Namaku Icel. Anak bungsu.
Aku tidak ingat semua detailnya dengan jelas. Tapi aku masih ingat rasa dingin itu. Bau rumah sakit yang menusuk, lampu putih yang terlalu terang, suara langkah tergesa para perawat, dan tangisan anak-anak lain yang bercampur dengan tangisku sendiri.
Waktu itu umurku tujuh atau delapan tahun. Tubuhku kecil, kurus, tulang-tulang menonjol.
Mamaku Namanya Nadia Katanya aku memang sering sekali sakit. Kadang batuk keras sampai sesak, kadang demam tinggi yang tidak kunjung turun. Kadang perutku mula hingga aku tidak mau makan apa pun. Kadang kakiku bengkak, tiba-tiba tak bisa dipakai berjalan.
Mama pernah bilang itu semua mungkin karena waktu bayi aku kurang minum ASI. Aku lebih sering minum susu formula yang katanya mahal entah apa namanya, pediaSure atau apa. Dan aku juga sekali makan ayam goreng dari warung dekat rumah. Waktu itu belum ada ada yang tahu kalau mungkin dari situ semua bermula.
Orang dewasa sering bilang asam urat itu penyakit orang tua. Tapi aku, anak kecil yang masih duduk di bangku SD, sudah merasakannya. Kakiku sering ngilu, kaku, dan bengkak. Aku tidak bisa lari seperti anak-anak lain. Saat pelajaran olahraga, aku hanya duduk di pinggir lapangan. Melihat teman-teman bermain bola, berteriak, tertawa. Mereka bebas. Aku hanya bisa duduk sambil sesekali mengangkat kakiku sendiri, memijit pelan.
"Aku kuga mau ikut lari, Ma..."
Kadang aku bisikkan itu ke Mama. Kadang cuma dalam hati.
Setiap aku demam, Mama selalu berjaga di sampingku. Ia tahu kapan harus mengompres, kapan harus suapi obat, kapan harus diam saja dan memelukku tanpa berkata apa pun. Matanya lelah, tapi tidak pernah menjauh.
Papa namanya Daniel dia juga selalu pulang membawa sesuatu. Buku cerita bekas, mainan plastik kecil, buah potong. Hal-hal sederhana yang terasa seperti harta karun untukkku. Malam-malam, ia duduk di tepi tempat tidurku. Membacakan kisah si kelinci kecil yang takut gelap, atau si tupai yang ingin terbang.
"Suatu hari nanti kamu juga bisa," katanya pelan, "kamu akan kuat, cel. Mungkin pelan, tapi kamu pasti bisa."
Kadang aku percaya. Kadang juga tidak. Kadang aku bertanya, "Tuhan sayang aku, kan?" Tapi dalam hati aku ragu.
Kalau Tuhan sayang, kenapa aku harus sakit terus?
Aku pernah melihat teman-temanku tertawa lepas di warung. Makan gorengan, minum es, tanpa dilarang. Sementara aku harus makan bubur hambar, minum air hangat, dan setiap hari menelan obat yang pahit. Bahkan aroma ayam goreng saja bisa bikin perutku mual.
Aku merasa tidak adil.
Aku merasa kecil dan sendirian.
Kak vira, kakakku yang pertama, sudah kuliah di Manado. Ia jarang pulang, tapi hampir setiap malam kirim pesan.
"Cel, kamu hebat ya hari ini?"
"Kakak bangga. Jangan menyerah ya."
Pesan-pesan itu kadang di bacakan Mama, kadang kubaca sendiri. Aku tidak pernah membalas. Tapi dalam hati, aku selalu tersenyum.
Kak Lina, kakakku yang kedua, lebih keras. Suaranya tajam, sikapnya tegas. Tapi aku juga tahu dia peduli.
Pernah, saat aku menggigil tengah malam, aku liat di ambang pintu tapi gak masuk. Cuma berdiri dan menatap diam-diam. Saat aku berpaling, dia langsung pura-pura sibuk dengan Hp-nya.
Suatu pagi, Mama menarik selimutku dan berkata, "Ayo kita belajar jalan ke luar, Cel."
Aku menatapnya. "Kakiku masih sakit..."
Mama tersenyum. "Kita coba pelan-pelan kalau capek berhenti. Kalau jatuh, mama angkat lagi."
Di luar, papa sudah duduk di teras senyumnya penuh harap.
"Pelan-pelan ya, cel. Gak usa buru-buru."
Langit pagi itu cerah, Udara dingin tapi bersih. Aku berdiri perlahan, gemetar. Langkah pertama seperti melawan gunung. Tapi aku ingin mencoba. Aku ingin tahu rasanya sampai ke Papa dengan kakiku sendiri.
Langkah kedua… ketiga… Kakiku mulai goyah. Nafasku pendek. Tapi aku terus berjalan. Di depan rumah, Kak Lina berdiri Seperti biasa, berpura-pura main HP. Tapi aku tahu dia memperhatikanku.
Lalu HP Mama berbunyi. Pesan dari Kak Vira.
“Kamu keren banget, Cel. Kakak hampir nangis baca ini.”
Langkah keempat. Kelima. Aku hampir jatuh, tapi Mama ada di sampingku. Tangannya kuat menahan.
Akhirnya… aku sampai di kursi tempat Papa duduk.
Papa langsung menarikku ke pelukannya.
Mama menangis sambil memeluk dari sisi lain.
“Lihat kan, Cel?” bisik Papa, “Tuhan gak pernah ninggalin kamu.”
Hari itu… tubuh kecilku berdiri dengan caranya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, aku percaya kata Mama bahwa Tuhan memang jaga aku. Bukan dengan menyembuhkan instan. Tapi lewat tangan-tangan manusia yang tidak pernah lepas menggenggamku.
Sekarang, aku sudah lebih besar Tubuh ini masih harus dijaga. Aku tidak bisa sembarangan makan, tidak bisa sembarangan begadang. Tapi aku tidak takut lagi. Aku sudah bisa berjalan cepat, naik tangga, bahkan lari kecil di halaman.
Kadang rasa sakit datang kembali. Tapi aku tidak sendirian. Dan itu membuat segalanya berbeda.
Aku sadar Tuhan tidak pernah janji hidup tanpa sakit. Tapi Dia janji untuk tidak meninggalkan.
Lewat Mama yang tak pernah lelah.
Lewat Papa yang selalu hadir.
Lewat Kak Vira yang menyemangati dari jauh.
Lewat Kak Lina yang diam-diam menjaga.
Mereka adalah perpanjangan tangan Tuhan. Kasih mereka adalah bukti nyata bahwa aku berharga, meski jalanku berbeda.
Setiap langkah kecil adalah keajaiban.
Dan bersyukur, aku pelajari, bukan sekadar ucapan tapi keberanian.
Keberanian untuk tetap bangun. Tetap berjalan. Tetap hidup.
Tubuh kecilku dulu pernah lemah. Tapi sekarang, tubuh itu… masih bertahan.
Dan itu adalah kemenangan kecil yang aku bawa ke mana pun aku melangkah.
🍃🍃🍃
Ini bukan cerita karangan. Ini kisah nyata yang aku alami sendiri sebagai anak kecil yang dulu hampir menyerah karena sakit.
Tapi lewat keluarga, aku belajar bahwa kasih Tuhan hadir dengan cara-cara paling sederhana.
Kalau kamu juga sedang melalui masa sulit, semoga ceritaku bisa jadi pengingat… bahwa harapan tetap ada, meski jalannya pelan.
أنت تقرأ
Tubuh Kecil Yang Bertahan
القصة القصيرةAku tumbuh dengan tubuh yang sering sakit, membuatku hanya bisa duduk menonton teman-temanku bermain di luar sana. Namun, di tengah rasa sakit dan rasa ingin menyerah, kasih Tuhan yang nyata melalui Mama dan Papa membuatku bertahan. Perlahan, aku be...
