Part 1

2.4K 205 19
                                        

"Denger-denger lo bakal punya roommate, ye?"

Celetukan berupa pertanyaan dari sosok manis berwajah blasteran Korea-Jepang itu membuat Jay mendengus malas. "Nggak usah diingetin, Ki," jawabnya ketus.

Nishimura Niki, pemuda manis yang entah bagaimana bisa berkawan akrab dengan Jay yang merupakan kakak tingkatnya tersebut. Kejadiannya begitu cepat, kalau dikilas balik juga bakal tidak menyangka.

Kedua pemuda cantik itu sama-sama tidak tahu kalau mereka adalah sepupu. Mungkin jika ibu Jay tidak bilang bahwa akan ada sepupunya dari Jepang yang akan berkuliah di Korea, sampai detik ini keduanya hanya orang asing yang tidak pernah tau keberadaan sepasang kerabat yang berada di kampus sama.

Lagian Jay dan Niki tidak pernah berjumpa. Niki lahir dan besar di Jepang, sedangkan Jay lahir di Amerika, mulai tinggal di Korea sejak umur delapan tahun. Setiap acara keluarga juga tidak pernah lengkap, itulah yang membuat kedua sepupu ini tidak saling tahu-menahu bahwa mereka bersaudaraan.

"Gapapa, Kak. Adek tingkat, bisa lo babuin entar."

Jay melempar kulit kuaci ke arah Niki yang sedang cekikikan. "Gue nggak sekejam itu kalik. Gini-gini gue adalah kating paling baik hati dan sangat peduli kepada juniornya," serunya mantap, tersenyum penuh kebanggaan.

"Halah, tapi kok sama gue jahat?"

"Please, deh, lo tuh nggak cocok dibaikin. Sekali dibaikin ngelunjak soalnya."

Kini giliran Niki yang melempar kulit kuaci pada Jay. Wajahnya seketika memberengut, menahan kekesalannya pada sosok yang kini menertawakannya karena berhasil memancing amarahnya.

"Udahlah, gue mau balik ke kamar. Lo jangan ngelayap mulu. Masih bau kencur, diculik om-om, hamil lo nanti." Setelah mengatakan itu, Jay ngibrit meninggalkan area kantin asrama.

"Anying, gue sumpahin dapet roommate gay lo, Kak!"

"Najis, gue bukan gay kayak lo!"

...

Jay mengernyit. Perasaan tadi kamarnya sudah ia kunci, tapi kok ini pintunya terbuka sedikit. Karena kepikiran maling, Jay segera buka dengan keras pintu kamar asramanya. Betapa kaget dia melihat satu entitas tak dikenal sedang berdiri shirtless dengan badan masih agak basah, handuk tersampir di pundak, dan cuma pakai celana training panjang.

Seorang pemuda berwajah imut tapi juga tampan dalam bersamaan. Badannya tinggi semampai dengan dada bidang serta otot perut yang cukup atletis. Pemuda itu bersurai hitam legam. Dia kayaknya juga ikut kaget, karena tiba-tiba pintu kamar didobrak tanpa peringatan.

"Siapa lo?" tanya Jay selidik. Tidak mungkin kalau seseorang yang dikabarkan menjadi teman sekamarnya. Soalnya orang itu baru akan datang lusa.

"Seharusnya saya yang nanya ke kakak. Kakak siapa?"

"Lah, malah nanya balik. Gue Jay, pemilik kamar ini. Lo—anjir, lo pake sabun gue, ya?!" pekiknya sewot begitu mencium aroma harum sabun miliknya di badan pemuda itu.

"Maaf, sabun mandi saya ternyata ketinggalan, jadinya saya minta sedikit sabun punyamu. Niatnya mau izin, tapi karena kak Jay nggak ada di kamar, saya berniat mau izin pas kakak balik. Maaf udah pakai barangmu tanpa izin. Saya Yang Jungwon, penghuni baru kamar ini juga."

Jay mendengus, masih tidak terima. Tapi sosok yang mengaku teman sekamarnya itu sudah meminta maaf dengan sopan, Jay tidak bisa mempermasalahkannya lebih lama. Ia berdehem, setelah itu berjalan melewati Jungwon menuju kasurnya. Menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk yang telah menemaninya selama satu tahun ini.

"Katanya lo dateng lusa, kok sekarang malah udah di sini?" tanya Jay basa-basi. Dia melirik Jungwon yang sedang memakai kaos oblong berwarna putih yang agak ngetat ke badan cowok itu.

Jungwon menoleh pada Jay. Pemuda itu setelah menjemur handuknya, mendudukkan diri di pinggiran kasur yang akan menjadi tempatnya berehat. Tepat di sebelah ranjang Jay yang mungkin cuma berjarak semeter, soalnya ada meja di tengah-tengah ranjang mereka.

"Iya, saya bosan di rumah. Jadinya mutusin datang ke asrama lebih awal, meskipun ospek masih seminggu lagi," jawabnya tenang. "Kakak sendiri nggak pulang?"

Dalam baringnya, Jay menggeleng pelan. "Gue anak rantau, capek bolak balik naik pesawatnya. Sebenernya nggak masalah sih gue, tapi kalau harga tiketnya murah, udah dari liburan semester satu, gue pasti sering balik kampung. Cuma ... ya ... gitulah, harga tiket pas mendekati liburan nggak ngotak nominalnya, njir."

Sebagai pelajar asing yang melanjutkan studinya di negara orang, Jay sangat amat bersyukur bisa diterima. Namun, bagian tidak enaknya adalah tiap liburan dia hanya bisa terdiam menetap di asrama. Melihat teman-temannya pada pulang ke rumah, bisa menghabiskan banyak waktu bersama orang tua, bisa menikmati suasana tanpa terkekang urusan perkampusan sejenak, bisa jalan-jalan pula ke berbagai tempat yang ingin dituju, Jay ingin juga melakukan itu, tapi ia tak bisa. Ia hanya melakukan panggilan video apabila merindukan suasana rumahnya di Amerika.

Kadang juga Jay bakal memutar musik keras-keras untuk menghalau sepi di kamarnya sekaligus di asrama ini yang kemungkinan tersisa hanya dirinya seorang yang masih memilih menetap tanpa kawan.

Sudah sebulan lebih libur semester, selama itu pula Jay sendiri. Baru tadi banget adik sepupunya juga datang dari Jepang. Setidaknya Jay pikir ia tidak akan kesepian lagi karena sepupunya itu. Ternyata malah nambah satu orang lagi yang memilih datang lebih awal ke asrama.

Jay melirik kembali sosok Jungwon begitu menyadari pemuda itu tak meresponsnya. Jay melihat pemuda itu tengah memerhatikan Jay dalam diam, membuat yang diperhatikan menaikan satu alisnya terheran.

"Emang kakak nggak takut sendiri di asrama?"

Hampir aja Jay tergelak oleh pertanyaan konyol pemuda itu. "Serius lo nanya begitu? Uhm ... kalo dibilang takut ... nggak juga, tapi dalam sebulan gue sendiri, tiga kali sempat mati lampu, itupun pas malem. Gue cuma mikir ... biasanya asrama rame banget kayak pasar, tiba-tiba jadi kayak gak berpenghuni, jadinya overthinking dikitlah ya, tapi bukan berarti takut."

"Oh, ya?"

Kedua mata Jay memicing sengit. "Dih, nggak percaya lo?" tanyanya sewot, sampai bangkit duduk menatap Jungwon yang sepertinya tak percaya pada ceritanya.

"Saya percaya," jawab Jungwon diselingi kekehan ringan. "Kamu masih satu bulan lagi 'kan masuknya? Kalau begitu, satu bulan ini saya yang bakal menemani."

Gantian Jay yang kini terkekeh. Nggak tau deh pemuda di depannya ini unik banget. "Lo kaku banget sih jadi orang? Santai aja kalik, apalagi kalo sama gue. Emang sih gue masih belum terima dapet roommate setelah satu semester tinggal tanpa temen sekamar, tapi kedatangan lo juga cukup tepat. Buat nyaman aja diri lo, gak usah kaku begitu. Gue bukan rektor, warek, kaprodi apalagi dosen, jadi tenang aja."

"Hm, saya pasti bakal nyaman, apalagi ada kamu di hidup saya."

Jay mengerutkan dahi oleh ucapan Jungwon barusan. Apaan maksudnya coba? Jay 'kan nggak paham. Hadeh.

....

Gue kekurangan bacaan Wonjay, jadinya gue bikin book Wonjay🗿
Berpaling dulu sebentar dari akun sebelah. Semoga suka ye.

Jangan salah lapak, ini booknya Wonjay (Won: dom × Jayie: sub). Tolong banget ini nggak ada kaitannya ya sama kehidupan mereka di rl.

First publish: 01/06/2025

Yakin Lurus?Where stories live. Discover now