0: Prolog

8 0 0
                                        

Langit sore itu tampak sendu. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menanti sesuatu yang tak terelakkan. Di depan gerbang besi hitam berukir lambang Lysvard University, Elena Voss berdiri memeluk map merah maroon berisi dokumen orientasi. Ransel kecil menggantung di pundaknya, dan angin tipis menggoyangkan helaian rambutnya yang tergerai lepas.

Akhirnya.
Satu kata itu berputar di benaknya, bersamaan dengan tatapan yang tertuju pada bangunan megah di kejauhan. Universitas ini terkenal karena reputasinya, tempat bagi para seniman, pemikir, dan tokoh berpengaruh. Namun, bagi Elena, ada sesuatu yang tak terlihat... sesuatu yang mengintai dari balik keindahan itu.

"Elena Voss?"

Sebuah suara memecah lamunannya.

Seorang perempuan berdiri di hadapannya, clipboard di tangan, wajahnya tampak ramah, tapi sorot matanya mengisyaratkan ketegasan.

"Aku Amelia Clarisse Mendez. Ketua Fakultas Seni," katanya. "Kau Elena, kan?"

Elena mengangguk cepat. "Iya. Baru pindahan..."

"Ikut aku. Aku tunjukkan keliling kampus." Amelia langsung berbalik, tanpa menunggu balasan.

Elena menarik napas, lalu menyusul. Sepanjang jalan, Amelia menjelaskan arah gedung, ruang-ruang penting, hingga aturan-aturan kecil yang "tidak tertulis tapi sebaiknya diikuti."

"Lysvard itu tempat yang indah, tapi... tidak semua orang di sini bersinar terang," ucapnya tenang.

Elena belum sempat bertanya maksudnya, ketika sorakan dari arah lapangan terdengar.

Mereka melintasi halaman olahraga. Seorang pria tinggi dengan seragam latihan dan rambut acak berdiri di tengah lapangan, tertawa bersama beberapa mahasiswa. Tatapannya tajam, tapi senyumnya santai, kontras yang menarik perhatian.

"Yang itu, Aiden Cross. Ketua bidang olahraga." Amelia menoleh pada Elena. "Terlihat santai, tapi jangan remehkan. Dia tahu kapan harus serius."

Aiden melambai saat melihat mereka, lalu mengarahkan pandangannya ke Elena.

"Mahasiswa baru?" serunya. "Semangat ya!"

Elena hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Aiden mengacungkan jempol sebelum kembali bermain.

Mereka melanjutkan ke gedung seni, di mana suara piano mengalun lembut dari dalam.

Di aula yang luas dan tenang itu, seorang pria duduk di depan grand piano hitam. Jarinya menari di atas tuts dengan begitu halus, seolah ia sedang menghipnotis nada-nada itu sendiri. Melodi yang keluar indah.

Ketika lagu berhenti, pria itu berdiri dan menatap Elena dengan senyuman.

"Ren Arvianne," katanya. Suaranya rendah dan dalam. "Ketua bidang seni musik."

Ia mendekat, dan senyumnya nyaris tak terdeteksi.
"Selamat datang di dunia kami, Elena."

Sesuatu dalam tatapannya membuat Elena ingin berpaling. Tapi tubuhnya diam. Tak bergerak. Tak berani.

Beberapa menit kemudian, Amelia mengajaknya menuju aula utama kampus. Suara debat terdengar bahkan sebelum mereka membuka pintu.

"Kalau sistem ini tidak adil, maka ubah. Mahasiswa berhak bersuara!"

Seorang pria berdiri tegak di tengah ruangan. Rambut cokelat gelapnya disisir rapi, tubuhnya dibalut jas abu-abu dengan emblem presiden kampus tersemat di dada.

"Noah Carter," Amelia berbisik. "Presiden mahasiswa. Terlalu rasional, tapi bisa diandalkan."

Noah akhirnya melihat ke arah pintu. Pandangannya bertemu dengan Elena, dan seketika nada suaranya berubah. Ia melangkah mendekat.

"Kau mahasiswa baru?" tanyanya, tenang.

Elena mengangguk pelan. "Iya..."

Tatapan Noah menyipit sedikit, lalu mengangguk.
"Aku yakin... kau akan membawa perubahan ke tempat ini."

Tur kampus berakhir di koridor fakultas multimedia, yang dipenuhi poster warna-warni dan lampu gantung dekoratif. Di tengah keramaian itu, seorang gadis dengan hoodie cerah menghampiri mereka dengan semangat berlebihan.

"Hey hey! Mahasiswa baru!" serunya. "Aku Tessa Rowe. Si paling sibuk, paling cerewet, dan paling seru di Lysvard!"

"Tessa, jangan buat dia lari," komentar Amelia datar.

Tessa tertawa sambil merangkul Elena. "Tenang aja, Len. Dunia multimedia keras, tapi kita seru banget. Kita bakal cocok."

Elena hanya tertawa kecil, mulai merasa... mungkin tidak seburuk itu.

Tapi...

Malam hari.

Bulan menggantung di atas langit Lysvard. Dari balkon kamarnya di asrama mahasiswi, Elena memandangi kampus yang perlahan tenggelam dalam sunyi.

Ada sesuatu di tempat ini. Bukan hanya tentang ruang kelas, musik, atau debat kampus. Tapi... sesuatu yang tersembunyi. Dalam diam. Dalam pandangan.

Dan di salah satu sudut kampus, dari jendela ruang musik, sepasang mata memperhatikannya dalam diam.

Ren Arvianne menatap langit malam, senyum tipis menggantung di bibirnya.

"Selamat datang, Elena Voss."

You Call It ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang