BAB 1

975 35 0
                                        

WARNING!!
SEMUA LATAR, KEJADIAN, NAMA ORGANISASI HANYALAH FIKTIF BELAKA DAN MURNI PEMIKIRAN AUTHOR. JIKA ADA KEMIRIPAN MUNGKIN HANYA KEBETULAN.
SIFAT DAN KARAKTER TIDAK ADA HUBUNGAN DENGAN KEHIDUPAN ASLI IDOL. PEMBACA DIHARAP BIJAK DALAM BERPIKIR DAN BERKOMENTAR.

***

"Hey, hati-hati, dong, kalau lewat!"

"Maaf, Pak! Saya buru-buru!"

"Ish, anak itu. Dipikir orang lain juga tidak sedang buru-buru."

Anak itu, yang tadi menyenggol lengan seorang bapak-bapak usia tiga puluh tahunan, menghiraukan teriakan dari si bapak dan terus berlari, berusaha sampai di halte dan masuk ke dalam bis yang sekarang berhenti di depannya.

"Pak! Tunggu, Pak! Jangan jalan dulu," anak itu sampai tepat sebelum asisten supir bis menutup pintu.

Asisten tersebut mempersilakan anak itu masuk. Baru saja ingin menutup pintu, ada lagi seorang anak perempuan yang juga berlari dan sampai di hadapannya dengan napas terputus-putus.

"Aish, ada apa dengan hari ini? Kenapa semua anak sekolah ingin naik di bis ini? Haduh, ayo segera naik, Nak," ujar si asisten. Anak perempuan itu bergegas naik, menempelkan kartu dan duduk di bangku kosong, samping anak laki-laki sebelumnya.

"Hey, kamu telat juga?" tanya si anak laki-laki.

Anak perempuan itu menoleh, cukup terkejut karena ada orang asing yang tiba-tiba mengajaknya berbicara, "Ya, hampir. Syukurnya aku bisa sampai sebelum bis ini pergi."

Anak laki-laki mengangguk, ia setuju. Nasib mereka cukup baik hari ini. "Aku baru sadar kita memakai seragam yang sama. Apakah kamu juga murid di SMA SCT? Seoul Culture Technology?" anak laki-laki itu bertanya lagi.

Anak perempuan mengangguk, "Hey, kamu juga dari sana?" tanyanya dengan sedikit terkejut.

Anak laki-laki itu mengangguk. Wah, sungguh keajaiban bisa bertemu dengan 'teman' dalam perjalanan menuju sekolah.

"Ah, tapi aku baru kelas satu," ucap anak laki-laki itu. Sebab menurutnya, anak perempuan ini terlihat seperti anak kelas dua atau tiga. Tampilannya seperti kakak-kakak osis yang siap melabrak adik kelas yang bersalah, begitu pikirnya.

"Ah, tidak usah seperti itu. Aku juga kelas satu, kita sama-sama murid baru di sana," anak laki-laki itu kembali menoleh, semakin tertarik dengan perempuan ini.

"Halte berikutnya, SMA SCT! Silakan bersiap bagi yang hendak turun!" anak laki-laki membuang napas pelan, sepertinya pertanyaannya harus tertahan di kerongkongan begitu mendengar ucapan asisten bis.

Anak perempuan itu berdiri, bersiap untuk turun di halte tujuannya. Anak laki-laki itupun ikut berdiri, menunggu di samping anak perempuan.

Bis sampai di depan SMA Seoul Culture Technology, atau disingkat SCT—bukan SCTV, ya. Dua pasang anak itu turun dari bis dan berjalan bersama menuju sekolah baru mereka. Tidak ada obrolan, masing-masing fokus melihat sekitaran sekolah mereka yang sangat luas.

SMA SCT memang dikenal sekolahnya para elite. Hanya orang-orang terpilih yang bisa memasuki sekolah ini. Infrastruktur gedungnya juga bukan main-main. Terdiri dari empat lantai, dengan empat lapangan, dua lapangan indoor dan dua lapangan outdoor, juga rooftop, dan ruangan lainnya.

Nama dari sekolah itu mungkin Seoul Culture Technology, tetapi sekolah itu tidak hanya mendalami bidang teknologi saja. Peserta didik di sekolah ini dibagi tiga bidang sesuai minat dan bakatnya. Yaitu, bidang teknologi, budaya, dan seni.

Bidang teknologi meliputi mata pelajaran seputar teknologi, seperti matematika, fisika, kimia, informatika, dan lainnya. Lokasi kelasnya di lantai satu, berada di sebelah kanan dan kiri dari lobby. Setiap angkatan ada tiga kelas.

Class 1-3 SCT [END]Stories to obsess over. Discover now