してます (aku cinta kamu)
