Sinopsis:
Di rumah tua milik kakek yang baru meninggal, waktu berhenti bergerak tepat pukul 3:33 setiap malam.
Jam digital yang tak pernah mati, bisikan dari kegelapan, dan langkah kaki di langit-langit yang tak ada, mengubah ketenangan menjadi mim...
“Kau tak bisa lari dari waktu… karena waktu akan kembali mencarimu.”
Rumah itu berdiri seperti mayat tua yang membatu diam, tak bernyawa, namun menyimpan rahasia dalam setiap jengkal kayunya. Aku tak tahu kenapa kakekku mewariskannya padaku. Aku bahkan nyaris tak mengenalnya. Ibuku tak pernah membicarakan masa kecilnya, dan ayahku… yah, dia pergi sebelum aku cukup tua untuk bertanya.
Hari pertama di rumah tua ini bukanlah sambutan yang hangat. Udara dalamnya lembap, seperti paru-paru yang sudah terlalu lama menahan napas. Dindingnya memudar, lantainya berderit, dan jendela-jendela menatap ke luar seolah menunggu sesuatu kembali.
Kamar tempatku tidur dulunya milik kakek. Di sudutnya, berdiri jam digital lawas dengan angka merah menyala. Waktu menunjukkan 21:04. Aku mengangkat bahu dan merebahkan diri. Lelah setelah perjalanan jauh membuat kelopak mataku cepat tertutup.
Namun, aku terbangun.
Suasana kamar hening, tapi tidak tenang. Lampu meja berkedip sekali sebelum mati total. Aku meraba ponsel. Tidak menyala. Tidak ada sinyal.
Lalu aku melihat ke arah jam digital. 03:33
Aku menatap angka itu cukup lama. Lalu kembali memejamkan mata dengan perasaan ganjil.
Keesokan paginya, aku mengira semuanya hanya mimpi. Tapi kejadian itu berulang malam berikutnya.
Dan malam setelahnya. Dan malam setelah itu.
Selalu pada pukul 03:33, aku terbangun. Kadang karena suara angin yang menggesek kaca. Kadang karena bunyi samar seperti langkah kaki jauh di dalam rumah.
Aku mulai mencatat semuanya di buku harian, mencatat jam-jam terbangunku, suara-suara samar, dan sensasi merinding tanpa sebab.
Sampai malam keempat.
Saat aku hendak mematikan lampu kamar, mataku menangkap sesuatu menyelip di balik laci meja rias selembar kertas lusuh, seolah telah lama tersembunyi.
Aku menariknya pelan. Kertas itu robek, warnanya kekuningan, sebagian tulisannya memudar. Aroma apek langsung menusuk hidung.
Aku membukanya perlahan. Jantungku berdetak lebih cepat.
Lalu aku membacanya…
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
“Jangan buka pintu ketiga. Jangan tidur di kamar itu lebih dari tujuh malam. Jangan percaya pada cermin.”
Aku melihat wajahku... tapi itu bukan aku.
Tanganku gemetar. Suara detak jam terdengar lebih keras. Aku mendongak perlahan.
Jam itu masih menyala. Dan waktu menunjukkan: 03:33. ___________________________________
Pertanyaan untuk pembaca
Kalau kamu terbangun setiap malam pada jam yang sama… apakah kamu akan tetap tinggal di rumah itu?
Atau… kamu akan mulai bertanya: siapa yang membangunkanmu?