"사랑의 모습"
Ada banyak jenis manusia di dunia ini. Ada yang serakah, pelit, ramah, jahat, baik, dan lain-lain. Ada juga yang dianggap 'berbeda' atau 'aneh', bahkan mereka kerap dijauhkan karena perbedaan mereka dengan manusia pada umumnya. Dan Ivan adalah salah satu dari mereka.
Ivan, lahir di Seoul pada 14 Februari 2002. Dokter bilang Ivan mengidap yang namanya 'alexithymia'. Apa itu alexithymia? Alexithymia singkatnya adalah penyakit yang membuat pengidapnya susah mengekspresikan diri dan merasakan emosi.
Orang tuanya sudah berusaha keras untuk 'menyembuhkannya', sampai pada akhirnya mereka menyerah. Ivan sedari kecil jarang sekali berbicara, dia lebih sering menggunakan gesture dibandingkan menggunakan kata. Dia juga tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada sesuatu. Ia menuruti apa saja kata orang tuanya. Ia saat di TK juga tidak mempunyai teman karena dia dianggap 'aneh' oleh teman-temannya itu. Dia juga tidak tertarik untuk membuat teman, jadi dia hanya menonton, mengobservasi sekitarnya.
Sampai suatu waktu... Ivan sedang main di ayunan di TK-nya. Yaa, dia mengayunkan ayunannya menggunakan kakinya dan sambil melihat ke arah anak-anak lain yang sedang bermain. Sampai ada tiga anak yang menghampiri Ivan, berdiri tepat di depan Ivan. Ivan langsung memberhentikan ayunannya, menahannya dengan kakinya. Dia pun menatap ke arah tiga anak itu.
"Hey, gantian dong! Aku mau naik ayunannya juga!" ucap salah satu anak itu dengan lantang. Sepertinya dia ketuanya. Ivan menggelengkan kepalanya.
Alhasil anak itu langsung mendorong Ivan. Ivan pun terjatuh dari ayunannya. Dia tidak langsung berdiri dan hanya melihat ke arah anak itu.
"Apa? Kamu kan udah lama mainnya! Gantian dong!" ucap anak itu sekali lagi dengan lantang. Ivan hanya diam, menatap ke arah tanah dan anak itu. Tepat saat anak itu mendekat, ada anak lain yang berdiri di depan Ivan. Anak itu langsung mendorong pelan si ketua.
"Jangan memaksa dia jika dia tidak mau! Lagian juga masih banyak permainan yang lain!" ucap anak berambut abu-abu itu.
Si ketua langsung jatuh ke tanah akibat dorongan si anak itu. Dia tanpa berpikir lama langsung berdiri lagi.
"Emangnya kenapa? Aku kan mau main ayunan! Dia juga udah lama kok mainnya! Harusnya dia gantian dong!" ucap keras anak itu.
"Iyaa! Kan dia juga udah lama main ayunannya. Lagian juga kenapa sih nggak mau ngalah aja?" ucap salah satu anak di belakang si ketua. Yang satunya lagi hanya menganggukkan kepalanya.
Anak berambut abu-abu itu hanya menatap ketiganya. Ia berpikir, 'Bener juga kata mereka... tapi kan... ahh sudahlah!' Lalu dia menggelengkan kepalanya, lalu berkata:
"Iyaaa, aku tahu dia udah lama main ayunannya. Tapi kan nggak gitu juga dong caranya? Kan bisa bilang baik-baik! Nggak perlu pakai kekerasan!" ucap anak itu lantang.
"Kamu sok tahu! Aku udah bilang baik-baik kok! Dianya tetep nggak mau, dan bahkan dia itu nggak ngomong apa-apa! Emangnya dia bisu apa? Nggak bisa ngomong?" ucap si ketua sambil melihat ke arah Ivan yang masih di tanah dengan ekspresi kesal.
Ivan menatap balik anak itu. Entah apa yang ia pikirkan. Si anak rambut abu-abu juga ikut menatap Ivan yang berada di belakangnya... Dia jadi ragu? Anak itu pun menggelengkan kepalanya, lalu melihat ke arah si ketua.
