[Jejak Aroma Hujan]
------$★$------
Seoul tidak pernah benar-benar tidur, bahkan ketika langit menumpahkan hujan deras yang membasahi aspal hitam Gangnam sore itu.
Di kursi belakang sebuah sedan hitam mengkilap yang harganya bisa membeli satu blok apartemen mewah, Sung Jin-woo memejamkan mata. Jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk sandaran tangan berbahan kulit, sebuah ritme tidak sabar yang ditakuti oleh ribuan karyawannya.
"CEO Sung, pertemuan dengan Direksi Jepang ditunda hingga besok pagi," suara asistennya terdengar ragu dari kursi depan.
"Hm," hanya itu jawaban Jin-woo.
Alpha dominan itu membuka matanya, menatap kosong ke arah jendela yang berembun. Lima tahun. Sudah lima tahun sejak ia mengambil alih perusahaan ayahnya, mengubah Ahjin Corporation menjadi raksasa bisnis global.
Tidak heran dengan posisinya saat ini. Dia memiliki segalanya.
Kekuasaan, uang yang tidak berseri, dan antrean Omega maupun Beta yang rela melakukan apa saja hanya untuk satu malam bersamanya.
Namun, feromonnya terasa hampa.
Hidungnya yang tajam-insting Alphanya-masih mencari satu aroma spesifik. Aroma yang tidak pernah bisa ia lupakan, meski ia sudah mencuci seprai hotel itu berkali-kali dalam ingatannya.
Mint segar, kertas tua, dan sedikit vanila manis.
Itu adalah aroma Omega yang menghilang lima tahun lalu setelah malam paling liar dalam hidup Jin-woo. Omega yang membuatnya, Sang Raja Alpha, berlutut memohon di antara seprai yang kusut.
"Berhenti sebentar," perintah Jin-woo mendadak.
Sopirnya, Igris, terkejut namun segera menepikan mobil di pinggir jalan distrik Seongdong yang lebih sepi untuk menghindari kemacetan total di jalan utama.
Jin-woo tidak tahu kenapa ia menyuruh berhenti. Instingnya berteriak. Jantungnya, yang biasanya berdetak tenang seperti mesin, tiba-tiba memacu kencang.
Matanya tertuju ke seberang jalan. Di sana, di antara deretan ruko yang mulai menyalakan lampu neon, terdapat sebuah toko roti kecil dengan cat putih gading yang hangat. Plang kayu di atasnya bertuliskan: [Star Stream Bakery].
Pintu kaca toko itu terbuka. Lonceng kecil berdenting, meski suaranya tenggelam oleh hujan.
Seorang pria keluar.
Waktu seolah berhenti bagi Sung Jin-woo.
Pria itu mengenakan sweater krem kebesaran yang menenggelamkan tubuh rampingnya, dipadukan dengan apron cokelat yang belum dilepas. Ia sibuk membalikkan tanda Open menjadi Closed. Saat angin menerpa, pria itu menggigil sedikit, menaikkan syal rajutnya hingga menutupi separuh wajah.
Tapi Jin-woo tahu. Ia mengenali mata itu. Mata hitam jernih yang tampak selalu membaca dunia dengan cara yang berbeda. Mata yang lima tahun lalu menatapnya dengan kabut gairah dan air mata.
"Kim... Dokja?" bisik Jin-woo, suaranya tercekat. Nama yang selama ini hanya bisa ia gumamkan dalam mimpi buruknya karena frustrasi.
Tangannya sudah bergerak ke gagang pintu mobil, siap untuk berlari menyeberang jalan dan menerkam Omega itu agar tidak lari lagi. Namun, gerakan Jin-woo terhenti total.
Pintu toko roti itu terbuka lagi.
Kali ini, sesosok makhluk kecil berlari keluar dengan tawa riang, mengenakan jas hujan kuning cerah dan sepatu bot karet yang berdecit.
"Baba! Hujan!" seru anak kecil itu, melompat ke genangan air.
Dokja-Omeganya-tersenyum. Sebuah senyum yang begitu lembut hingga meremukkan hati Jin-woo yang keras. Dokja berjongkok, mengabaikan lutut celananya yang basah, lalu merapikan tudung jas hujan anak itu.
"Biyoo-yah, jangan lari terlalu jauh, nanti Baba susah mengejarmu," ucap Dokja lembut, lalu mengecup pipi gembil anak itu.
Jin-woo terpaku. Darahnya mendidih, tapi kali ini bukan hanya karena gairah.
Saat anak kecil bernama Biyoo itu menoleh ke arah jalan raya, menatap lurus ke arah mobil hitam Jin-woo yang terparkir di seberang, napas Jin-woo tercekat.
Rambut hitam legam yang sedikit berantakan. Dan mata itu...
Mata anak itu bukan hitam seperti Dokja. Mata itu berwarna abu-abu, tajam, dan penuh intimidasi alami. Mata seorang Alpha murni.
Persis seperi Sung Jin-woo.
Cengkeraman Jin-woo pada gagang pintu mobil mengeras hingga terdengar bunyi retakan halus pada material door trim yang mahal itu. Aura dominannya meledak keluar, memenuhi kabin mobil dengan aroma petrichor dan listrik statis yang mencekik, membuat sopir dan asistennya gemetar ketakutan di kursi depan.
Sudut bibir Jin-woo terangkat perlahan, membentuk seringai yang mengerikan namun penuh kepuasan.
Dia tidak hanya menemukan orang yang ia cari selama ini.
Sung Jin-Woo juga menemukan warisannya.
"Igris," suara Jin-woo rendah, bergetar oleh kepemilikan yang mutlak. "Batalkan semua jadwal besok. Aku mau beli gedung toko roti itu. Sekarang."
Sung Jin-woo tidak akan membiarkan mereka lolos kali ini.
------$★$------
To be continued...
YOU ARE READING
Claiming My Baker (+18)
RomanceBagi dunia, Sung Jin-Woo adalah CEO dingin yang tak tersentuh. Tapi bagi Kim Dokja, dia adalah masa lalu yang harus dihindari. Lima tahun bersembunyi, pertahanan Kim Dokja runtuh dalam satu hari ketika sang Alpha menemukan toko rotinya. Yang lebih...
