Hening ruangan itu seolah menjerat napas semua yang ada di dalamnya. Hanya suara kertas-kertas naskah yang dibalik pelan, dan desah AC yang mendesis. Cathya Harris duduk di ujung meja panjang, tangan halusnya mengepal di bawah meja, menyembunyikan gemetar yang tak ia harapkan muncul hari ini.
Dua tahun vakum dari dunia film. Dua tahun untuk menyembuhkan diri, menata ulang arah, menjauhi sorotan yang pernah membakar habis harga dirinya. Dan hari ini, dia kembali. Seharusnya ini jadi awal yang baru.
Tapi dunia rupanya belum selesai bercanda dengannya.
Pintu ruangan terbuka. Masuklah seorang pria dengan langkah santai, wajahnya masih sama menyebalkan seperti dulu—Adrian Naufal. Mantan kekasihnya sepuluh tahun silam, kini lawan mainnya di film comeback ini.
"Gue kira lo udah kabur ke luar negeri atau apa," ujar Adrian santai, menjatuhkan tubuhnya ke kursi di seberang Cathya.
Cathya menegakkan bahu, menahan diri agar tidak langsung meninggalkan ruangan. "Sayang banget ya, lo berharap gue kabur biar gak usah liat muka lo lagi?"
Adrian tersenyum miring. Senyum yang dulu membuatnya jatuh hati. Sekarang hanya memantik rasa muak.
"Eh, kalian... santai dulu ya," sela Rizki Darmawan, sang sutradara, yang baru masuk membawa kopi. Pria itu sudah seperti kakak sendiri bagi mereka, sejak film pertama mereka yang dulu meledak di pasaran. "Gue seneng lo berdua akhirnya bisa satu frame lagi. Ini bakal pecah, sumpah."
Cathya menarik napas. Pecah? Yang ada kepalanya yang mau pecah duluan.
"Riz, lo serius banget milih dia?" tanya Adrian, menoleh dengan wajah setengah mengejek. "Gue kira kita bisa cari lawan main yang... ya, lebih gampang diajak kerja sama."
Cathya membalas tatapannya, dingin. "Lucu lo. Lo pikir lo gampang diajak kerja sama? Dulu aja lo yang sering bikin take ulang sampe belasan kali."
Suasana menghangat, dan bukan karena kopi Rizki. Ruangan itu mendadak sempit.
Rizki tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. "Udah, ah. Kalian dulu waktu film pertama malah lebih parah debatnya, tapi hasilnya oke, kan? Gue percaya chemistry kalian."
Chemistry? Kata itu terdengar seperti lelucon buruk di telinga Cathya.
Ia tahu Rizki ingin film ini sukses. Film yang akan menandai kembalinya Cathya Harris, aktris yang dulu jatuh tersandung skandal hukum gara-gara keluar dari Storm Entertainment. Zehan, pemilik agensi itu, hampir membuat karirnya tamat. Hanya karena gigih bertarung di pengadilan dan publik mulai simpati, namanya bisa diselamatkan.
Dan sekarang, dia harus kembali... bersama pria yang paling tidak ingin dia temui seumur hidupnya.
"Ya udah lah, Riz. Ayo mulai aja," ucap Cathya akhirnya, membuka naskah.
Adrian mengangguk, menatapnya penuh tantangan. "Iya. Gue penasaran seberapa jago lo sekarang. Atau lo udah karatan abis vakum dua tahun?"
Cathya tersenyum tipis. Senyum dingin yang dulu hanya muncul saat dia sudah tak ingin lagi basa-basi. "Lo lihat aja nanti, Adrian. Jangan sampe lo yang nggak kuat duluan."
Mereka duduk berhadapan, naskah di tangan. Senandika Senja bercerita tentang sepasang kekasih yang kembali dipertemukan setelah berpisah sepuluh tahun karena sebuah tragedi. Ironis. Seolah naskah itu ditulis untuk mereka.
Babak demi babak dibacakan. Kata demi kata meluncur dari bibir mereka, terkadang terasa seperti lemparan pisau, terkadang seperti ratapan yang tak pernah terucap.
"Kalau saja kau tak pergi waktu itu..." suara Cathya lirih membaca dialog.
Mata Adrian menatap lurus padanya, suaranya nyaris bergetar saat membaca balasan, "Aku tak pernah pergi. Kau yang menutup pintu lebih dulu."
YOU ARE READING
Love, Undone
RomanceDi balik gemerlap lampu panggung dan sorak sorai penonton, selalu ada cerita yang tak pernah diceritakan. Cerita yang hanya mereka berdua simpan rapat-tersembunyi di balik senyum palsu saat konferensi pers, di balik tatapan dingin saat kamera berhen...
