Prolog

3.6K 112 17
                                        

🌻

Langit London tidak pernah terang sepenuhnya. Mendung menggantung seperti sesuatu yang berat namun tak jatuh, seperti hati pria itu.
Joshua Halbert berdiri di depan jendela apartemennya yang sunyi, menatap keluar seolah ingin melihat lebih jauh dari gedung-gedung tua yang membingkai cakrawala.

Sudah lebih dari empat tahun sejak malam terakhir itu.

Malam saat ia meninggalkan surat di meja ruang kerja.
Malam saat ia tidak mengucap apa pun, tidak memberi salam perpisahan.
Malam saat ia memilih pergi tanpa menoleh.

Dan malam itu, ia berharap kepergiannya akan menjadi ruang bagi Chimon untuk kembali bernapas.

"Aku membencimu!"
Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan siapa pun.

Ia tahu itu benar. Di mata Chimon, ia bukan lagi siapa-siapa. Bukan sosok ayah. Bukan kekasih. Bukan rumah.
Hanya... seorang pria dewasa dengan rasa cinta yang terlalu rumit untuk dimaafkan.

"Dia tidak mau bicara."
"Tidak mau pulang."

Laporan-laporan singkat dari Suea membuat hatinya tercabik. Tapi Josh tahu, jika ia bertahan, jika ia terus memaksa, ia hanya akan semakin menyesakkan.
Maka, ia pergi. Bukan karena berhenti mencintai, tapi justru karena cintanya terlalu dalam, dan terlalu berbahaya.

Dan sejak malam itu, rumah Halbert kehilangan satu lampunya. Dan New York, dengan seluruh proyek ambisiusnya, menjadi pelariannya.

Namun tidak ada pekerjaan, proyek, atau kesibukan yang benar-benar mampu menghapus ingatan tentang mata itu. Tentang suara yang dulu memanggilnya Daddy dengan manja, lalu dengan luka.
Tentang pelukan yang dulu terasa seperti miliknya selamanya.

*

Empat tahun berlalu.
Sekarang ia kembali ke Bangkok. Untuk pekerjaan, katanya. Untuk mengawasi proyek peluncuran, katanya.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu alasannya yang sebenarnya.

Karena di kota inilah hatinya tertinggal.
Karena di sini, ia pernah merasa sangat dicintai, meski akhirnya dibenci.

Malam ini akan ada peluncuran besar.
Dan malam ini pula, kabarnya... seseorang dari Voguers Thailand datang sebagai jurnalis undangan.

Nama itu muncul kecil sekali di lembar rundown-nya. Tapi cukup untuk membuat napasnya tercekat.

Wachira Hanwicha

"Wachira Hanwicha," gumam Josh, jari-jarinya menyentuh nama itu di layar. "Kau menghapus nama Halbert. Tapi kau tak pernah bisa aku hapus dari hatiku."

Diam.
Hening.

Dan ketika malam turun perlahan, dan ruangan itu tenggelam dalam lampu remang keemasan, Josh masih berdiri sendiri.

Ia menutup matanya sejenak. Lalu berkata pelan, seperti doa, seperti pengakuan:

"Kalau malam ini takdir mempertemukan kita kembali, bisakah kau tatap mataku... walau hanya sekali saja?"

🌻🌻🌻

"Maaf, Tuan Halbert, tapi waktu sepuluh menitnya sudah selesai."
"Saya tahu Anda orang sibuk. Saya tidak ingin mengganggu. Saya juga harus bekerja."

"Chimon,"

Nada itu, dan panggilan itu, menggetarkan seluruh sendi tubuhnya.

"Kau tahu, ada yang harus dibicarakan di antara kita berdua..."

...

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi."

🌻🌻🌻

Halooo, Sawasdeekha, Ni Hao, Annyeong, Konnichiwa!

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Halooo, Sawasdeekha, Ni Hao, Annyeong, Konnichiwa!

Selamat datang di Oh My Daddy Season 2: Call Me Daddy!

Betul sekali, ini adalah musim kedua dari cerita sebelumnya: Oh My Daddy. Jadi buat pembaca baru yang mungkin belum tahu, aku sangat menyarankan kalian untuk baca season 1 dulu ya. Kalau langsung loncat ke sini, nanti ceritanya malah bikin bingung karena asal-usul dan alur awalnya enggak ketahuan, hehe... 😁

Nah, buat pembaca setia yang sudah ngikutin dari season pertama, atau bahkan dari cerita-ceritaku sebelumnya, aku mau bilang TERIMA KASIH BANYAK! 😠💛 Tanpa dukungan kalian semua, mungkin aku tidak akan semangat nulis sampai bermusim-musim gini. Yaa, meskipun update-nya kadang sesuai mood, sih. 🙏🙇‍♀️

Jangan lupa dukung aku terus ya di cerita ini. Buat yang belum follow akunku, yuk follow supaya dapat notif kalau aku update atau posting sesuatu di wall. Jangan lupa juga simpan cerita ini ke perpustakaan pribadi, dan yang paling penting, vote setiap kali selesai baca per bab. Kalau tidak sungkan, boleh banget lho tinggalkan komentar! ^^

Atau barangkali mau kasih dukungan lebih buat author gratisan ini, bisa banget traktir satu atau dua es cekek di sini: trakteer.id/secretann

(Satu es cekek harganya cuma Rp. 2,500)

Terima kasih banyak ya! 😚

Selamat membaca Call Me Daddy! 😚

12 Juli, 2025

-Ann

𝑪𝒂𝒍𝒍 𝑴𝒆 𝑫𝒂𝒅𝒅𝒚 ⁽ᵇˣᵇ⁾Where stories live. Discover now