ೃ❀𓈒𓏶ྀིㅤ1-

41 5 4
                                        

Matahari sore menembus sela-sela jendela besar gedung Fakultas Sastra, memantulkan cahaya ke meja kayu tempat BoBoiBoy Sopan duduk sambil merapikan buku-bukunya. Ia seorang mahasiswa dengan tutur kata yang begitu baku hingga teman-temannya kadang bercanda bahwa ia seperti membaca dari novel klasik setiap kali berbicara.

“Saya kira, pertemuan ini cukup sampai di sini. Terima kasih sudah meluangkan waktu,” ucapnya pelan kepada teman sekelompoknya.

Namun, begitu keluar dari ruang diskusi, pandangannya langsung tertuju pada satu sosok yang melintas di koridor (Name). Mahasiswi Fakultas DKV itu tampak anggun seperti biasa, gaun flowy warna ungu muda dengan pita kecil di pinggang, rambut panjang cokelatnya tergerai lembut, dan langkahnya seolah menari di udara. Ada sentuhan vintage dalam penampilannya, tapi juga nuansa seperti peri dari negeri dongeng.

Sopan hanya berdiri diam. Ia tersenyum tipis, lalu memalingkan wajah begitu (Name) sempat menoleh. Dan seperti hari-hari sebelumnya, ia tidak juga memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya kepada gadis itu, bukan karena malu tapi tentang rasa tidak percaya dirinya yang terus-menerus berdatangan jika bersama wanita yang dirinya sukai itu.

     ✲ ⁛ ☪︎ ✲ ⁛     .˳˳.      .˳˳.     ⁛ ✲ ☪︎ ⁛ ✲  

Di rumah, suasana selalu sama setiap kali ia pulang setelah bertemu (Name). Gentar, abangnya yang hanya terpaut setahun, langsung bisa membaca ekspresi itu hampir lebih dari setahun begini terus yang Gentar lihat setiap Sopan pulang kelas kuliah.

“Kenapa murung lagi kamu pan?” tanya Gentar dengan nada yang lebih mirip interogasi polisi daripada kepedulian ke adiknya itu, meskipun sambil ngerokok dan main game handphonenya tapi Gentar masih tetep bisa ngeliat jelas tampang murung adiknya itu.

Sopan menaruh tasnya, menghela napas, lalu duduk. “Saya… belum bisa membicarakan perasaan saya kepada dia,” ucapnya, nada bakunya bahkan tidak berubah meski sedang lesu.

Gentar mendecak. “Ya ampun, sudah setahun begini-begini saja. Tiap hari nganterin dia ke acara kampus, beliin barang, ngangkatin buku, tapi nembak kagak.”

Lalu Sopan hanya menatap lantai, seolah mencari jawaban di antara serat karpet. “Saya menunggu waktu yang tepat.”

“Tepat dari Hongkong!” bentak Gentar, bangkit dari sofa dan mematikan handphonenya dia ga perduli mau di report di game nya itu juga, karena udah kepalang kesel. “Gua yang lihat adek gua ini udah jadi kurir barang gratis buat cewek, sementara dia… entah sadar atau enggak kalau lu suka sama dia anjing.”

     ✲ ⁛ ☪︎ ✲ ⁛     .˳˳.      .˳˳.     ⁛ ✲ ☪︎ ⁛ ✲  

Keesokan harinya, Gentar sudah tak tahan lagi. Ia keluar dari kampus Tekniknya tanpa ganti baju masih dengan wearpack warna biru dongker penuh bercak oli di lengan dan langsung menuju Fakultas DKV.

(Name) sedang duduk di taman kecil depan gedung, memegang sketchbook. Ia kaget saat Gentar berdiri di depannya “Ehh… ada perlu, Mas?” tanyanya sopan.

“Pindah ke kantin atau yang enak buat ngobrol nya dah. Gua nggak mau lama-lama di DKV,” kata Gentar datar.

Entah kenapa, (Name) menurut. Mereka pun berpindah ke kantin DKV, duduk di sudut agar tak terlalu mencolok. Lalu Gentar menatapnya serius. “Lu bisa nggak langsung pacaran aja sama adek gua? Gua muak banget dengerin dia curhat setahun lebih nggak maju-maju.”

(Name) terdiam beberapa detik. Ekspresinya bingung bercampur kaget. “Maaf… adek kamu yang mana, ya?” karena dia aja bahkan ga kenal laki-laki yang lagi ngobrol sama dia ini siapa

Gentar menghela napas berat. “Tinggi segini, rambut coklat ada putih putih nya dikit kaya gua tapi dia rapi kayak mau sidang tiap hari, ngomongnya ‘saya-kamu’ kaya pegawai negeri, suka bawa buku kemana-mana, terus sering nemenin lu ke acara atau beliin barang oh terus pakai kacamata juga anaknya karena kebanyakan baca buku jadi rabun beliau.”

“Ohh…” (Name) mengangguk kecil perlahan, lalu menutup mulutnya menahan senyum. “Jadi dia suka sama aku?” dan sedikit nada berbicaranya di kecilkan biar hanya Gentar dan dirinya yang denger percakapan itu.

“Yaelah, masa nggak sadar?!” Gentar menepuk meja kecil di antara mereka, untungnya kantin cukup berisik sehingga tidak terlalu menarik perhatian kalau sepi bisa-bisa (Name) malu karena tiba-tiba ngobrol sama cowok yang di depannya nepuk meja kantin tiba-tiba.

“Bukan nggak sadar… tapi dia nggak pernah ngomong ke aku,” jawab (Name) pelan. Ada nada lembut di suaranya, bahkan ketika bicara dengan Gentar yang keras. “Sopan itu… baik sekali. Kalau aku harus jujur, aku juga senang kalau dia ada di dekatku. Tapi aku mau dengar langsung dari dia, bukan dari orang lain.”

Gentar mendengus, tapi matanya sedikit melunak. “Yaudah. Jangan lama-lama tapi, males gua dengerin adek gua ngeluh gabisa ngobrol sama lu lah hari ini atau apalah padahal tinggal ngobrol doang begini simpel.” dan dirinya mulai berdiri dari bangku yang dia duduki tadi itu bahkan mukanya masih kelihatan galak kaya sebelumnya

Gadis itu tersenyum samar. “Baiklah terimakasih banyak ya, Mas. Tapi jangan terlalu marah-marah. Adek kamu itu… manis sekali orangnya sekali lagi terimakasih banyak karena sudah ngasih tau aku tentang hal ini.”

Gentar hanya diam di posisi dia berdiri tadi, mengangguk singkat, lalu pergi tanpa menoleh. Dalam hati, ia berharap Sopan akan segera tahu bahwa jalan untuk mengungkapkan perasaannya kini terbuka bahkan mungkin lebih lebar dari yang ia kira meskipun di bantu abangnya itu, tapi gentar bodoamat. bodo amat. BODO AMAT. daripada dia dengerin sopan ngeluh lagi lebih capek daripada disuruh ngerjain skripsi nya itu.

18.06 -Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang