21- The Blooming City - Floradellum

0 0 0
                                        

Langkah Joveus menyentuh tanah yang lunak dan harum begitu ia melewati gerbang cahaya dari Ignivarah. Udara berubah drastis, tidak lagi hangat membara, tapi segar dan sejuk, seperti pelukan musim semi yang abadi. Aroma melati, mawar liar, dan bunga-bunga asing yang tak pernah tumbuh di dunia manusia menyatu dalam satu simfoni harum yang menenangkan jiwa.

Floradellum terbentang di hadapannya, sebuah kota hidup yang tampak seperti lukisan dewa-dewa. Bangunan-bangunan berbalut sulur hijau dan kelopak bunga, berdinding dari akar-akar berkilau yang bernafas lembut. Daun-daun menyatu membentuk atap melengkung, sementara sinar matahari turun menembus kanopi pohon tinggi yang seakan menjulang hingga langit. Setiap helai rumput dan kelopak bunga menyanyi dalam bisikan halus, nada-nada lembut yang menenangkan hati dan menggetarkan kenangan masa kecil yang terlupakan.

Waktu di sini terasa lambat.
Setiap detik bagai menit, dan setiap menit terasa seperti selamanya. Joveus sadar, tempat ini melawan keterbatasan waktu. Floradellum tidak mengenal usia. Tidak mengenal kerusakan. Semuanya mekar... dan terus mekar.

Namun keindahan ini menyimpan ketegangan yang nyaris tak terlihat.

Dari sudut-sudut taman yang rindang, dari balik kelopak dan daun yang tampak jinak, Joveus bisa merasakan ada yang memperhatikan setiap langkahnya.

Forest spirits, para penjaga senyap, tersembunyi di balik keindahan itu. Tak tampak wujud mereka, namun bisikan mereka terdengar, dalam bahasa bunga dan angin. Menilai dan menguji siapapun yang masuk kedalamnya, Apakah ia datang sebagai tamu... atau penyusup?

Satu langkah yang serakah, satu tindakan yang menggangu harmoni, akan membangkitkan sisi liar dari mereka, para forest spirit akan berubah menjadi Floravine, monster tanaman berduri dan bunga-bunga beracun, lahir dari kemarahan alam itu sendiri.

Tiba-tiba, dari kelopak-kelopak yang jatuh melayang turun, muncul sosok yang tampak seperti jelmaan musim semi.

Ia melangkah perlahan, rambutnya menjuntai seperti untaian anggrek, matanya kehijauan seperti daun yang basah oleh embun. Gaunnya tidak terbuat dari kain, tapi dari kelopak-kelopak halus yang terus mekar dan berubah warna.

 Gaunnya tidak terbuat dari kain, tapi dari kelopak-kelopak halus yang terus mekar dan berubah warna

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Joveus," katanya dengan suara yang terdengar seperti nyanyian burung pagi,

"Selamat datang di Floradellum, gerbang kehidupan dan keabadian."

Ia menundukkan kepala anggun.

"Aku adalah Sylvarelle, sang Bloom Whisperer. Di sinilah ujian terakhirmu menanti. Bukan untuk membakar apapun yang sudah kau miliki, bukan pula untuk menaklukkanmu... tapi untuk merangkul kehidupan sebagaimana adanya. Di sini, kekuatanmu tidak akan berguna... jika jiwamu tidak damai dan selaras dengan alam"

Joveus menatap mata Sylvarelle, lalu kota yang bernyanyi itu. Ia sadar, ujian terakhir ini bukan melawan kekuatan... tetapi melawan egonya sendiri.

Dan di kejauhan, semak-semak mulai bergoyang.

Godborn: The Hidden Legacy [LEE JENO]Stories to obsess over. Discover now