Untuk menebus adikku agar tak dipenjara, aku rela menjual tubuhku seharga dua ratus juta. Namun, ternyata tak cukup sampai di situ saja. Aku memiliki penawaran yang lain.
***
"Aku akan memberimu dua ratus juta dimuka. Dan lima puluh juta per bulannya. Syaratnya hanya satu. Kamu hanya perlu memuaskanku."
Tercengang. Kehilangan kata-kata. Mungkin itu istilah yang tepat untuk menunjukkan keterkejutanku. Aku tak menyangka akan mendapat penawaran lain dari tujuan awal aku datang menemuinya.
Tawaran yang menggiurkan, tapi akan melenceng dari tujuan awal. Aku hanya butuh dua ratus juta. Aku tak butuh tambahan uang. Cukup satu kali transaksi, maka tugasku akan selesai.
Aku menatap pria di depanku lekat-lekat. Pria yang sangat tampan. Bahkan ketika pertama kali bertemu, aku masih tak menyangka bahwa yang akan membeliku pria dengan penampilan tak bercela seperti ini.
Di bayanganku, tergambar seorang pria paruh baya, dengan perut buncit, rambut botak, dan tatapan mesum. Tipikal pria berumur dengan nafsu besar dan uang yang sangat banyak. Namun, pria di depanku berbeda seratus delapan puluh derajat.
Tubuhnya tinggi. Sepertinya 180 senti lebih. Wajahnya sangat tegas. Seperti blasteran Jawa dan Timur Tengah? Ah, aku tak memiliki waktu untuk menggambarkan kesempurnaan fisiknya. Sesempurna apapun dia, yang jelas dia bukan pria baik-baik. Pria baik tidak akan membeli tubuhku seharga dua ratus juta. Fisik boleh sempurna, tapi sifatnya pasti tak jauh berbeda dari pria hidung belang lainnya.
"Tidak, Pak. Terima kasih. Dua ratus juta saja sudah cukup. Saya tidak perlu tambahan lagi."
"Kamu yakin?" Tatapan tajam. Menelisik. Membuat jengah. Namun aku tidak boleh terintimidasi.
"Ya!"
"Lucy sayang, kamu nggak boleh nolak tawaran Pak Rey. Beliau sudah berbaik hati lho. Pria mana yang sudi membeli keperawanan seharga dua ratus juta dan memberimu uang belanja lima puluh juta sebulan? Kamu jangan bodoh. Ambil tawaran itu." Mama Cinta, seorang muc*kari kelas atas mendekat dan berbisik padaku. Dia yang membawaku menemui pria bernama 'Rey'.
Aku tak begitu mengenal Mama Cinta. Baru dua kali aku bertemu dengannya. Pertemuan pertama, saat dia menilai kepantasan fisikku. Menilaiku dari berbagai sudut. Dari bentuk wajah, kepadatan dada, lekukan pinggang, kesintalan p*ntat, warna kulit, bentuk gigi, hingga bau napas dan bau badan sekali pun dia nilai.
Merasa aku cukup pantas untuk masuk kriterianya, dia membawaku ke dokter SpOG untuk memeriksa hymen-ku (selaput dara).Tak menunggu waktu lama, hasil itu pun keluar. Hasilnya memuaskannya secara pribadi. Hingga dia setuju untuk memilihku.
Selang dua hari, - pertemuan kedua, hari ini, dia membawaku pergi menemui pria yang ada di depanku saat ini untuk ditawarkan, demi sebuah imbalan yang nilainya pasti cukup besar.
"Saya hanya butuh dua ratus juta. Tidak lebih," jawabku dengan bibir terkatup. Mama Cinta terlihat sangat kesal. Wajahnya berubah sinis.
"Kamu jangan menyesal. Tawaran seperti ini tak datang dua kali. Pembeli kedua belum tentu menghargaimu setinggi itu!"
"Saya tak berniat untuk menjual tubuh saya lagi. Cukup sekali.... "
"Jawaban template. Semua yang perawan juga awalnya akan ngomong seperti itu. Tapi setelah yang pertama, pasti akan ada kedua, ketiga dan seterusnya. Jangan sombong kalau masih mencari uang dengan jual badan!" Racau Mama Cinta kesal karena tak bisa membujukku.
Melihatku wajahnya pahit, tapi begitu berbalik arah dan menatap calon pembeliku, wajahnya berubah manis.
"Pak Rey jangan khawatir. Lucy masih terlalu muda dan naif. Dia tidak tahu betapa kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Saya pasti akan membujuknya untuk Bapak.... "
Rey mengibaskan tangan. Bibirnya tersenyum miring. Entah apa maksud senyum itu. Mengejekkah? Atau tak peduli?
