Mereka bilang boneka di panggung itu dibuat dari kayu dan kain, tapi aku bersumpah, aku melihat kelopak matanya berkedip!
———
Cerutu kayu di tanganku terbakar, membiarkan tanaman di dalamnya menjadi debu hangat.
Terpampang wajah-wajah yang sudah biasa aku saksikan di papan catatan. Benang demi benang merah mengulur ketat, terikat di antara jarum-jarum yang menusuk papan.
Foto-foto itu, mereka terlihat begitu bahagia, tersenyum dan tertawa bersama orang-orang yang mereka cinta. Sebenarnya, siapa yang begitu tega menculik mereka, mengubah senyuman di wajah-wajah bercahaya menjadi ratapan pilu nan suram?
Itulah, siapapun ingin tau jawabannya. Tidak terkecuali aku, detektif yang ditugaskan untuk memecahkan kasus ini.
"Einar!" terdengar teriakan menyebalkan dari pintu masuk. Cepat-cepat aku berjalan, mengunci pintu yang ada di belakangku. Tepat suara kunci perunggu menutup, ketukan di balik pintu datang bergantian.
"Hey! Einar! Buka pintunya!" teriaknya dari balik sana.
Aku menghela napas, menghisap cerutu sebelum meniupnya ke udara. "Ada apa, Lunette? Tidak bosan-bosan kau datang ke sini?"
Wanita itu adalah Lunette, seorang detektif magang yang belum lama bekerja di agensi kami. Dia dijuluki anak ayam. Karena bagaimanapun, dia mengikuti siapa saja yang ada di agensi, siapapun yang dia lihat terlebih dahulu.
"Hey, Einar!" ujarnya, kembali mengetuk brutal. "Sudah berapa lama kamu di sana? Berminggu-minggu kamu gak datang ke kantor, loh? Kak Rael marah besar, loh? Dia kira kamu udah jadi mayat, loh?" kikikan layaknya cicak kembali keluar dari suara yang tak ada hentinya berjalan. "Jadi, aku disuruh membawamu ke kantor bagaimanapun caranya."
Mengetahui apa maksud ucapannya barusan, mau tak mau aku membuka pintu kayu mahoni ini. Kutatap seringai jahilnya yang tak kenal waktu, muncul kapanpun dia mau. "Jangan macam-macam," ucapku, sengaja bernada tajam agar dia menurut.
"Oh!" pekiknya. "Tadinya aku berencana menghancurkan pintu ini sekalian."
"Kenapa Rael mengirimmu, sih? Dia bisa saja menghubungiku lewat telepon saja, kan?"
Lunette baru saja hendak beranjak, menaiki tangga gelap sebelum menoleh ke belakang dengan tatapan terkejut sepenuh hati. "Kamu beneran gak sadar? Kamu di dalam basement selama seminggu penuh, loh? Telepon tak pernah ada yang diangkat. Surat dan koran saja tertumpuk di pintu masuk. Aku malah lebih bingung akan caramu masih tetap hidup sampai sekarang."
Apa? Sudah selama itu? Atau dia hanya bercanda?
Seakan bisa membaca pikiranku, Lunette berdecak. Dia berkacak pinggang, memasang wajah ibu-ibu yang marah pada anaknya. "Sial," bisikku. Dia mulai lagi.
Selama tiga puluh menit ke depan, bibir mungilnya melempar cacian ketidak-percayaan. Sambil terus mengomel, kami berjalan kaki menuju kantor tempat kami bekerja. Dan dia, terus menerus mengomel, tiada henti.
"Kau makan apa saja selama di basement, Einar!?" aku diam saja, tak mau capek menjawab. Namun, sepasang tangan yang memegang pinggangku membuatku terlonjak. "Lihatlah!" pekiknya. "Pinggangmu memang sudah ramping sejak awal, tapi kini lebih ramping!" selesai menggodaku akan hal itu, seringainya melebar. "Pria mana yang mau kamu goda- kheuk!?"
Ya, aku mencekiknya. Memangnya kenapa? Dia yang mulai duluan.
Aku melepas cekikan itu. Tenang, aku tidak mencekiknya terlalu keras. "Sebaiknya kamu memikirkan antara dua hal ini. Kita jalan ke kantor atau lewat kereta?"
"Sebaiknya jalan kaki. Kamu di basement lama sekali sampai-sampai tak olahraga, kan?"
Mendengar jawabannya, kami melanjutkan jalan bersama. Jalur dari rumahku ke kantor selalu diisi hal-hal yang sama. Perkomplekan ini, banyak sekali anak-anak berkeliaran, terutama di sekitar taman. Tawa demi tawa mengisi hari demi hari kota ini. Seakan, kasus orang hilang yang membumbung tidak pernah terjadi.
YOU ARE READING
The Puppeter
Mystery / ThrillerEinar mendapatkan misi untuk memecahkan kasus orang hilang dari berbagai kota. Semua petunjuk membawanya ke sebuah tempat- sebuah grup sirkus. Akankah misteri orang hilang itu berhasil dia pecahkan atau justru dia buntu di tengah jalan?
