[1] Desa kecil ini

9 0 0
                                        

Lara duduk di jok penumpang motor, melamuni pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Sesekali, matanya melirik pada sosok yang tak pernah ia kira—seseorang yang kini begitu akrab ia rangkul, dan yang kini tengah asyik mengoceh, menceritakan segala tentang dirinya.

Lara tersenyum kecil.
Akra—pacarnya itu—selalu tampak bersemangat ketika bercerita tentang masa lalu yang telah ia lewati. Hingga kadang, Lara terbawa hanyut. Ia bisa membayangkan, bahkan ikut merasakan, seolah ia berada di sana bersama Akra saat semua itu terjadi.

Meski sudah berulang kali, hal sederhana ini selalu terulang.
Berkeliling di desa kecil ini, di malam yang sunyi. Berdua di atas motor yang kadang Akra keluhkan. Melempar candaan yang hanya mereka berdua pahami. Dan Lara… selalu bersyukur.

Karena semua ini mampu mengobati dunia sepi yang Lara bawa.

Lara senang, saat Akra mengajaknya berkeliling setelah hari yang melelahkan—saat pekerjaannya menguras batin dan raganya.

Lara senang, karena Akra selalu tahu apa yang ia butuhkan.

Lara senang, hanya dengan memandangi Akra dari balik spion.

Lara senang, ketika bisa mengalungkan tangannya di pinggang Akra, sambil diam-diam berharap perut itu terisi dengan baik.

Lara senang, saat ia bisa bersandar sejenak di pundak Akra—tempat di mana beban di hatinya bisa terasa lebih ringan.

Lara senang… karena untuk pertama kalinya, ia merasa bisa mempercayai seseorang..


Tapi di balik itu, terkadang, malam sederhana ini di isi dengan suasana yang dingin, sangat berbanding terbalik dari biasanya. Dan Lara tau, itu selalu datang dari dirinya, sikapnya yang keras pasti terkadang membuat Akra kewalahan.

Tapi, akra. dia selalu usaha-kan untuk meredakan amarah Lara yang kadang dirinya sendiri sulit kendalikan. Lara tau dirinya orang yang keras. entah karena dunianya. tapi, apapun alasannya, Lara pengen lepas dari itu.

Lara selalu merasa kasihan pada Akra, di saat - saat amarahnya tak terkontrol dan membuat Akra harus mengabaikan dirinya sendiri. Lara merasa menjadi orang yang paling gagal menjadi dewasa.

Lara sadar, ia belum begitu baik untuk Akra.

Tapi, Lara beryukur sejauh apapun Lara mencoba mendorong Akra, Akra selalu punya cara untuk kembali ke Lara.

Sampai Lara tau, itu jadi luka untuk Akra. Tapi, Lara bisa apa? entah karena apa, ego-nya selalu menang, menguasai setiap tindakan yang Lara buat. berkali - kali, mungkin sampai Akra akhirnya menjadi mati.











Seperti takdir kita yang tulisStories to obsess over. Discover now