PROLOG - Saat Pintu Ditutup, Jalan Lain Terbuka

5 0 0
                                        

"Setiap akhir adalah awal yang menyamar. Tapi tidak semua orang menyadari, bahwa awal yang baru sering kali menunggu di tempat yang tak pernah kita duga."

Malam itu, aula SMA Wijaya Mandala dipenuhi cahaya temaram dan gemuruh suara para siswa kelas 12 yang baru saja menyelesaikan satu fase dalam hidup mereka. Dinding aula dihiasi foto-foto kenangan selama tiga tahun terakhir—tawa, tangis, cinta pertama, pengakuan yang tidak pernah sampai, dan mimpi yang masih menggantung.

Di antara keramaian itu, Alif Oetomo duduk sendiri di baris tengah, memandangi layar ponsel yang gelap. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada tanda-tanda bahwa orang yang ia pikirkan sejak pagi akan muncul malam ini. Ia sudah mengenakan toga dan pin emas bertuliskan "Lulusan Terbaik Desain Visual", tapi entah kenapa semua itu terasa hampa.

Karena Liana Tanjung tidak datang.

Ia menunduk, menahan napas yang terasa berat. Hari kelulusan seharusnya menjadi hari penuh suka cita. Tapi bagi Alif, hari ini adalah hari perpisahan dengan banyak hal: sekolah, teman-teman, dan perasaan yang tak pernah berhasil ia ungkapkan.

Jihan Aryasari, yang duduk beberapa baris di belakang Alif, memperhatikan gelagat laki-laki itu. Ia mengenal tatapan kosong Alif dengan sangat baik. Karena sudah bertahun-tahun ia menyaksikan dari kejauhan, menyukai seseorang yang tidak pernah melihat ke arahnya. Hari ini pun, seperti hari-hari sebelumnya, Jihan tetap menjadi penonton diam dari kisah cinta yang bukan miliknya.

"Kenapa harus dia yang terus kau tunggu, Lif?" bisiknya pelan, meski ia tahu jawabannya tak akan pernah ia terima.

Sementara itu, Ben Sanjaya, dengan gaya khasnya yang flamboyan, berjalan mondar-mandir di dekat panggung, sesekali memotret suasana aula dengan kamera analognya. Ia sibuk mewawancarai guru-guru favoritnya, bertanya soal masa depan, sambil sesekali melirik pintu masuk.

Ia berharap Liana datang. Meskipun tahu harapannya tipis, tetap saja ia menunggu. Karena bagi Ben, Liana bukan hanya cinta masa SMA-nya—ia adalah simbol dari semua hal yang tidak bisa ia miliki meskipun sudah mencoba berkali-kali.

Siska Wibisono berdiri bersama geng cewek OSIS yang sibuk mengatur jalannya acara. Tapi tangannya tak berhenti mengetik di HP-nya:

📱@MINUL
"Kelulusan ini bukan akhir. Tapi beberapa orang tidak menutup pintunya dengan baik. Mungkin karena mereka masih berharap seseorang kembali."

Pidato kepala sekolah yang panjang dan penuh basa-basi akhirnya berakhir. Musik instrumental mengalun pelan. Satu per satu siswa dipanggil ke panggung untuk menerima sertifikat kelulusan.

Alif berdiri dan berjalan naik ke atas panggung dengan langkah pelan. Saat namanya disebut sebagai lulusan terbaik, aula bersorak. Tapi tepuk tangan itu tidak membuat dadanya hangat. Karena dia tahu, tepuk tangan seseorang yang paling ingin ia dengar tidak ada di ruangan ini.

Toga dilempar ke udara. Ratusan impian terbang bersama malam. Tapi tidak semua orang merasa lega. Beberapa justru merasa kosong, seperti ada bagian dari hidup mereka yang belum tuntas.

Dan itu benar.

Karena cinta yang tidak pernah diungkapkan... selalu meninggalkan bekas.