"Iyaa, kalau dia nggak mau, kan nggak usah dipaksa! Lagian juga taman ini bukan punya kamu! Ini kan bebas buat siapa aja! Kalau dia nggak mau, ya udah, tinggalin aja dia sendiri! Ngapain kamu sampai dorong dia?" ucap anak itu.
Si ketua itu terdiam selama beberapa saat.
"Yaudah! Salah sendiri dia nggak mau gantian! Kan ini taman umum! Seharusnya dia juga tahu itu, dan harusnya dia juga ngalah sama kita! Lagian juga kamu siapa sih?? Ngapain juga kamu ngebela dia!" ucap salah satu anak di belakang si ketua.
Anak berambut abu-abu itu terdiam sejenak. Dia bingung mau jawab apa.
'Iya juga yaa... kenapa aku mau ngebela dia? Ahh... enggak-enggak! Kata Mama kan, kalau ada yang ditindas, kita harus bantu!'
Lalu, saat anak itu hendak menjawab, ada yang memegang tangannya.
"Sudahlah, ayok pergi," ucap anak itu. Ternyata itu Ivan. Sebelum bahkan anak berambut abu-abu itu merespon, Ivan langsung menggeret anak itu ikut dengannya. Ekspresi Ivan masih sama seperti biasanya... datar. Entah apa yang dipikirkan Ivan saat itu.
Ivan menggeret anak itu sampai mereka di dalam kelas. Setelah itu ia melepaskan genggamannya di tangan anak berambut abu-abu itu.
"Apa-apaan sih kamu! Kok kamu malah lari gini? Kan aku belum selesai ngomong sama mereka! Kamu—" Ivan menaruh satu jari di mulut anak tersebut.
"Sudahlah, lupakan itu. Dan makasih sudah mau... membelaku," ucap Ivan kepadanya. Lalu dia menarik kembali jarinya dari mulut anak itu. Anak itu diam selama beberapa saat, lalu akhirnya menjawab:
"Iya... sama-sama. Kenapa kamu diam saja?" ucap anak itu penasaran.
"Karena menjawab juga tidak ada gunanya... hanya membuang waktu saja meladeni mereka itu," ucap Ivan. Ia melihat ke arah tangannya sendiri yang ia sedang mainkan.
"Oh begitu, baiklah!" ucap anak itu dengan semangat dan sambil tersenyum. "Oh iya... nama ku Till! Kamu?" ucap anak itu sambil mengulurkan tangannya ke Ivan.
Ivan menatap ke tangan Till selama beberapa saat sebelum akhirnya ia meraihnya.
"Ivan," ucapnya sambil melihat ke arah Till.
"Senang bertemu denganmu! Aku harap kita bisa menjadi teman baik," ucap Till sambil tersenyum lebar. Mata Ivan berkaca-kaca. Entahlah... ini baru pertama kalinya ia merasakan sesuatu...
'Apa ini? Apa ini yang disebut perasaan? Emosi? Emosi apa ini? Kalau emosi seperti ini... aku mau merasakannya setiap saat, setiap waktu,' pikirnya.
"Iyaa, aku juga," ucap Ivan dengan senyum kecil.
Apa yang Ivan rasakan saat itu yaa? Senang? Tidak... Senang tidak mungkin seperti ini.
Ivan merasa hatinya sangat hangat. Entahlah, itu perasaan yang sangat amat nyaman...
Apakah itu... cinta?
who knows?
END OF PROLOGUE
YOU ARE READING
𝄞 cure to my sickness ⌞ivantill ⌝
Teen Fictionsebuah fanfic tentang ivantill di kehidupan aka universe lain, enjoy reading~ WARN!! :: - mengandung kata kasar - lgbtq pastinya - violence maybe? - kinda ooc? yep, maybe - 18+! maybe...? semua karakter milik mbak vivinos dan qmeng 🤞💋 semua yang...
