Call Them The Bad Genius.

1 0 0
                                        

"Maka hukuman kalian adalah mengambil senjata Vector Nova!"  Suara pemimpin bergema di ruangan, penuh amarah yang tak terbendung.

"Pak, tapi Vector Nova—" Jean mencoba protes, namun pemimpinnya sudah memotongnya.

"Rapat selesai."  Pemimpin itu berlalu, diikuti para bawahannya, meninggalkan tim yang dikenal sebagai Bad Genius dalam keheningan yang mencekam.  Keempat agen intelijen Strategic World Action Team (SWAT) dari negara Khemeral itu saling pandang, gusar.  Kejeniusan mereka seringkali membawa mereka pada keberhasilan, juga menjadi sebab hukuman ini.  Mereka dianggap terlalu sering melanggar rencana operasi,  menjalankan misi sesuai versi mereka sendiri.

Jean Allegro, tampan bak pangeran, sang ahli peretas.  Ayara Yegaswara, kilat dalam aksi, dan otak dari segala operasi.  Marvel Mahendra, penembak professional dengan pengamatan setajam elang.  Dan Azora Kalingga, ahli psikologi dan negosiator yang mampu membaca pikiran manusia.  Mereka, adalah Avengers yang tak sengaja dibentuk oleh negara.

"Vector Nova...  setau gua ye, senjata itu ada di negara yang masih menganut sistem monarki," kata Marvel, santai mengangkat kaki ke atas meja.

"Yang keamanannya sangat...  Kurang ajar emang si Abim ngasih hukuman kayak gini," gerutu Jean, kesal pada pemimpin SWAT mereka.

Ayara, di depan komputernya, jari-jari lentiknya menari di atas keyboard, mengumpulkan informasi tentang senjata mematikan itu.

"Senjata itu incaran banyak negara, dan nggak boleh jatuh ke tangan yang salah.  Kalau bisa, hancurkan saja," kata Azora, suaranya serius.

"Siapa yang buat?" tanya Marvel, penasaran.

"Lucher, udah meninggal tujuh tahun lalu.  Senjata ini dirancang untuk perang dunia, tapi sekarang diincar untuk disalahgunakan oleh pihak yang nggak bertanggung jawab. Bayangkan, kekuatannya bisa memicu kehancuran global," Azora menambahkan, suaranya dipenuhi kekhawatiran.  Bayangan kehancuran global tergambar jelas di matanya.

"Oke, jadi strateginya apa?" Jean bertanya, menatap Ayara yang tampak merenung.  Keempat mata tertuju pada Ayara, menunggu arahan dari sang ahli strategi.

"First thing, panggil temen lo. Kita butuh Johan Marazevalas."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 21, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

S.W.A.TWhere stories live. Discover now