Tengah malam itu, rumah kontrakan kecil di pinggiran kota Banjarmasin diselimuti sunyi. Di luar, gerimis turun pelan-pelan, seperti turut menahan napas untuk sebuah peristiwa besar yang akan segera terjadi. Di dalam kamar berselimutkan cahaya redup lampu minyak, Ningsih menggenggam seprai dengan tangan gemetar. Rasa sakit menjalar dari pinggang hingga perutnya, tak tertahankan. Kontraksinya semakin intens, dan ia tahu, anak pertamanya akan lahir malam itu juga.
Pak Arman mondar-mandir di luar kamar. Wajahnya tegang. Seorang dukun beranak sudah dipanggil, dan kini sibuk memberi instruksi agar Ningsih mengejan. Ningsih mengerahkan segenap tenaga, peluh membanjiri keningnya, dan akhirnya jeritan bayi perempuan pun terdengar, menggema di ruangan kecil itu.
Namun yang menyusul bukanlah tawa atau tangis haru. Bukan juga pelukan atau pelafalan azan di telinga bayi. Yang terdengar hanya desahan berat dari Pak Arman.
"Perempuan?" tanyanya kepada dukun beranak itu.
"Iya, Pak. Bayinya sehat, perempuan," jawabnya sambil tersenyum.
Pak Arman mengangguk pelan, lalu duduk di kursi kayu, diam. Wajahnya datar, hampir seperti kecewa. Ia tidak bersuara, bahkan tidak menyentuh bayi mungil yang sedang dibersihkan dan dibungkus kain batik itu.
Ningsih menoleh dengan lemah, matanya mencari suaminya. "Mas, anak kita... sehat, Mas."
Pak Arman hanya mengangguk. Bibirnya menegang. Ia tidak mendekat. Tidak memandang wajah bayi itu lebih dari satu detik. Di dalam hatinya, ia merasa seperti impiannya dihancurkan seketika.
Ia ingin anak laki-laki. Seorang penerus. Seorang pewaris. Seseorang yang bisa ia banggakan kelak sebagai maskulin, kuat, dan tak banyak mengeluh seperti yang selalu ia bayangkan. Tapi bayi yang lahir malam itu... bukanlah impian itu.
---
Hari-hari pertama setelah kelahiran Aluna seperti melayang begitu saja. Tidak ada perayaan. Tidak ada ucapan selamat dari keluarga besar. Hanya ucapan singkat dan basa-basi dari tetangga sekitar, yang kemudian berlalu begitu saja. Ningsih menamai anaknya sendiri, karena hingga hari ketiga, Pak Arman belum juga menyebut satu nama pun.
"Kalau laki-laki, sudah kita siapkan nama bagus. Alun, dari kata 'Gelombang'. Kuat. Dinamis. Maskulin," kata Pak Arman kepada ibunya, Nenek Aluna.
"Tapi kan ini perempuan. Masa dipaksakan?" sahut Nenek sambil menyusui cucunya yang lain.
Pak Arman mendengus pelan. Ia duduk di kursi rotan, menghadap jendela. Matanya kosong, seperti memikirkan masa depan yang baru saja bergeser dari rencananya.
Ningsih masuk membawa teh hangat. "Bagaimana kalau Aluna, Pak? Masih dari nama yang sama. Tapi lebih lembut. Tambahan 'a' saja."
Pak Arman yang sedang mengaduk kopi di dapur tidak menoleh. "Kenapa nggak Alun aja? Simpel."
"Karena dia perempuan, Mas. Aluna lebih lembut."
"Terserah, kamu aja," gumamnya pelan.
Dan begitu saja, nama itu menjadi identitas seorang bayi yang lahir tanpa sambutan. Nama yang sederhana, tapi sarat dengan makna yang tak diucapkan: kompromi dari kekecewaan.
---
Ningsih berusaha menambal kekosongan cinta yang tidak diberikan ayah pada Aluna. Ia menyusui dengan penuh perhatian, membalut anaknya dengan kain bersih, menyanyikan lagu nina bobo setiap malam. Tapi ia juga tahu bahwa ada batas untuk semua usaha itu. Rumah yang dipenuhi dinginnya harapan yang tak terpenuhi akan tetap menjadi rumah yang sunyi, walau penuh dengan cinta seorang ibu.
Aluna tumbuh menjadi bayi yang tenang. Tidak banyak rewel, tidak menangis berlebihan, tidak menuntut perhatian. Ia seperti menyerap energi rumah yang diam—mewarisi kesepian dari ayahnya, dan kelembutan dari ibunya.
Pak Arman bukan pria kasar. Ia tidak pernah membentak Ningsih, tidak pernah menyakiti fisik. Tapi dinginnya sikap, tajamnya diam, dan jarangnya pelukan adalah bentuk lain dari luka yang dibiarkan tumbuh diam-diam di dalam rumah itu.
Suatu malam, saat Aluna berumur satu tahun, ia mulai belajar berjalan. Ia berdiri dengan goyah sambil berpegangan pada meja makan. Ningsih menonton dari dapur, wajahnya berseri-seri.
"Mas! Mas! Lihat! Dia bisa berdiri!"
Pak Arman sedang memperbaiki kabel lampu di ruang tamu. Ia menoleh sekilas, lalu kembali melilitkan kabel tanpa komentar.
"Mas... dia berdiri sendiri!" ulang Ningsih dengan harap.
"Ya, bagus," jawabnya singkat.
Aluna pun terjatuh lagi ke lantai. Tapi ia tidak menangis. Ia menatap ayahnya sejenak, lalu kembali mencoba berdiri sendiri.
---
Ketika Aluna menginjak usia dua tahun, ia sudah bisa berbicara sedikit. Kata pertamanya bukan "ayah" atau "ibu", tapi "buku". Ningsih tertawa waktu mendengarnya. Ia segera membelikan Aluna buku bergambar dari pasar.
Aluna menyukai halaman demi halaman dengan warna-warni dan gambar binatang. Tapi tak satu pun dari hewan itu mewakili dirinya. Tidak ada karakter perempuan yang merasa asing di rumah sendiri.
Ia belum mengerti kenapa ayahnya tidak pernah menggendongnya seperti ayah-ayah lain di depan rumah tetangga. Ia hanya mengerti bahwa ketika ia berjalan ke arah ayahnya sambil membawa gambar yang ia warnai, Pak Arman hanya berkata, "Gambarnya keluar garis."
---
Suatu hari di usia empat tahun, Aluna menyaksikan seorang anak laki-laki seumurannya digendong oleh ayahnya dengan penuh bangga. Mereka naik sepeda bersama, tertawa keras, dan bermain di lapangan dekat rumah. Aluna berdiri di belakang pagar, memeluk bonekanya.
"Bu, aku mau main sama Bapak... kayak itu," katanya pelan saat masuk ke rumah.
Ningsih membelai rambutnya. "Nanti ya, Nak. Bapakmu capek kerja."
"Tapi dia nggak pernah gendong aku."
Ningsih terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjawab anak perempuan berumur empat tahun yang mulai menyadari bahwa ia tidak dianggap.
Malam itu, Ningsih menatap wajah Aluna yang sudah tertidur dan berbisik di hatinya, Maafkan Ibu, Nak. Dunia ini belum sepenuhnya adil untuk perempuan seperti kita.
---
Ketika waktu masuk TK tiba, Ningsih yang paling sibuk mempersiapkan segalanya. Ia menyetrika seragam kecil, membungkus bekal, dan mengantar Aluna ke gerbang dengan senyum bangga. Tapi Pak Arman tidak ikut mengantar. Ia bilang harus kerja lebih awal.
Di kelas, Aluna tidak banyak bicara. Ia duduk paling belakang, menggambar rumah dan ibu setiap hari. Ia tidak pernah menggambar ayah.
Guru TK-nya pernah memanggil Ningsih untuk berbicara.
"Bu, Aluna anaknya pendiam, ya? Tapi dia cerdas. Gambarnya rapi, dan dia hafal lagu-lagu dengan cepat."
Ningsih tersenyum getir. "Iya, Bu. Memang begitu anak saya."
"Tapi saya perhatikan, tiap kali disuruh menggambar keluarga, dia cuma gambar ibu dan rumah. Tidak pernah gambar ayahnya."
Ningsih terdiam. Ia tak menjawab.
---
Waktu berlalu. Aluna tumbuh, dan rumah itu tetap sama. Seolah tidak peduli waktu berganti. Ayahnya tetap dingin, ibunya tetap mencoba hangat, dan Aluna tetap diam. Tapi diam itu mulai berubah menjadi pertanyaan.
"Kenapa aku harus jadi anak pertama?"
"Kenapa aku bukan laki-laki?"
"Kalau aku laki-laki, apa Ayah akan sayang padaku?"
---
Pertanyaan-pertanyaan itu belum mendapat jawaban, bahkan saat usianya menginjak enam tahun.
Dan ketika Aluna siap masuk SD... dunia yang ia kenal sebagai satu-satunya anak dalam rumah itu akan segera berubah selamanya. Karena hari itu juga, ibunya memberi tahu:
"Kamu mau punya adik, Nak. Ibu sedang hamil."
Mata Aluna membesar. Ia tidak tahu apa yang harus dirasakan—senang atau takut. Tapi satu hal yang ia tahu dengan pasti...
Kalau adiknya laki-laki, maka semuanya tidak akan sama lagi.
