Langkah Pertama

492 8 0
                                        

Zea, gadis berusia 14 tahun, adalah anak tunggal dari pasangan Faizin dan Anisa. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia kesenian. Ayahnya, Faizin, merupakan pemain gamelan aktif di tim kesenian GWSM, sebuah komunitas seni yang dikenal luas di daerah mereka. Sang ibu, Anisa, selalu menjadi pendukung setia, hadir di setiap pementasan dan latihan.

Zea selalu mengamati Ayahnya saat berlatih gamelan. Dentuman kendang dan suara gong seperti mengalir dalam darahnya. Ketika Ayah menawarkan untuk mengajaknya ke sanggar, Zea tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

Pagi di Rumah

"Zee, bangun sayang. Hari ini kita ke sanggar bareng Ayah," suara Mama lembut membangunkan Zea.

Dengan mata masih setengah terpejam, Zea tersenyum. "Hari ini Zea mulai belajar tari ya, Ma?"

"Iya, tapi pelan-pelan ya. Nanti pilih dulu tari mana yang kamu suka," kata Ayah sambil menyiapkan tasnya.

Sesampainya di sanggar, Zea melihat betapa ramainya suasana. Kakak-kakak penari sedang latihan tari Pendet, Warok, Gedruk, dan Topeng Ireng. Zea terpaku.

Pertemuan Pertama

"Kamu Zea, ya? Aku Dyah." sapa salah satu penari senior.

"Iya, mbak. Zea pengen coba semuanya" jawab Zea polos.

Semua orang tersenyum. Bocah kecil dengan rambut dikepang dua itu terlihat semangat sekali. mbak Dyah mulai mengajarkan gerakan dasar tari Pendet.

Hari itu, Zea mencoba semuanya. Meskipun belum sempurna, Zea menunjukkan ketekunan dan keberanian. Pulang ke rumah, ia langsung cerita ke Mama.

"Ma, Zea suka semua tariannya. Zea bingung mau fokus ke yang mana. Tapi kayaknya Zea paling suka Gedruk. Gerakannya kuat, tapi ada iramanya juga."

Mama tersenyum dan mengelus kepala Zea. "Apapun pilihanmu, Mama dan Ayah dukung."

anak kesayanganWhere stories live. Discover now