Prolog

35 3 2
                                        

Di dalam ruangan yang sunyi dan gelap, hanya terdengar suara langkah kaki yang pelan, namun menggema

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Di dalam ruangan yang sunyi dan gelap, hanya terdengar suara langkah kaki yang pelan, namun menggema. Seorang gadis melangkah hati-hati, menggenggam sebuah lilin yang redup cahayanya menari-nari di dinding.

Dia menyusuri lorong panjang yang hanya dihiasi deretan foto berbingkai besar—semua menatap kosong, seakan mengawasinya dari dalam bingkai.

Dari kejauhan, dia melihat sebuah cermin besar berdiri di ujung lorong. Bayangannya terpantul samar di permukaan kaca yang sedikit berembun. Jantungnya berdebar lebih cepat. Dia mempercepat langkah, mendekat.

Kini dia berdiri di depan cermin itu. Wajahnya terlihat pucat dalam cahaya lilin, tatapannya kosong.

"Aldara..."

Sebuah bisikan lirih terdengar di belakangnya. Suara itu terdengar menyerupai manusia, tapi ada sesuatu yang janggal, dingin, dan tidak wajar.

Dia menegang. Sosok gelap muncul perlahan di balik pantulan cermin—berdiri di belakangnya, samar tapi nyata. Sosok itu terus berbisik, memanggil namanya.

"Papa?" Aldara membulatkan matanya tidak percaya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Papa?" Aldara membulatkan matanya tidak percaya. Sosok itu menyerupai Papanya. Kemudian ketika dia ingin berbalik.

Pranggg

Tanpa peringatan, cermin itu retak—kemudian pecah berkeping-keping. Aldara tersentak kaget. Potongan cermin yang berserakan mulai bergerak, berkumpul menjadi satu, membentuk sosok mengerikan dan sangat besar. Sebuah monster, tubuhnya berkilau seperti kaca yang pecah.

Saat monster itu mengangkat lengannya untuk menyerang, sosok transparan menyerupai ayahnya muncul dan menarik tangan Aldara untuk menjauh. Mereka berlari. Monster cermin itu mengaum dan mulai mengejar.

"Tempat ini sangat berbahaya untuk kamu." Suaranya halus, nyaris seperti bisikan angin lembut, tapi cukup jelas terdengar.

"Aldara takut... Pa...," bisik Dara—suara kecil di tengah kepanikan.

Mereka berhenti sejenak. Sosok roh itu menatapnya dalam-dalam.

"Terus lari ke arah cahaya. Jangan pernah menoleh ke belakang."

"Tapi Papa ikut Dara, ya? Ayo, Pa!" Dara menggenggam erat tangan Leon, mencoba menariknya. Namun Leon hanya diam.

"Aldara, kita nggak punya waktu. Cepat pergi!!" Suaranya tegas dan mendesak.

Aldara menggeleng keras.

"Dara nggak mau sendiri! Kita keluar bareng-bareng! Ayo, Pa!" Dara terus menarik tangan Leon dengan putus asa.

"ALDARA!!" bentaknya tiba-tiba.

Keheningan mendadak menyelimuti. Suara itu memukul hatinya. Tanpa disadari air matanya mengalir. Aldara terpaku—dia tak pernah mendengar ayahnya membentak seperti itu.

Di balik bayangan, monster itu semakin dekat. Cahayanya menyilaukan, tapi kegelapan mengintai.

"LARI! SEKARANG!!" Leon berteriak untuk terakhir kalinya.

Dengan dada sesak, Aldara berbalik dan berlari menuju cahaya. Dia menggenggam perintah itu erat-erat.

"Jangan menoleh ke belakang."

Tapi setiap langkah terasa berat, seperti jantungnya tertinggal di tempat dia berdiri tadi.

Cahaya di depannya semakin terang. Menyilaukan. Aldara berteriak penuh penyesalan.

- POLAROID -





You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 03, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

POLAROIDWhere stories live. Discover now