Andai matamu
Melihat aku, terungkap semua
Isi hatiku, alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu. Andai kau tau.
-Rahasia Hati [Nidji]
Suasana ricuh di kelas seperti biasa. Vania sekarang sedang berjalan terburu-buru karena dirinya hampir telat, saat masuk ke dalam kelas. Nafasnya tersengal-sengal saat sudah duduk di kursinya, sudah ada dua siswi perempuan duduk di dua bangku samping kirinya. Mereka berdua menatap dirinya dengan tatapan tanda tanya, sementara Vania yang ditatap belum sadar jika dirinya sedang ditatap.
“Vaniaa, kamu kenapaa?” Tanya seorang perempuan memiliki wajah mungil dipadukan dengan rambut wolfcut hitam tebal kepada Vania.
“Kamuu kenapa, nakk?” Pertanyaan kedua dilontarkan oleh perempuan memiliki kulit berwarna putih susu, bulu mata lentik nan tebal di mata besar dia dengan rambut wayv hitam lebat dengan model jellyfish cut.
“Lagi nafas. Bentar dulu, aku tarik nafas terus hembusin nafas. Dulu,” ujarnya sembari menunjukkan telapak tangan ke mereka berdua. Setelah sepuluh detik berlalu, nafasnya kembali seperti semula. Senyum miliknya menghiasi bingkai wajah Vania sepertinya gadis itu mengalami suatu hal yang menyenangkan, “Sebelumnyaaa… aku mau ucapin terima kasih ke kalian berdua! Heheheh, berkat kalian aku dapet penghasilan tambahan dan pekerjaan sampingan. Untuk bantu ekonomi keluarga aku.”
“Sama-samaa, mamih. Kita ikut senengg, kok. Karena bantuin kamu,” “Santai aja. Cuy, kita juga nggak keberatan bantuin lo.” Yang pertama menjawab ucapan Vania adalah Cloe Diana dan kedua adalah Nayyara Aprilia, mereka berdua adalah teman dekat ia saat kelas pertama semester dua Vania hingga saat ini. Yaitu kelas 9 semester akhir. Di mana hampir seluruh ujian praktek maupun ujian tulis sudah dikerjakan dengan hasil sebaik mungkin.
“Mmm… gini, sebenernya ada yang mau kita sampaiin suatu hal,” beritahu Cloe kepada Vania. Terlihat dari mimik wajah kedua temannya itu begitu menyesal, dia yang tidak tau alasannya mengapa Cloe juga Nayyara menunjukkan ekspresi wajah sangat menyesal. Lalu dirinya mengerutkan dahi, “Yaa? Kasih tau aja, adaa apa?”
Cloe menghembuskan nafas berat sebelum memberitahu suatu hal kepada Vania. Dia merasakan seperti aktris-aktris yang sedang menunggu hasil pemeriksaan dari dokter, “Maaf.. kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tetapi, takdir berkata lain.” Hal itu yang ada di otak Vania. Namun, mungkin itu sedikit berlebihan jika Cloe memberitahu suatu hal itu seperti yang ada di sinetron azab, “Sebenernya kamu diizinin kerja sampe hari Senin depan sama owner kafe nya.”
Entah bagaimana perasaan Vania mengetahui bahwa dirinya hanya dibolehkan kerja sampai hari Senin minggu depan. Perempuan itu terkejut saat mendengar hal tersebut, dan kemudian menanyakan sekali lagi kepada Cloe bahwa yang didengar nya ini tidak salah. “Serius, Cloe?” Perempuan yang duduk di samping Nayyara itu mengangguk kepalanya dengan pelan. Seolah mengisyaratkan bahwa dia ikut merasakan kesedihan juga dengan apa yang dialami oleh Vania.
