Udara sore di tepi Sungai Han selalu punya cara aneh untuk membuat pikiranku lebih bising dari biasanya.
Padahal tempat ini tenang. Terlalu tenang, malah. Air mengalir pelan. Langit berubah jingga. Orang-orang berjalan tanpa saling mengenal. Semua terlihat damai — kecuali isi kepalaku sendiri.
Dia berjalan di sebelahku.
Langkah kami selaras, tapi hati kami tidak pernah benar-benar terasa berada di tempat yang sama akhir-akhir ini. Tanganku kugantung di sisi tubuh, sengaja tidak kugerakkan mendekatinya. Bukan karena tidak mau… tapi karena aku lelah menjadi satu-satunya yang selalu lebih dulu meraih.
Aku menatap lurus ke depan. Kalau aku menoleh sekarang, aku tahu aku akan luluh lagi. Dan aku tidak boleh. Tidak dulu.
Sore ini dia yang meminta bertemu.
Bukan di apartemennya. Bukan di tempat biasa. Di sini.
Di Sungai Han.
Tempat yang menurutku selalu jadi tempat orang-orang mengatakan hal yang tidak ingin mereka katakan di tempat lain.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin ke sini?" tanyaku akhirnya, suaraku sengaja kubuat datar.
Aku tidak berani berharap jawabannya akan membuatku bahagia.
Ia bilang ia butuh bicara.
Dan tidak ingin melakukannya di tempat penuh kenangan.
Jawaban itu membuat dadaku mengencang sedikit.
Karena kalau seseorang menghindari kenangan... biasanya yang datang setelahnya adalah keputusan.
Aku sudah siap untuk kemungkinan terburuk sejak semalam.
Beberapa langkah kemudian dia berhenti.
Aku ikut berhenti di dekat pagar besi. Sungai terbentang di depan kami, luas dan dingin. Angin sore menerpa wajahku, tapi tidak sedingin perasaan yang sudah beberapa hari ini kupendam.
Lalu dia memanggilku.
Tentang semalam.
Tentang kata-kataku — bahwa aku merasa tidak dibutuhkan.
Jujur saja... aku menyesal mengatakannya.
Bukan karena itu tidak benar.
Tapi karena mengatakan kebenaran kadang terasa seperti membuka luka sendiri.
Aku menatap sungai, bukan dia. Kalau aku melihat matanya, aku bisa berubah pikiran sebelum dia selesai bicara.
Ia bilang ia mencintaiku diam-diam.
Kalimat itu membuatku otomatis menoleh.
"Mencintaiku diam-diam?"
Entah kenapa bagian itu justru yang paling menyakitkan.
Karena akhirnya semuanya masuk akal.
Semua ragu. Semua jarak. Semua momen saat aku merasa berdiri sendirian di tengah hubungan kami.
Bukan karena dia tidak cinta.
Tapi karena dia terlalu diam.
Aku bersandar pada pagar, menatap langit yang warnanya mulai berubah lebih dalam.
"Aku tidak pernah meminta hal berlebihan," kataku pelan. "Hanya sedikit pengakuan. Sedikit keberanian darimu."
Itu bukan tuntutan. Itu kelelahan.
Aku sudah lama mencintainya dengan cara yang jelas. Terbuka. Tidak pernah kusembunyikan. Bahkan mungkin terlalu jelas sampai kadang terlihat bodoh.
Dan yang paling melelahkan bukan menunggu.
![Mingyu Untuk Minghao [✓]](https://img.wattpad.com/cover/398699683-64-k394017.jpg)