Hujan turun pelan di luar jendela rumah sakit. Butiran airnya menempel pada kaca, seperti menggambar kenangan yang perlahan memudar. Di dalam ruangan putih yang terlalu sepi untuk sebuah perpisahan, seorang anak duduk diam di sudut, memeluk boneka jerapah yang sudah mulai pudar warnanya.
Namanya Aljaras. Usianya lima tahun. Matanya bulat, bening, tapi tak pernah benar-benar menatap langsung pada siapa pun. Ia hanya memandangi titik tertentu di langit-langit ruangan, sesekali menepuk-nepuk jerapahnya dengan ritme yang hanya ia mengerti.
Di ranjang rumah sakit, seorang pria kurus terbaring lemah—Ayah.
"Bunda…" suara itu nyaris tak terdengar, teredam alat bantu pernapasan di wajahnya.
Perempuan yang duduk di sisi ranjangnya segera menggenggam tangannya. Matanya merah, namun senyumnya tetap lembut.
"Ya, Mas?"
"Jaga Aljaras… Dia anak istimewa. Tapi aku tahu, dia bisa. Aku percaya padanya. Dia pasti akan… tumbuh."
Suara itu melemah, lalu berhenti.
Aljaras diam. Ia tidak menangis. Ia tidak tahu arti kata ‘pergi’ seperti orang dewasa. Tapi tubuh kecilnya tahu bahwa sesuatu yang besar sedang hilang dari dunia kecilnya.
---
Tiga hari setelah pemakaman, rumah mereka menjadi senyap. Tak ada lagi tawa lelaki yang biasa mengangkatnya tinggi-tinggi. Tak ada lagi suara berat yang menyanyikan lagu Nina Bobo dengan nada sumbang.
Hanya ada Bunda.
Dan ia.
Dua jiwa yang mencoba menyatukan pecahan-pecahan yang tertinggal.
---
"Bunda…" suara itu pelan, terbata. Bunda yang sedang menjemur pakaian tercekat. Aljaras jarang memanggil. Sangat jarang.
Ia berbalik cepat, menatap putranya yang berdiri dengan jerapah kecil di pelukannya.
"Aku… jaga… Bunda."
Air mata itu langsung pecah. Bukan karena kesedihan. Tapi karena harapan.
---
Sejak saat itu, Aljaras berubah.
Bukan menjadi anak yang tiba-tiba bisa berbicara lancar atau bersosialisasi dengan mudah. Tapi ia mulai menyentuh dunia yang selama ini tampak terlalu asing untuknya.
Ia mulai merespons panggilan. Ia mulai memperhatikan ekspresi Bunda. Dan kadang, di malam hari, ia menempelkan tangan mungilnya di pipi Bunda yang diam-diam menangis, seolah berkata: “Aku tahu, Bun. Aku tahu.”
---
Namun dunia di luar rumah tak selalu memahami.
"Kenapa anaknya diam terus?"
"Sudah lima tahun, belum bisa bicara?"
"Kasihan banget, ya…"
Kata-kata itu tajam, tak peduli disampaikan dengan senyum atau lirih. Tapi Aljaras dan Bundanya sudah kebal. Karena mereka tahu, mereka berjalan di jalur yang berbeda—pelan, sepi, tapi tidak pernah tanpa harapan.
---
Dan pada malam hari yang sunyi, di depan foto Ayah yang kini terpajang di ruang tamu kecil mereka, Aljaras menatap dengan mata beningnya yang belum penuh bahasa.
"Ayah… aku akan tumbuh. Aku akan jaga Bunda. Janji."
ESTÁS LEYENDO
"Ayah, Aku Akan Menjaga Bunda"
No FicciónAljaras adalah seorang anak istimewa. Didiagnosa dengan Autistic Spectrum Disorder sejak usia dini, ia tumbuh dalam dunia yang berbeda,penuh warna, namun tak selalu dipahami. Namun dalam dunia kecilnya, ada dua sosok yang selalu menjadi jangkar: Aya...
