Broken Heart.

160 9 153
                                        

"Kangen banget sama lo!"

Tiba tiba Zen memeluk Wina, ketika laki laki itu baru saja turun dari panggung. Wajah tampannya masih terlihat berkeringat, dan nafasnya juga masih ngos ngosan.

Zen Abrisam, 24 tahun adalah seorang artis terkenal pada saat ini. Dia penyanyi internasional yang sering manggung ke berbagai negara.

"Rambut lo basah banget,"

Dengan penuh kasih sayang, Wina mengusap rambut Zen yang memang berkeringat. "Mana temen temen lo?" tanya Wina.

"Ah, ngapain tanyain mereka sih? ngeselin." Wajah tampan Zen cemberut namun terlihat amat lucu.

Melihat reaksi Zen yang cemberut, Wina atau yang bernama Wina Monika itu terkekeh seraya mencubit hidungnya Zen.

"Kan gue ngefens nya sama temen temen lo," ledek Wina, membuat Zen semakin memberengut. Ayolah, Zen ini sejenis sahabat yang cemburuan ketika sahabatnya malah menyukai teman temannya itu.

"Gantengan gue kali," kesal Zen.

"Iya, iya ... gantengan lo. Gue tahu." kekeh Wina.

Zen meraih tangannya Wina dan menggenggamnya. "gue punya oleh oleh buat lo. Tapi di rumah, nanti setelah gue selesai manggung, pulang bareung gue ya ..." pintanya.

Namun Wina menggelengkan wajahnya. "Enggak lah, gue pulang sendiri. " tolak halus Wina.

"Ye ... kenapa?" keluh Zen.

"Ya, kan lo juga nanti pulang bareung member yang lain kan. Masa iya gue ganggu kalian."

Zen terdiam. Sepertinya laki laki itu terlihat kecewa. Maunya Zen, Wina ini pulang bersamanya, seperti dahulu ketika mereka pulang sekolah. Iya, sedari dulu, mereka memang selalu bersama sama. Pergi sekolah bersama, pulang sekolah bersama, mengerjakan pr bersama. Bahkan mengaji pun pergi bersama. Zen sudah terbiasa dengan itu.

"Mereka ke hotel nanti. Tapi," ujar Zen.

"Ya emang lo enggak ke hotel juga?" tanya Wina.

"Gue pulang ke rumah aja." ujar Zen.

Wina menghela napas pelan. "Zen ... lo sekarang artis. Lo enggak bisa ajak gue seenaknya, atau lo pulang ke rumah seenaknya. Mending lo juga pulang ke hotel sama mereka."

Zen terdiam, mungkin dia lupa bahwa keberadaannya di hotel bersama membernya itu adalah hal yang sangat penting. "Iya," zen ingin sekali mengeluh, namun tetap tidak bisa.

"Zen!" seorang penatas rias memanggilnya.

Zen menatap ke arah perempuan berusia 30 tahun itu. "iya, mbak sebentar." sahutnya. Masih menggenggam tangannya Wina, ia menatap gadis itu.

"Gue masih harus manggung satu lagu lagi. Tapi nanti gue pasti ke sini lagi." ujar Zen.

"Tapi--"

"Jangan ke mana mana, karena nanti gue ke sini lagi." ujar Zen tanpa memberi kesempatan pada Wina untuk berbicara.

"Zen ..."

"Gue pergi dulu." Zen pergi dengan tangannya yang perlahan melepaskan genggaman. Lantas laki laki tampan itu pun pergi menghampiri perempuan penata rias, ia berdiri di depan perempuan itu dan membiarkannya merapikan make upnya. Namun Zen sesekali menoleh pada wina yang sedang sibuk dengan ponselnya.

Gadis jelita itu sesekali tersenyum pada ponselnya membuat senyum Zen hilang seketika.

"Zen, kita akan bernyanyi satu lagu lagi. Pastikan kamu enggak lupa ya," ujar sang manager, dan Zen mengacungkan jempolnya. Kemudia manager itu pun berjalan ke arah tiga member lainnya untuk memberikan himbauan agar mereka memastikan mengingat lyric yang akan mereka nyanyikan nanti.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jun 30, 2025 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Lovers Or Just Friend.Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora