Langit distrik kecil bernama Aji ini masih belum disapa matahari pagi — melirik jarum pendek pada jam dinding rumah masih berdiam di angka tiga. Aku membuka pintu geser dan angin malam dari arah laut menyambutku. Bahkan tangkai hortensia layu yang sudah lama kurawat di taman belakang rumah menyapa seperti terbiasa melihatku terbangun pada waktu seperti ini. Saat ini, hanya aku sendiri, sebotol tequila, dua gelas shot yang dingin di suhu pagi hari, dan sebuah guci keramik berwarna putih yang berada di ruangan itu. Perlahan aku menata semuanya di beranda serta gelas di antara kami, lalu dengan pelan kutuang minuman favoritnya.
Hari ini, 3 Mei 2025, aku masih bernapas, namun tidak dengan istriku.
"Kanpai," aku menyentuh gelasnya dengan gelasku, memecah keheningan meskipun lautan di depan "kami berdua" mengguyur pasir dengan ombaknya yang jauh lebih nyaring. "Tak terasa ini sudah tahun ke-24 kau memilih pergi. Aku cukup kesepian. Tapi tahun ini Eri dan aku akan mengunjungimu nanti pagi. Sayang sekali putrinya tidak bisa ikut. Tahun ini, Riho-chan masuk sekolah dan Eri bilang Kouta-kun akan mengantarnya."
"Aku juga takkan bisa berhenti untuk minta maaf padamu karena tahun ini Morihito tak datang, sepertinya ia sibuk mengerjakan sesuatu jadi mari berharap ia akan segera kembali pulang. Mengenai Yuuha..." aku diam sejenak dan berakhir menghela napas. Rasa kecewa pada diriku sendiri mendorongku menambah minuman itu. "... hingga saat ini aku masih belum tahu dia ada di mana. Mungkin Morihito juga mencari adiknya itu di ibukota. Jadi... sepertinya tahun ini hanya kau, aku, dan Eri, seperti beberapa tahun terakhir."
Terbayang sekilas semasa kami masih bersekolah. Kerap kali pagi harinya ia masuk kelas dengan wajah terluka dan tatapan dingin. Yang menakjubkan, semakin banyak ekspresi yang kutemui darinya, semakin aku egois ingin bersamanya —tidak, aku yakin semesta menolak kami lebih lama hingga aku sendirian selama ini. Mata kemerahan yang selalu kubantu tuangkan obat tetes mata setiap ia beradu dengan siswa sekolah lain. Atau dokumen yang kerap menumpuk sewaktu masa tugas kami. Hingga jari manis kirinya yang ramping menjadi satu-satunya jari yang cincin nikahnya kupasangkan.
Kalau bukan karena kehadirannya, aku tidak akan pernah merasakan hidup sedamai ini, bahkan setelah istriku telah tiada.
Baru saja aku menuangkan diriku sendiri tequila untuk ketiga kalinya, angin berhembus melewatiku. Tanpa meninggalkan gelasku, aku berdiri dan menuju bagian dalam rumah, berjalan ke arah pintu masuk, memeriksa jendela, bahkan saat aku memeriksa dapur atau kamar mandi tak ada satupun keran yang terbuka. Aneh sekali, tidak ada yang terbuka namun angin berhembus dengan kencang dari dalam rumah.
"Eri? Kau bangun? Apa kau sudah menutup jendela lantai dua?" Aku berdiri di anak tangga terbawah dengan heran. Tidak ada respon, maka Eri masih tertidur. Bahkan setelah aku naik hingga lantai dua, tidak ada apa-apa. Kubuka kamar Eri pun ia masih pulas. Keanehan ini membuatku menenggak habis isi gelas yang kubawa. Kenapa seakan ada sesuatu yang dengan sengaja menggangguku semalam ini? Apa aku sebenarnya sudah mabuk?
Tap. Tap. Tap. Tap. Tap.
"Langkah kaki?" Dari suara yang kudengar, langkahnya seperti seorang remaja? Ringan sekali suaranya. Niat sekali menggangguku, dan dengan sekian banyak hari di tahun ini, harus hari ini. Faktanya, aku punya dua anak perempuan, satu tertidur lelap di dan satunya lari dari rumah entah ke mana sejak tujuh tahun lalu. Sekarang, anak siapa yang main-main di rumahku pada jam seperti ini?
"Tahun ini kau merayakanku lagi?"
Aku yang baru saja menurunkan kaki pada anak tangga pun terdiam membelalak. Suara yang selalu membekas di segala hari-hariku hingga saat-saat terakhirnya pada 24 tahun yang lalu seakan menarikku dengan tiba-tiba. Menoleh pada asal suara, aku kembali menuruni tangga menuju dapur hanya untuk disambut sosok remaja yang kehadirannya nampak tipis bagai debu berbalut seragam SMA pelaut putih dengan rok biru tua selutut melambaikan tangan kirinya padaku dengan wajah penuh plester itu. "Bagaimana kalau kita bersantai dahulu sebelum kau kembali? Tenang saja, aku berencana masih lama di sini."
VOCÊ ESTÁ LENDO
sakayume
Romance"Ich würde endlose Zeitschleifen durchleben, nur um bei dir zu sein - aber ich hoffe, du musst das nicht auch tun." Aku akan mengulang hidupku, berapa kalipun, terus dan terus, hanya untuk bisa bersamamu - tapi aku berharap, kau tak perlu menderita...
