Bab 1 - Langit Pertamaku ✈️

95 1 4
                                        

"Pertama kali aku terbang, aku bahkan belum pernah jadi penumpang pesawat.
Tapi bukan ketinggian yang membuatku takut.
Justru luka yang kubawa dari tanah itu yang terasa lebih berat saat dibawa ke atas langit."

Hai,
Namaku Julian Marco, orang memanggilku "J"

Aku bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang sedang berusaha pulang bukan ke tempat, tapi ke dalam dirinya sendiri.

Cerita ini bukan kisah sukses. Bukan kisah langit biru atau senyum sempurna di kabin pesawat.
Tapi tentang jatuh, lelah, kehilangan, dan bagaimana aku bertahan dengan menulis.

Aku masih ingat betul hari itu. Umurku 24 tahun. Dan itu adalah pertama kalinya aku naik bukan sebagai penumpang, tapi sebagai awak kabin. Lucu, ya? Orang lain tumbuh dengan mimpi jadi pramugara. Aku malah kabur ke profesi ini.

Bukan karena aku ingin menjelajah dunia, bukan karena aku suka ketinggian, tapi karena... aku ingin pergi sejauh mungkin dari rumah.

Aku anak ke-6 dari 7 bersaudara. Kami tinggal di Bandung. Keluarga besar, rumah sempit, tekanan lebih sempit lagi.

Menjadi pramugara terasa seperti satu-satunya cara keluar. Dari trauma. Dari pertengkaran. Dari luka-luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan waktu.

Tapi hari itu... langit menyambutku dengan diam. Dan aku tahu, aku sedang memulai perjalanan panjang.

Bukan hanya melewati udara,
Tapi juga melewati hidup yang belum pernah benar-benar aku hadapi.

"Langit itu luas, tapi tidak selalu memberi ruang untuk bernapas. Dan kadang, di ketinggian yang begitu tinggi... aku merasa justru paling kecil."

Sudah sebelas tahun aku menjadi pramugara.
Aku memulai profesi ini saat usia 24 tahun, dan lucunya... saat itu adalah pertama kalinya aku naik pesawat. Bayangkan, melayani penumpang dari kursi yang bahkan belum pernah aku duduki sebagai penumpang. Tapi hari itu bukan sekadar awal pekerjaan itu adalah titik awal pelarianku.

Aku memilih langit bukan karena mimpi masa kecil.
Aku memilihnya karena aku sedang kabur.
Dari masalah keluarga. Dari luka lama. Dari trauma yang tidak pernah sempat selesai.
Aku ingin pergi sejauh mungkin bukan untuk lari dari hidup, tapi untuk mencoba hidup tanpa sesak.

Namun, yang tak pernah kukira,  Luka itu ikut naik pesawat.
Ia menyamar sebagai profesionalisme.
Ia bersembunyi di balik senyum ramah dan gestur sopan.
Dan saat pesawat mendarat, luka itu ikut pulang bersamaku, menumpuk di sudut hati yang makin penuh.

Kepergian ayahku baru saja terjadi.
Terlalu mendadak. Terlalu sunyi.
Aku tidak sempat bicara banyak hal. Tidak sempat minta maaf. Tidak sempat bilang betapa aku rindu dan masih ingin dia bangga.

Kadang, aku masih refleks ingin mengabarinya.
"Pak, aku terbang ke kota baru hari ini."
Tapi tidak ada lagi yang menjawab. Hanya sunyi. Hanya sesak yang pelan-pelan kubiasakan.

Orang-orang sering bilang pekerjaanku impian.
Tapi mereka tidak tahu,
betapa sering aku menyambut senyum penumpang sambil menahan tangis sendiri.
Betapa sering aku tertawa sambil gemetar karena semalam tak bisa tidur.
Betapa banyak malam yang kuhabiskan di kamar hotel asing dengan pertanyaan yang sama,
"Apa aku kuat bertahan sampai besok?"

Langit yang Aku LewatiStories to obsess over. Discover now