Hujan telah mengguyur kota sejak sore, belum ada tanda-tanda bumi akan berhenti menangis hingga malam menua. Jalanan mengkilap oleh genangan air dan lampu jalan yang temaram.
Di ujung distrik lama yang sudah tak ramai sejak beberapa tahun terakhir, berdiri sebuah bangunan kecil bertingkat dua. Dengan lampu yang hangat dan jendela besar di tiap sudut cafe, yang dihiasi tulisan berwarna keemas-an yang bertuliskan: Café Nocturne.
Bangunan itu tidak pernah benar-benar ramai. Ia hidup hanya di antara jam delapan malam hingga pukul tiga pagi. Pelanggannya pun selalu itu-itu saja yang seolah pembenci pagi.
Beberapa mahasiswa yang menyukai suasana tenang, beberapa seniman yang menolak mentari, dan beberapa orang yang selalu terlihat pucat dan terlalu sunyi.
Manusia yang sejatinya mati. Yang seluruh insan bumi sebut sebagai vampir. Dan manusia yakini sebagai Folktale.
Vampir yang tak tersentuh jati dirinya. Beberapa duduk di bangku universitas, sebagian bekerja profesional, dan menjalani hidup dengan rapi, tenang. Nyaris tak terdeteksi.
June bersenandung lirih disela langkah kecilnya menuju Cafe nocturne. Malam cukup dingin dan basah. Cuaca yang cukup ia benci. Hujan, dingin, dan Basah. Namun sekuat apapun ia membenci, hujan tetap menjadi perisai kala benaknya penuh akan riuh kesunyian.
Ia menarik hoodie-nya begitu sampai didepan bangunan kecil lama itu. menyisakan jejak basah pada setiap pijakan yang ia tinggalkan. June berhenti sejenak sebelum akhirnya mendorong pintu kaca kafe. Bell kecil di atas pintu berdenting pelan seiring dengan kedatangannya.
"Sendirian lagi?" Tanya Faye menoleh pada June. Ia mengenakan apron hitam dan sedang menuang espresso ke cangkir putih. Ia terlihat berusia akhir dua puluhan.
June mengangguk, lalu memilih kursi di sudut dekat jendela. Hujan di luar seperti lukisan bergerak dari sudut pandangnya. Dan sesuatu yang tanpa ia sadari membuatnya terseret kembali ke kafe ini.
Bukan sebab kopi pahit nan pas yang mereka buat, namun atmosfer yang tidak jarang terasa berbeda. Seolah waktu berjalan lebih lambat. Seakan dunia di luar tak pernah benar-benar nyata.
Beberapa menit berlalu, pintu terbuka kembali. Menampilkan seseorang yang baru saja masuk.
June tidak menoleh, namun ia merasakannya. Entah mengapa hawa dingin selalu hadir membersamai orang itu. Perlahan, ia melirik melalui bayangan kaca jendela.
Seorang perempuan-tinggi, berkulit pucat, mengenakan coat hitam panjang. Rambutnya sedikit basah, namun ia tampak tidak peduli. Mata gelapnya menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya duduk dua meja dari tempat June.
Orang yang sama. Sudah tiga malam terakhir.
"Latte, seperti biasa?" tanya Faye.
Perempuan itu mengangguk. Suaranya dalam dan pelan. "Terima kasih."
June akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Sorot mata perempuan itu tidak hanya gelap. Seperti sesuatu yang sudah hidup jauh begitu lama.
"June."
June kaget. Faye berdiri di sampingnya sambil meletakkan cangkir cappuccino.
"Nggak usah kaget gitu, kamu kayak baru kenal aku aja," kata Faye terkekeh.
June mengangkat bahu. "Kamu hafal semua pesanan pelanggan ya."
"Cuma kalau kamu rutin datang." Faye berjalan kembali ke meja bar. "Kopi malam ini gratis, anggap aja hadiah karena kamu nggak pernah bolos."
June menggumam pelan, "Thanks."
Beberapa saat berlalu dengan hening. Hujan semakin deras. Dari balik jendela, bayangan lampu mobil yang lewat hanya kilasan basah.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Cafe nocturne
Fantastikcerita fantasi kak, wlaupun vampir si, kalo cocok lanjut kalo nggak putus aja gapapa, tpi smoga cocok hehe, tapi alangkah baiknya coba duluu ehehe, couple nya banyak kok. enjoy yeaa🫶