Beberapa minggu kemudian...

Jakarta menyambut pagi dengan lalu lintas padat dan teriakan klakson yang seperti lagu pembuka semester baru. Di salah satu sudut kota, sebuah kampus seni yang eksentrik—Kampus Seni Nusantara—mulai dipenuhi mahasiswa baru dari berbagai penjuru.

Alif Oetomo memasuki gerbang kampus dengan ransel besar di punggung dan headphone menggantung di leher. Ia memilih jurusan Desain Interior, berharap bisa memulai hidup baru, membangun mimpi tanpa bayang-bayang yang terus menghantuinya.

"Fokus. Jangan pikirkan siapa-siapa. Ini waktumu sendiri," batinnya.

Tapi dunia tidak sesederhana itu.

Jihan Aryasari datang di hari yang sama. Jurusannya adalah Komunikasi Visual. Ia menata langkahnya dengan percaya diri, berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti menjadi figuran. Kali ini, ia ingin tampil di panggung utama kehidupannya.

Ben memilih Musik Digital dan langsung bergabung dengan komunitas band kampus. Ia tetap jadi magnet sosial, mudah akrab dengan siapa saja, tapi kini lebih dewasa, tidak lagi terlalu berharap pada hal-hal yang tak pasti.

Siska masuk Fashion Design. Ia masih diam, masih mengamati, dan masih menjadi satu-satunya orang yang membaca situasi lebih cepat dari siapa pun.

Mereka bertemu di kantin kampus siang itu. Tertawa, membicarakan masa lalu, dan bersyukur bisa kuliah di tempat yang sama, meski tak direncanakan.

Hanya ada satu nama yang tak disebut dalam obrolan mereka.

Liana.

Di gedung fakultas seni rupa, seorang gadis berambut sebahu dan mengenakan jaket denim pudar turun dari taksi online. Tangannya menggenggam map berisi dokumen beasiswa.

Liana Tanjung kembali ke Jakarta.

Ia melangkah pelan, menatap papan nama kampus, lalu menarik napas panjang.

"Ini bukan tentang mereka. Ini tentang aku."

Ia tidak tahu bahwa langkah kecilnya hari ini... akan membawa badai ke dalam hidup orang-orang yang belum benar-benar menyembuhkan diri.

Di meja panitia ospek, Jerome Prasetyo, mahasiswa tingkat akhir yang terkenal karena ketampanannya dan bakat musiknya, sedang mengecek daftar nama mahasiswa baru.

Matanya tertumbuk pada satu nama:

Liana Tanjung – Seni Lukis – Beasiswa Nasional

Ia tersenyum kecil. Tanpa tahu bahwa nama itu akan mengubah hidupnya.

🌀 @MINULkampus:
"Seseorang kembali. Tapi kali ini, bukan untuk mengulang cerita. Mungkin untuk menyelesaikan. Atau... untuk membuka luka yang belum sempat dijahit."
#KarenaCintaPernahTinggalDiSini #Prolog #MINULkampusDrop

📌 CATATAN UNTUK WATTPAD:

💬 Kalau kamu pernah kehilangan seseorang tanpa sempat berpamitan, cerita ini mungkin akan menyentuh bagian terdalammu. Siapkan hatimu untuk bab-bab selanjutnya yang akan membawa kamu ke dunia baru, namun dengan rasa yang lama.

🧡 Save dulu, komen juga siapa yang paling kamu rindukan dari masa SMA: Alif, Liana, Jihan, atau Ben?

📲 Follow cerita ini dan aktifkan notifikasi supaya kamu nggak ketinggalan update terbaru dari MINUL!

#KarenaCintaPernahTinggalDiSini
#BabProlog
#MINULkampusDrop
#WattpadRomance
#SpinOffSeries
#CintaDiamDiam
#CampusLove
#DesainInterior
#SeniRupa
#OspekCinta

Karena Cinta Pernah Tinggal Di SiniGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt