My Favorite Butler

72 5 7

Erika, wanita muda berperawakan cantik nan tegas itu menyisir seluruh ruangan, menabrakkan pandangan ke arah tumpukan file kasus yang harus diselidiki dan diselesaikan. Bos-nya, Tuan White baru saja berlalu dengan meninggalkan berhelai-helai masalah yang kusut, belum selesai satu sudah ada kasus-kasus lainnya. Erika yang sudah berpengalaman lebih dari lima tahun pun kewalahan dengan pekerjaannya, pekerjaan di intel kepolisian bagian supranatural benar-benar tak bisa dianggap remeh.

Dia menghela napas sembari membuka sebuah file yang berada paling atas, tangan putih yang mulus itu bergerak-gerak menyusuri kata demi kata dan foto-foto yang terpajang, di sana terdapat sebuah kasus rumah berhantu yang dicurigai jika penyebabnya adalah arwah penasaran yang pernah terbunuh tapi pembunuhnya tak pernah tertangkap.

"Kenapa banyak sekali kasus rumah hantu?" Erika bergumam kesal, rumah hantu sudah bercokol sebagai kasus peringkat satu di bagian supranatural, mungkin ada 1000 kasus rumah hantu yang pernah ditangani Erika dan tim-nya, dan ini akan menjadi yang ke-1001.

Baru saja Erika ingin melempar file itu ke lantai suara pintu berderit mencapai gendang pendengaran, seorang pria berpenampilan necis muncul dan langsung bergidik ketika mata mereka bertemu. Erika sontak memasang wajah nakal dan jahil terhadap salah satu anggota tim-nya itu, "Dilly! Syukurlah kau datang, aku kira kau sibuk dengan Sraylira." Mata Erika berbinar dan dia hampir saja loncat dari tempat duduk empuknya untuk memeluk Dilly.

Dilly mengambil jarak dan mendesah, "Tuan White bilang kasus rumah hantu di jalan X sudah dipecahkan oleh ghost hunter jadi kita tak perlu lagi menyelidikinya,"

Erika menganggut dan dia membuka mulut, "Jadi, aku tidak ada kerjaan hari ini, ya? Padahal aku sudah bersemangat untuk kasus biasa itu."

"Bukankah tumpukan kasus masih menggunung di mejamu? Apanya yang tidak ada kerjaan?" Dilly menunjuk ke tumpukan file sementara Erika hanya mengedikkan bahu. Sesaat kemudian Erika berjalan ke arah Dilly, menepuk bahunya lalu berbisik, "Dilly, jadilah pelayanku untuk satu hari ini sampai matahari terbenam."

Tak lama Dilly merespons, "Siap, Nona Erika."

Erika tersenyum penuh kemenangan dan benaknya mulai menyusun rencana jahil untuk mengerjai Dilly, si pelayan. Sebenarnya Erika merasa bersalah karena menggunakan kemampuan hipnotisnya untuk Dilly tapi... dia sedang bosan dan butuh hiburan, satu-satunya yang ia inginkan jadi korban adalah Dilly, adik kesayangannya.

"Dilly, aku haus, buatkan teh hitam. Gulanya yang khusus, satu bungkus kecil saja dan airnya hangat, terus gelasnya yang berkuping... lalu sediakan biskuit kacang mete, ambil di kabinet." Dengan tegas Erika kembali duduk di kursi berputar dan memerintah Dilly. Dilly yang bak kerbau dicolok hidung langsung permisi dari ruangan menuju pantry kemudian menghidangkan permintaan Erika. Erika menyeringai, "Aku capek, tolong pijat bahuku."

Kini Dilly memijat bahu Erika, tanpa protes. Jika dalam keadaan normal, Dilly tentu saja tak sudi diperintah Erika.

Pintu ruang khusus tim supranatural terbuka, seorang gadis mungil berdiri di sana dengan pandangan bingung, dia salah satu orang yang harus dilindungi oleh tim supranatural, Sraylira Melati. "Sraylira! Kau datang mencari Dilly?" tebak Erika sembari menikmati pijatan Dilly di bahunya. Sraylira melangkah masuk dan memiringkan kepala bulatnya, "Apa yang kalian lakukan? Kau menghinoptisnya?" Sraylira dengan cepat menanggapi situasi karena ia tahu Dilly tak mungkin mau dijadikan kacung oleh Erika kecuali... dia dalam pengaruh hipnotis.

"Ussst... Dilly sedang jadi pelayan seharian ini, kau mau coba? Dia akan menuruti apa pun permintaanmu." Erika mengerling, memohon agar Sraylira tak banyak protes. Sraylira yang awalnya skeptis untuk ikut mempermainkan Dilly akhirnya luluh juga, dua perempuan muda itu sepakat untuk memakai Dilly sebagai pelayan selama satu hari penuh.

My Favorite Butler [CERPEN]Baca cerita ini secara GRATIS!