Hanya ada api yang berkobar, sejauh mata memandang. Dengan ganas melahap segala hal disekitarnya. Anak itu, mengerjapkan matanya beberapa kali dengan lemah. “Ini..ini salahku...semua salahku..tolong..” Kesadaran anak itu kemudian lenyap.
...
“Nak? Kau baik baik saja?” Seorang pria berusaha membangunkannya.
Anak itu mulai membuka matanya, perlahan dengan lemah. Kini anak itu bersandar, bersandar lemah dengan seluruh luka-luka itu di tubuhnya, bersandar di tembok rumah tua itu dengan tak berdaya.
“Oi, kau baik baik saja? Kenapa kondisimu bisa sampai separah ini? Orangtuamu mana? Rumahmu dimana? Namamu siapa?” Desak pria itu dengan seribu pertanyaan yang ditujukan pada anak itu. Anak itu hanya terdiam, dengan tatapan kosong yang membuat pria itu semakin khawatir—dan mungkin sedikit takut. “...nak?”
“Aku...aku siapa?” Anak itu mulai bicara. Sebentar, ‘aku dimana’ katanya, apa anak itu tidak tahu siapa dirinya?
“Kau..tidak tahu siapa dirimu? Orangtuamu mana?”
“Orangtuaku...dimana? Aku...aku ada dimana?” Anak itu semakin kebingungan.
Pria itu jelas menunjukkan kekhawatiran di wajahnya. Finalnya pria itu berkata pada anak yang kebingungan itu. “Kau mau ikut denganku? Aku akan menyelamatkan mu, bagaimana?”
...
Pria itu menggendong anak itu dengan rumahnya sebagai tujuan.
“Setelah ini, aku akan mengadopsi mu! Aku tidak tahu siapa namamu, tapi kau tidak akan menolak jika aku memberikanmu nama, kan? Tapi...aku minta maaf, karena tak bisa memberikan margaku padamu, jujur aku sendiri membencinya. Karena itu, sebagai gantinya, aku akan memberikan nama yang keren untukmu!”
“Unn...” Anak itu hanya menjawab lemah disertai anggukan kecil. Mendadak suasana menjadi canggung. Selama perjalanan pulang ini, pria itu tak pernah berharap akan suasana yang canggung.
“F-fey! Ya, Fey! Itu nama yang keren kurasa, kau mau tahu artinya? Artinya itu adalah seseorang yang misterius! Kurasa itu akan cocok untukmu, mengingat aku tak tahu dirimu yang sebenarnya. Bagaimana? Kau suka nama itu kan? Aku akan memberikannya padamu!”
Bukannya mendapat jawaban sesuai ekspektasi nya, pria itu malah mendapatkan rasa-rasa basah hangat di punggungnya. “Oi, kau mengompol? Tidak...basahnya dibagian atas..kau ileran? Eh- jangan jangan...”
Dan yang pria itu takutkan terjadi. Memanggil anak itu berkali-kali dan tidak ada jawaban, pria itu lekas memeriksanya dan menemukan bahwa hidung anak itu mimisan. Bukan hanya itu, anak itu juga memuntahkan darah dari dalam mulutnya tanpa sadar. Terlebih, matanya mulai terpejam, kesadarannya melemah.
“Bertahanlah! Kumohon bertahanlah! Kita akan mengubah tujuan, kita ke rumah sakit sekarang! Aku tahu kau anak yang kuat, Fey. Jadi...bertahanlah!!”
YOU ARE READING
Infinity Origin
FantasySinopsis: Fey, seorang anak amnesia yang ditemukan dalam keadaan tidak memiliki apapun. Namun siapa sangka, di dalam tubuhnya sendiri ternyata dia menyegel salah satu Blast yang merupakan Blast pertama. Dengan diadopsi oleh seorang pria bernama Tet...