"Tak perlu. Aku tak pernah memaksa." Rey kembali menatapku. "Jadi, kamu hanya perlu dua ratus?" Aku menganggukkan kepala.
Rey memberi kode pada seorang pria yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Pria itu dengan sigap menyerahkan sebuah map berwarna putih.
"Baca kontraknya baik-baik. Bila ada klausul yang dilanggar, aku akan menuntut kalian."
Jual beli tubuh ternyata ada kontraknya juga? Betapa ironisnya!
Seperti perintah Rey, aku membaca kontrak itu dengan seksama. Aku tak mau ada detail terlewat hingga akan menyusahkanku ke depannya.
Kontrak itu sebagian besar berisi tentang menjaga kerahasiaan data pribadi Rey. Hanya orang-orang yang ada di ruangan ini yang boleh mengetahui tentang transaksi hari ini. Bila ada kebocoran rahasia, maka pihak Rey akan menuntut kami (Mama Cinta dan aku) atas pencemaran nama baik dan akan membawanya ke ranah hukum.
"Bila sudah jelas, silahkan tanda tangan."
Tanpa berpikir lagi, aku langsung menandatangani surat kontrak itu. Ada ketakutan pria di depanku ini akan berubah pikiran. Ya mungkin saja dia akan mencari wanita lain. Kalau seperti itu, aku harus mencari pembeli dimana yang rela merogoh uang dua ratus juta?
Mama Cinta tersenyum puas melihatku menandatangani kontrak itu. Asisten Rey (aku menduganya seperti itu) memberikan satu salinan kontrak untuk kami, sementara yang lain buat mereka.
Mama Cinta membaca baik-baik kontrak itu. Terutama dibagian pembayaran fee. Wajahnya tersenyum puas. Aku tak tahu berapa nilai fee yang ditawarkan. Namun, melihat wajah puas Mama Cinta, sepertinya fee itu tidak sedikit.
"Jadi, Pak Rey ingin yang seperti apa? Yang liar? Atau polos? Kalau Pak Rey suka yang liar, saya akan mentraining anak ini dulu.... "
"Apa adanya dia. Jangan dirubah," tukas pria itu cepat. Dia menatapku lekat. Seperti macan yang siap memangsa lawannya. Bulu kudukku meremang. Aku berharap, nyawaku masih ada ketika hal itu terjadi.
Mama Cinta tersenyum puas. "Jadi kapan Bapak ingin transaksi ini terjadi?"
"Sesiapnya dia." Tatapan Rey tak beralih dariku. Sumpah, aku rasanya ingin segera kabur dari ruangan ini.
***
"Nara, kamu dengar ucapanku? Kamu harus secepatnya siap. Orang seperti Pak Rey itu tidak bisa menunggu terlalu lama. Jangan terlalu banyak berpikir yang akan membuat Pak Rey berubah pikiran. Orang seperti dia sangat mudah untuk mencari penggantimu. Banyak wanita lain yang siap menggantikan posisimu. Kamu juga harus pikirkan kondisi adikmu. Sebelum kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan, kamu sudah harus menebusnya."
Mama Cinta tak berhenti-berhentinya mengoceh. Aku tau dia tak memikirkan keadaanku. Apalagi keadaan adikku. Yang dia pikirkan pasti bagaimana caranya mendapat komisi itu secepatnya. Untuk itu, dia menyuruhku untuk sesegera mungkin menyerahkan tubuhku.
Jangan tanya kesiapanku. Memutuskan hal seperti ini saja merupakan keputusan terbesar dan terberat. Gadis gila mana yang rela menjual tubuhnya demi uang kepada pria hidung belang?! Semua gadis pasti bercita-cita untuk mempersembahkan keperawanannya kepada suaminya seorang. Seorang laki-laki yang akan menjadi imam, panutan, penjaga dan pendamping hidup. Bukan laki-laki tak jelas seperti ini. Namun aku tak punya pilihan lain. Uang dua ratus juta tak turun begitu saja dari langit. Apalagi harus mencarinya dalam kurun waktu kurang dari tujuh hari. Tak ada pekerjaan halal yang bisa membuatku memiliki uang itu. Bila ingin adikku selamat, adikku tak dipenjara, adikku tak dihukum 12 tahun, maka aku harus mengorbankan diri. Aku relakan tubuhku untuk dinikmati pria itu.
"Besok aku siap," ucapku lirih.
***
Happy Reading 😁
YOU ARE READING
Kujual Harga Diriku
RomanceUntuk menebus adikku agar tak dipenjara, aku rela menjual tubuhku seharga dua ratus juta. Namun, ternyata tak cukup sampai di situ saja. Aku memiliki penawaran yang lain. "Aku akan memberimu dua ratus juta dimuka. Dan lima puluh juta per bulannya...
