Pagi itu, SMA Laksana Negeri kedatangan murid pindahan baru.
Namanya Erlang. Dari luar dia terlihat biasa. Wajah tenang, gaya bicara datar, dan raut wajah tanpa ekspresi. Tapi tak ada yang tahu, Erlang bukan murid biasa. Dia datang dari kota kecil bernama Aozora, tempat yang tenang… dan tempat semua kekacauan hidupnya dimulai.
> "Nama saya Erlang. Dari Aozora."
Suaranya pelan, tapi tajam.
“Silakan duduk,” ucap guru sambil menunjuk bangku pojok belakang.
Erlang berjalan pelan. Tasnya tipis, tak berat. Tapi isinya cukup untuk bertahan: buku, pisau kecil tersembunyi, dan... satu foto lama yang selalu disimpannya.
---
Di kelas, dia tak banyak bicara. Ia hanya memandangi sekeliling. Memetakan ruang. Menandai siapa yang bicara paling banyak, siapa yang tertawa paling keras, dan siapa yang diam tapi mengamati.
Bukan karena dia paranoid. Tapi karena itu yang dia pelajari… dari pekerjaannya dulu.
> "Pikir cepat, bereaksi lebih cepat."
Itu moto tempat dia dulu dilatih—di Aozora.
---
Saat istirahat, seorang cewek menyapanya.
“Erlang, ya? Anak pindahan?”
Cewek itu tersenyum cerah. Rambut pendek sebahu. Namanya Risa.
“Aku Risa. Kalau butuh bantuan, bilang aja ya.”
Erlang menatapnya datar sesaat.
“…makasih.”
Dari luar, obrolan itu biasa. Tapi di kepala Erlang, segalanya dihitung:
> Kenapa dia nyapa duluan? Apa dia tipe yang mudah percaya? Atau cuma basa-basi?
---
Hari itu berjalan tenang.
Tapi malamnya, saat Erlang kembali ke kamar kos kecilnya…
Ada sesuatu di bawah pintu.
Amplop putih. Tanpa nama.
Ia memungutnya perlahan, membuka dengan hati-hati.
Di dalamnya hanya satu hal:
Satu lembar foto.
Foto dirinya.
Diambil diam-diam, dari jarak dekat.
Dengan satu tulisan merah menyilang:
> “TARGET YANG HIDUP”
Erlang mematung. Detak jantungnya naik. Tangannya mengepal.
> “Mereka menemukan aku.”
VOCÊ ESTÁ LENDO
TARGET YANG HIDUP
AçãoMasa Lalu yang Memburuku Aozora bukan tempat damai bagi semua orang. Erlang, siswa pindahan yang pendiam dan nyaris tak dikenal, menyimpan masa lalu kelam yang tak pernah bisa ia buang. Di balik seragam sekolah dan senyum sopan, ia adalah bayangan d...
