Yang Selalu Ada, Tapi Tak Pernah Dipilih

23 7 0
                                        

Hujan turun pelan, membasahi atap halte kecil di ujung jalan kampus. Di sana, seorang laki-laki berdiri sambil memegang dua gelas kopi panas dari warung langganan mereka.

"Masih suka yang hazelnut, kan?"
Suara Seano lembut, nyaris tenggelam oleh gemericik hujan.

Shao menoleh, tersenyum sekilas. "Masih. Kamu hafal banget, ya."

Seano hanya mengangguk kecil, menyerahkan gelas itu dengan senyum yang tak terlalu lebar. Seolah ia sudah terbiasa dengan senyum yang tak pernah benar-benar dibalas.

Mereka duduk berdua di bangku kayu halte, diam untuk beberapa saat. Shao sibuk memandangi ponselnya, sementara Seano hanya memandangi rintik hujan yang jatuh perlahan.

"Besok kamu nganterin aku, kan?" tanya Shao tiba-tiba, tanpa menoleh.

"Tentu. Kamu tahu aku pasti bisa."
Jawaban itu meluncur terlalu cepat-seperti refleks.

Selalu seperti ini. Seano selalu ada. Saat Shao sedih, saat dia bingung memilih jurusan, bahkan saat ia menangis karena lelaki yang ia cintai tidak membalas perasaannya. Ironisnya, Seano-yang diam-diam mencintai Shao sepenuh hati-harus mendengarkan luka-luka yang berasal dari orang lain.

---

Kadang, Seano bertanya-tanya:
Apakah cintanya terlalu murah?
Atau, terlalu diam hingga tak terdengar?

---

Di malam hari, ketika hujan sudah reda dan jalanan sepi, Seano menatap langit-langit kamar kosnya.

"Kalau aku berhenti besok... apa dia akan mencariku?"

Pikirannya tak pernah bisa tidur lebih dulu dari tubuhnya. Rasa sayang yang tak pernah mendapat ruang untuk tumbuh, membuat Seano terjebak dalam cinta yang tak punya tujuan.

Dan Shao?
Dia terlalu nyaman dengan keberadaan Seano. Terlalu yakin bahwa Seano akan selalu ada.
Karena belum pernah kehilangan, ia belum pernah belajar menghargai.

---

Keesokan paginya, mereka duduk bersebelahan di kantin kampus.
Shao bercerita tentang seorang pria baru dari fakultas hukum. Namanya Zelga, katanya lucu, katanya baik.
Seano hanya mendengarkan.

"Dia ngajak aku nonton akhir pekan ini," kata Shao dengan mata berbinar.

Seano menahan senyum. Matanya tetap menatap nasi goreng di depannya, walau rasanya sudah seperti kerikil di mulut.

"Wah, keren," jawabnya pelan.
Jantungnya tidak ikut setuju.

---

Pada malam yang sama, Seano menulis di buku kecilnya:

"Mencintaimu membuatku lupa kalau aku juga berhak dicintai. Tapi entah kenapa, aku tetap tinggal."

Sudah Bukan Waktunya (selesai)Stories to obsess over. Discover now