Part 1

16.3K 696 57
                                        

Bulan bersinar terang, menemani orang-orang yang beraktivitas pada malam hari. Terlihat seorang pemuda tampan nan manis berjalan menuju ke suatu tempat yang di bilang tempat tongkrongannya bersama dengan keempat temannya, pemuda itu bernama Choi Yeonjun.

Dirinya sudah biasa berjalan kaki sendirian tanpa ada yang menemaninya. Terlebih lagi malam ini pukul 10 malam jadi masih ada orang-orang yang lewat jalan seperti ini.

Ia pun sudah sampai di tempat tongkrongannya, sebuah rumah kecil dan hanya ia serta keempat temannya yang boleh ke sini. Rumah itu terlihat sederhana tetapi mempunyai banyak kenangan di sana.

Yeonjun menghampiri rumah itu dan mengetuk pintu, ia menatap beberapa motor yang sudah terparkir rapi di dekat rumah. Sepertinya teman-temannya sudah datang. Sayangnya tak ada yang menjemputnya.

Tok! Tok! Tok!

Yeonjun menunggu seseorang membuka pintu itu. Tetapi tak ada sahutan sama sekali, ia memutuskan untuk berteriak saja.

"PAKET! WOY BUKA!" ucap Yeonjun sambil mengetuk pintu itu terus menerus. Angin di malam hari lama-lama membuatnya kedinginan, harusnya ia memakai hoodie bukan malah kaos hitam tipis berlengan pendek.

"Dingin ih!" gerutu Yeonjun sembari mengusap-usap lengannya agar merasa hangat.

Sia-sia Yeonjun bersikap sopan untuk bertamu, akhirnya ia membuka pintu itu saja. Lagipula dirinya sudah biasa asal masuk saja.

Yeonjun menatap tajam kedua temannya yang sedang makan dan minum di ruang tamu. Kurang ajar sekali mereka ini, dirinya sudah mengetuk pintu berkali-kali padahal mereka berada di ruang tamu.

"Kurang ajar! Minimal buka lah, kalian punya telinga kan?" kesal Yeonjun lalu duduk di dekat pemuda tinggi berlesung pipi bernama Soobin.

"Ya biasanyakan juga buka sendiri" jawab lelaki bule itu sambil memakan makanannya bernama Hueningkai.

"Tch!" decih Yeonjun sambil memutar malas bola matanya.

"Udah ga usah sok ngambek gitu!" ucap Soobin, ia menarik kepala Yeonjun ke dalam dekapannya. Sungguh menggemaskan sekali orang yang berumur seperempat abad ini.

Yeonjun mendorong tubuh Soobin, ia hampir tak bisa bernapas karena dekapan Soobin begitu erat.

"Hah... Hah... Gue hampir ga bisa napas!" gerutunya sambil menjitak kepala Soobin.

Si pelaku hanya tertawa lalu mencium pipinya. Yeonjun sudah terbiasa akan perlakuan manis oleh teman setongrongannya. Cuman, tongkrongan macam apa ini yang tiba-tiba mencium pipi temannya? Hanya mereka yang mengerti dan terdapat banyak rahasia yang hanya mereka ketahui saja.

Tiba-tiba saja ada seorang pemuda memeluk erat tubuh Yeonjun, ia memeluknya dari belakang serta mendusal ke perpotongan leher lelaki ini. 

Yeonjun mengusak rambutnya itu. "Tumbenan? Lagi ada masalah, Gyu?" pemuda itu bernama Beomgyu.

"Ada... Orang tua gua ribut lagi" jawab Beomgyu sambil menyamankan posisinya, ia menarik Yeonjun ke dalam pangkuannya.

Yeonjun membiarkan Beomgyu tenang sambil memeluknya. Ia juga tak bisa memaksa Beomgyu untuk bercerita, lagipula ia menunggu Beomgyu siap dulu.

Brak!

Sebuah kotak permainan yang menurut mereka sangat asing di lemparkan begitu saja ke meja oleh seorang pemuda lainnya bermata kucing. Semua mereka berempat reflek terkejut.

"Apa itu?" tanya Yeonjun pada pemuda itu.

"Permainan, gua asal beli. Kayaknya bakalan asik!" jawab pemuda itu dan duduk di dekat Hueningkai.

Game Aneh [ Yeonjun Harem ]Stories to obsess over. Discover now