Bab 1: Kutukan Sang Tabib

995 46 2
                                        

Kerajaan Purbanagara membentang megah di bawah langit Nusantara, sebuah permata arsitektur yang menjulang gagah dengan dinding-dinding batu kokoh dan atap-atap limasan yang menjulang ke angkasa. Gerbang utamanya, diukir dengan relief kisah-kisah leluhur, selalu terbuka lebar menyambut rakyat, namun seolah tak kasat mata memisahkan dunia istana yang penuh aturan ketat dari kehidupan biasa di luar tembok. Di sanalah, di tengah kemegahan yang terkadang terasa menyesakkan, Narayana Chandrakanta Purbanagara tumbuh dewasa, satu-satunya pewaris takhta dari Raja Purbanagara yang dihormati sekaligus ditakuti.

Narayana bukanlah putri kebanyakan. Sejak kecil, ia dibekali tidak hanya dengan tata krama dan keanggunan seorang bangsawan, tetapi juga ilmu pedang yang diajarkan langsung oleh sang ayah dan pengetahuan yang tak terbatas dari perpustakaan istana. Tubuhnya tinggi semampai, tegap, dan kuat berkat latihan fisik yang keras, menciptakan siluet anggun namun penuh kekuatan. Ada sedikit keangkuhan dalam sorot matanya yang tajam—kilatan kebanggaan seorang putri yang sadar akan darah biru dan takdirnya. Namun, di balik itu, tersembunyi jiwa yang haus akan pengetahuan di luar batas istana, hati yang ingin memahami dunia di luar kemegahan yang ia kenal. Ia mendambakan kebebasan yang tidak bisa ia raih sebagai seorang putri mahkota. Seringkali, sang putri menemukan dirinya termenung, memandang jauh ke balik tembok istana, membayangkan kehidupan yang berbeda, terbebas dari rantai tradisi dan ekspektasi yang begitu berat membelenggunya. Dalam keheningan malam, ketika tugas-tugas kerajaan selesai dan istana mulai terlelap, Narayana akan membaca gulungan-gulungan kuno tentang filosofi, astronomi, bahkan mitologi terlarang, mencari jawaban atas kekosongan yang ia rasakan. Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar takhta dan kehormatan.

Di sisi lain istana, namun tak kalah penting, hiduplah Arumdhati, putri tunggal dari Tabib Kerajaan yang agung. Ayahnya, seorang pria tua dengan sorot mata yang menembus jiwa, adalah sosok yang dihormati sekaligus sangat disegani di Purbanagara. Kesaktiannya dalam meramu obat, menyembuhkan penyakit, bahkan meramal takdir, membuatnya menjadi penasihat utama Raja, namun juga pribadi yang misterius dan jarang terlihat oleh khalayak ramai kecuali untuk urusan penting. Tabib itu dikenal bisa merasakan denyut nadi bumi dan bisikan angin, memahami bahasa alam yang tak semua orang mampu dengar. Arumdhati sendiri mewarisi sebagian besar kebijaksanaan dan kelembutan ayahnya. Ia memiliki kecerdasan yang luar biasa, intuisi yang tajam, dan kelembutan hati yang menenangkan. Raut wajahnya yang feminin dan sorot matanya yang hangat seolah memancarkan keharuman bunga yang tak kasat mata, seperti namanya. Ia seringkali menghabiskan waktunya di taman herbal milik ayahnya, merawat tanaman-tanaman langka dan mempelajari rahasia pengobatan kuno yang hanya sedikit orang yang kuasai, termasuk seni meramu racun yang mematikan dan penawarnya. Tangannya yang cekatan dan jemarinya yang lentik mampu mengidentifikasi setiap helai daun dan akar dengan presisi sempurna, seolah ada ikatan magis antara dirinya dan tumbuh-tumbuhan. Ia sering terlihat berbicara sendiri dengan bunga-bunga, atau mendengarkan bisikan air yang mengalir dari pancuran di taman.

Pertemuan Narayana dan Arumdhati terjadi tanpa direncanakan, di lorong-lorong tersembunyi perpustakaan istana. Narayana, bosan dengan literatur perang dan politik yang diwajibkan untuk calon pemimpin, mulai mencari-cari gulungan kuno tentang herbal dan pengobatan, sebuah minat yang jarang dimiliki oleh putri kerajaan. Ia tertarik pada bagaimana Tabib Agung bisa menyembuhkan penyakit yang tak tersembuhkan, atau bagaimana ia bisa memprediksi wabah. Di sanalah, ia menemukan Arumdhati, yang sedang membantu ayahnya mengklasifikasikan ramuan dan catatan medis yang berusia ratusan tahun. Ruangan itu dipenuhi aroma aneh dari berbagai herbal kering dan cairan dalam botol-botol kaca. Percikan pertama muncul bukan dari kecantikan semata, melainkan dari kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan yang terpancar dari Arumdhati. Narayana terpesona oleh cara Arumdhati menjelaskan khasiat akar-akar liar atau kekuatan rempah-rempah yang bisa mengobati penyakit paling langka sekalipun. Ada aura ketenangan dan kebijaksanaan yang memancar dari Arumdhati, sesuatu yang tidak pernah Narayana temukan di antara para dayang atau bangsawan istana lainnya yang hanya peduli pada kemewahan dan intrik.

NARAYANA (Kutukan Jiwa Purbanagara) (GL)Stories to obsess over. Discover now