chap-1 //Pink umbrella//

162 27 12
                                        


Cat rumah ini sudah mulai memudar. Di beberapa sudut, bau cat lama yang menyengat masih terasa. Ada banyak lubang pada tangga dan lemari. Lubang-lubang itu tampak seperti bekas rayap atau tikus, entah yang mana. Meski begitu, langit-langit rumah ini tidak terlalu buruk. Hanya saja, beberapa sarang burung walet terlihat menggantung di sana. 

“Ugh,” keluhku, mencoba menahan rasa jijik sambil menaiki tangga. 

Bagaimanapun, rumah ini dibeli dengan harga setengah dari nilai pasaran. Tentu ini jauh lebih baik daripada harus tinggal di kamar kos sempit dengan harga mahal di kota. 

“Kelihatannya kamu enggak suka sama rumah ini, ya, Wira?” tanya Shanum, mengamati ekspresiku yang mungkin terlalu jelas. 

“Eh, enggak kok, Num! Malah menurutku rumah ini bagus banget—” 

Brukkkk! 

Sebelum kalimatku selesai, lantai tempatku berdiri runtuh, dan aku terperosok ke bawah. Kami sedang berada di lantai dua, dan sepertinya aku akan jatuh tepat ke ruang tamu. 

Shanum hanya menggeleng pelan, tampak tak percaya. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa bungkus roti keju. “Sepertinya kita masih beruntung. Setidaknya di sini tidak bising seperti tempat sebelumnya. Sisi baiknya, kita jadi lebih mudah fokus saat ngobrol dengan klien.” 

Ia membelah setengah roti dan melemparkannya padaku, yang masih terpuruk di bawah. 

“Sha—ugh! Num, tolong aku, plis!” aku memohon, mencoba meraih sesuatu untuk menahan tubuhku. 

“Hahaha! Makanya, jadi orang tuh harus lebih bersyukur!” 

“Aku bersyukur, kok! Rumah ini… ya… enggak jelek-jelek amat…” 

Namun, sebelum aku bisa menyelesaikan kalimat itu, lantai di bawahku mulai berderak lagi. Aku bisa merasakan tubuhku semakin terperosok. 

Grukkkhh! 

Shanum hanya berdiri di sana, menatapku dengan ekspresi tenang yang menyebalkan. 

“Sha… Num, tolong aku, plis!” 

Dia tidak melakukan apa pun selain memandangku dengan senyum licik. Dan kemudian, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, ia mengambil ancang-ancang untuk melompat. 

“Num! Jangan lakukan itu! Enggak lucu, Num!” aku panik, mencoba menghentikannya. 

“Apa peduliku?” katanya santai. 

Tanpa basa-basi lagi, Shanum melompat dengan keras. Bukh! Tubuhku akhirnya benar-benar jatuh ke bawah, beruntung aku mendarat di atas sofa. 

Aku mencoba mengatur napas, tapi sebelum aku bisa berbicara, suara Shanum terdengar lagi dari atas. “Maaf atas kekacauan ini. Beri saya waktu satu menit, saya akan membuat teh.” 

Aku mengerutkan kening, bingung dengan siapa ia berbicara. Ketika menoleh ke samping, jantungku hampir melompat keluar. Di sana, seorang wanita asing sedang duduk disebelahku dengan tenang, menatapku heran.

___

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Kami hanya duduk diam, saling mencuri pandang tanpa ada yang benar-benar ingin membuka percakapan. Wanita itu tampak tenang, kedua tangannya bertumpu di pangkuan sambil menunggu Shanum selesai menyiapkan teh. 

Sebenarnya, ada alasan mengapa aku dan Shanum memutuskan pindah ke rumah ini. Sebelumnya, kami pernah menghancurkan hampir setengah bangunan kos tempat kami tinggal. Alasannya penting, setidaknya menurut kami. Tapi pemilik kos tentu saja tidak sependapat. Ia sangat marah, bukan hanya mengusir kami, tetapi juga menampar Shanum di depan semua penghuni kos. 

Butterfly Effect: The Cost of Chaos La tua prossima ossessione. Scoprilo ora