---
Sekolah Seni Hanlim sore itu lebih ramai dari biasanya. Ruang kelas 2-B dipenuhi suara tertawa, suara sepatu berlari, dan celetukan kecil para siswi yang baru saja selesai pelajaran terakhir. Di tengah hiruk-pikuk itu, duduk dua sosok yang terlihat sedikit berbeda.
Chiquita, dengan seragam yang kancing atasnya dibuka dan dasi longgar, bersandar santai di kursi paling belakang. Tatapannya tak lepas dari seorang gadis yang sedang merapikan buku di meja depan: Ahyeon.
Gadis itu, selalu rapi, selalu tenang, tapi hari ini terlihat sedikit gelisah.
"Kenapa kamu nunduk terus, Ahyeon?" tanya Rami, sambil menyodorkan susu stroberi ke temannya.
Ahyeon menggeleng pelan. "Enggak apa-apa..."
Tapi dari kejauhan, Chiquita bisa melihat jelas-itu bukan 'enggak apa-apa'. Dan sebagai seseorang yang sudah terbiasa memerhatikan, ia tahu... Ahyeon sedang menyembunyikan sesuatu.
---
"Woi, latihan vokal jam berapa?" teriak Rora sambil masuk ke kelas, ditemani Asa dan Ruka di belakangnya.
"Jam 5 sore, di studio lantai 3," jawab Pharita lembut, sambil menyelipkan buku ke tasnya. "Kenapa emangnya?"
"Ahyeon enggak kelihatan semangat. Dia biasanya yang paling heboh kalau latihan," kata Ruka sambil melirik ke arah depan.
Chiquita berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat, suara sepatunya terdengar jelas di lantai yang mulai sepi. Ia berhenti tepat di sebelah Ahyeon.
"Kalau kamu lagi kepikiran, bilang. Aku nggak suka liat kamu diem gitu," ujarnya pelan, tapi cukup jelas untuk membuat wajah Ahyeon memerah.
Semua mata langsung melirik, beberapa celetukan terdengar.
"Uuuuuuuu," Rami pura-pura berseru.
Chiquita melirik mereka semua. "Apa? Aku cuma khawatir sama partner duet-ku."
Tapi tak ada yang percaya itu sekadar "partner duet". Mereka semua tahu... sejak masuk semester dua, Chiquita selalu punya cara memperlakukan Ahyeon yang berbeda.
---
Setelah semua bubar menuju studio, Chiquita menahan Ahyeon di lorong.
"Kamu tahu kan, aku enggak akan maksa kamu cerita... tapi kamu juga tahu, aku selalu di sini buat dengerin."
Ahyeon menunduk, lalu pelan-pelan berkata, "Aku cuma takut... aku enggak cukup bagus."
Chiquita mengangkat dagu Ahyeon pelan. "Kamu selalu bagus di mataku. Bahkan saat kamu diem, aku tetap lihat kamu bersinar."
Ahyeon terpaku.
Lalu, dengan suara kecil, ia berkata, "Jangan kemana-mana ya..."
Chiquita tersenyum miring. "Selama kamu butuh aku, aku di sini. Pegang janji itu."
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Ahyeon tersenyum-kecil, tapi tulus.
---
Bersambung
YOU ARE READING
Nada yang sama
Romancegak bisa buat deskripsi, jadi langsung baca aja, ya! Oh iya, disini aku bikin umur mereka semuanya sama, ya!