“Maaf, yaa..? Van, tapi kamu bakalan dikasih gaji selama kamu kerja di kafe itu. Sama owner-nya lewat transfer,” “Lumayan tau. Gaji kamu selama 12 hari dapet satu juta. Nanti kalo ada lowongan lagi, kita kasih tau ke kamu. Van,” lanjut Nayyara untuk menghibur Vania. Ia tersenyum setengah, “Bwhahaa… santai aja. Tau, lagian aku sendiri tau kalo anak SMP tuh nggak boleh kerja terlalu lama. Nggak kayak lulusan SMA yang bisa kerja lama walaupun susah nyar lowongan kerja dan keterima nya, ibaratnya ini aku lagi magang selama dua Minggu di Bird's Caffè jadii.. nggak usah merasa bersalah. Gitu,” jawab Vania dengan nada santai kepada kedua temannya itu.
🌪️🤺⚔️
Sembari menuruni anak tangga. Vania tidak sengaja berpas-pasan dengan laki-laki Tan skin yang memiliki tinggi tubuh sekitar 158 centimeter, kepalanya menunduk. Namun, matanya melirik ke arah dia, “Eh. Wildan Ira dicariin sama Kiana. Tuh,” beritahu lelaki jangkung mempunyai rambut keriting kepada laki-laki Tan skin itu.
Dia tersenyum saat mendengar nama “Kiana” dan menatap laki-laki rambut keriting itu yang berada di atas. Dia adalah teman dari Wildan Adimantra yaitu lelaki yang sedang diperhatikan oleh Vania secara diam-diam, “Tunggu bentar. Isun ke kelas,” sahutnya. Mata indah milik Wildan bertemu dengan mata cokelat tua Vania. Dengan cepat perempuan itu bergegas mempercepat langkahnya agar tidak bertemu lagi dengan dia.
“Astaga. Apa yang gue pikirin tadi?” Monolog Vania sembari menuruni anak tangga, hari ini sepertinya hari yang banyak kejutan untuk dirinya. Vania kini sedang menuju lobby sekolah terletak di dekat anak tangga, “Hufttt. Gue masih ada satu pekerjaan sampingan… jadi, jangan panik. Eh, dua kerjaan sampingan.” Tidak terasa setelah berbicara sendiri. Vania sudah sampai di depan lobby sekolahnya, ia harus ke lobby untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
“Permisi. Pak, saya mau mengambil ponsel yang tadi di titipkan oleh paman saya,” ujar Vania kepada guru Informatika yang mengajar di kelasnya. Dia lalu mengangguk kan kepaal sembari memberikan benda berbentuk persegi panjang kepada Vania, “Terima kasih, pak.” “Sama-sama,” balas pak Aji.
🌪️🤺⚔️
04:30 AM
Deru mesin kendaraan yang berlalu lalang di jalan membuat Vania malas, “Si bejir. Macet, padahal perut gue ini lagi bunyi,” eluh gadis itu yang sedang duduk di halte bus sembari melihat kondisi macet di hadapan-nya. “Udah, lah. Nggak jadi, duit gue udah dikit… mending gue jalan kaki. Sekalian diet,” keputusan Vania akhirnya muncul untuk berjalan kaki saja agar menghemat uang.
Ia bangkit dari tempat duduk disediakan oleh halte bus. Vania kemudian melangkah ke depan, kaki mungilnya mulai menyusuri tepi trotoar. Dirinya mulai berkelahi dengan pikirannya sendiri sembari berjalan, perlahan fokus Vania mulai menghilang. Netra cokelat tua ia meniliki tatap mata yang sedang kosong, hanya kedua kaki gadis itu saja yang tetap berfungsi. Perutnya berbunyi untuk kedua kali. Matahari yang hampir terbenam, kini sepenuhnya sudah menghilang dan digantikan oleh rembulan putih yang tidak terlalu terang. Jalanan kini, semakin ramai dipadati kendaraan karena sudah memasuki jam pulang kerja pars pekerja kantoran. Sementara, ia hanya melamun hingga sampai rumah.
🌪️🤺⚔️
YOU ARE READING
Akhir Perang
Teen FictionSunyi, bagaikan suara yang ditelan oleh gelap. Kehidupan sejak kecil hanya diberikan warna abu-abu, tak ada warna cerah Pelangi. Matanya selalu melihat orang-orang yang dirinya sayang satu persatu pergi meninggalkan dia dari dunia kejam ini, "Gue an...
