Jejak yang Tertinggal

12 2 0
                                        

Pulau Jawa, Tahun 1676

Asap hitam menggulung pelan di langit sore, membentuk kabut pekat yang menggantung berat di atas hutan dan persawahan yang mengering. Matahari tergelincir rendah di ufuk barat, menyinari reruntuhan istana dengan cahaya merah darah. Bau mesiu dan kayu terbakar mengambang di udara, bercampur dengan aroma besi dari darah yang belum sempat mengering di pelataran batu. Burung-burung enggan berkicau. Angin enggan bertiup. Dunia seolah menahan napas, menyaksikan akhir dari sebuah warisan besar yang perlahan tenggelam dalam debu  sejarah.

Raka berdiri diam di tepi jurang kecil, di balik belukar semak berduri. Tubuhnya lusuh—jubahnya robek dan kotor, penuh debu dan abu sisa kebakaran. Kakinya berdarah, sandal kulitnya hilang entah di mana sejak ia lari semalam dari halaman istana yang dilalap api. Tapi matanya tetap tajam. Pandangannya menyapu cakrawala dengan kemarahan yang ditahan, tak bergeming walau dunia di hadapannya tengah runtuh.

Dulu, di sanalah berdiri istana keluarganya. Tempat ia tumbuh, belajar membaca naskah kuno, diajari menari, dan diajar berperang dengan keris dan tombak. Tempat ibunya menyuapinya bubur kacang sambil mengusap keningnya yang panas. Tempat ayahnya—Raja Adikara Mahawijaya—duduk di singgasana, memberikan petuah pada para abdi dan tetua desa. Tempat rakyat berkumpul di alun-alun saat panen tiba, membawa hasil bumi dan harapan akan masa depan yang tenteram.

Kini, hanya tersisa dinding yang hangus dan menara pengintai yang sudah diubah. Bendera VOC berkibar di puncaknya, putih-merah-biru, melambai-lambai seakan mengejek angin tanah Jawa yang pernah membela leluhurnya. Api yang membakar istana itu bukan dari senjata musuh semata, tapi juga dari tangan para bangsawan yang menjual tanah air mereka demi sekeranjang gulden dan janji kekuasaan semu.

"Aku sudah bilang pada ayah..." gumam Raka, suaranya nyaris tak terdengar, patah di ujung bibir yang kering. "Mereka tak datang untuk berdagang. Mereka datang untuk menguasai."

Tapi Raja Adikara terlalu percaya. Terlalu percaya bahwa perjanjian dengan VOC bisa menghindari perang. Bahwa pernikahan politik, pembagian rempah, dan penyerahan pelabuhan akan menjadi jembatan damai. Yang datang justru racun dalam jamuan, bayonet di balik bungkusan surat perjanjian, dan pengkhianatan dari saudara darah sendiri—terutama Adipati Sura Kertalaya, pamannya sendiri, yang kini duduk di meja para penakluk.

Raka menggenggam naskah lontar tua yang ia selamatkan dari ruang penyimpanan istana sebelum api menjilatnya. Lembar-lembar rapuh itu dibungkus dalam kain batik indigo dengan motif parang rusak—motif yang hanya dikenakan oleh keturunan raja. Di dalamnya tercatat silsilah keluarganya sejak era Singasari, hukum waris, dan satu surat wasiat yang belum sempat diumumkan: pengangkatan dirinya sebagai putra mahkota secara rahasia, tiga malam sebelum kematian ayahnya.

Tapi gelar itu kini tak berarti. Tak ada tahta untuk dipertahankan. Tak ada istana untuk diduduki. Yang tersisa hanya nama—dan nama itu akan diburu. Oleh VOC. Oleh para bangsawan pengkhianat. Bahkan mungkin oleh rakyatnya sendiri yang kini mengira bahwa sang pangeran telah kabur meninggalkan mereka saat perang meletus.

Dari kejauhan, suara langkah kuda terdengar menghantam tanah dengan ritme teratur. Raka menyipitkan mata. Enam penunggang kuda datang dari arah barat. Seragam mereka putih-abu, dengan topi lebar dan senapan laras panjang tergantung di bahu. Di belakang mereka, dua prajurit lokal membawa tombak panjang, mengenakan ikat kepala khas pasukan pengawal kolonial. Mereka menyisir desa-desa, mencari siapa saja yang tersisa—terutama sang pangeran yang kabarnya masih hidup.

Raka menyelinap perlahan, menyusuri lereng menuju selatan, menuju kawasan hutan yang lebat di bawah kaki Gunung Merbabu. Ia tahu jalur itu. Jalur yang digunakan para pelarian, para pertapa, dan para pemberontak. Jalur sunyi, yang hanya dikenal oleh mereka yang dibuang dunia dan menolak tunduk pada penjajahan.

Ikrar Cinta Dua DuniaStories to obsess over. Discover now