Di balik dinding-dinding Akademi yang dulu penuh tawa dan harapan, kini hanya ada keheningan. Ruang kelas kosong. Lorong sunyi. Dan di pusat dari semua kekosongan itu, berdiri seorang pria — sang Sensei. Dahulu ia adalah tempat para siswi bersandar. Tempat mereka mencari arahan, perlindungan, dan semangat. Tapi sekarang?
Tidak ada satu pun dari mereka yang mencarinya lagi.
Shiroko dari Abydos… tidak menjawab pesan. Yuuka dari Millennium… bahkan tak menoleh padanya.Arisu, yang selalu ceria… menghindari tatapannya.
Sensei telah menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Tubuhnya lelah. Jiwanya retak. Bukan karena kekalahan di medan perang, melainkan karena dilupakan oleh mereka yang dulu memanggilnya "Sensei" dengan penuh kasih.
Dalam kesunyian malam, saat bulan tergantung redup di langit Kivotos, Sensei duduk sendiri di pasir Abydos. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena hampa. Dunia telah bergerak tanpanya.
Lalu... suara itu datang.
"Kau telah jatuh, Sensei..."
Suara dalam dan menggema, seperti berasal dari langit dan bumi sekaligus. Kabut mulai menutupi Langit Abydos. Dari dalam bayangan bulan, sesosok makhluk muncul — Besar, bermata Tiga, dengan simbol bulan sabit di bagian kepala. Tidak memiliki tangan tapi bisa mengendalikan semua objek.
"Aku adalah Khonsu, Dewa Bulan dan Waktu yang Terlupakan."
Sensei menatapnya dengan kehampaan.
"Aku datang... Untuk menolongmu. Aku melihatmu sangat menderita... Engkau layak mendapat tujuan baru."
"Tujuan?" gumam Sensei pelan.
"Ya. Kekuatan untuk kembali. Sensei... Kau akan menjadi sangat kuat dikagumi dan dihargai tidak ada syarat karena aku hanya ingin menolongmu."
Di balik suara lembut Khonsu, ada sesuatu yang mencekam dan niat yang jahat. Tapi dalam hati Sensei yang telah hancur, keraguan pun telah lenyap.
"Aku terima."
Bulan pun bersinar lebih terang dari biasanya… namun cahayanya tidak membawa harapan — melainkan pertanda bahwa sesuatu yang lama terkubur... akan bangkit kembali.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
setelah Terbitnya Matahari.
Mentari pagi menyapu gurun Abydos, memantulkan sinar keemasan di atas pasir yang dingin semalaman. Di tengah bentangan yang sepi itu, seorang pria terbaring tak sadarkan diri.
Sensei.
Tubuhnya nyaris tertutup pasir, seolah waktu sendiri mencoba menghapus kehadirannya. Namun yang paling mencolok di atas kepalanya, melayang sebuah Halo. Berbentuk bulan sabit, bersinar terang namun terdapat retakan halus seperti permukaan bulan yang usang. Aura yang memancar darinya tidak seperti Halo dari siswi Kivotos… ini terasa asing. Tua. Dan aneh.
“Itu… SENSEI!!” teriak Shiroko, berlari menuruni bukit pasir.
Hoshino, Serika, Nonomi, dan Ayane menyusul dari belakang. Mereka segera mengelilingi tubuh Sensei, nafas mereka terengah, tapi perhatian mereka hanya tertuju pada satu hal.
“Dia… dia punya Halo?!” Serika terdiam di tempat.
“Bagaimana mungkin…? Sensei tidak pernah punya itu sebelumnya…” gumam Ayane dengan suara gemetar.
Hoshino mencoba menyentuh bahu Sensei.
“Sensei… apa kau dengar kami…? Bangun…”
Dan perlahan… matanya terbuka. Nafasnya berat. Sensei melihat mereka—dan wajahnya langsung menunjukkan keterkejutan.
“Kalian…?” suaranya lirih, nyaris tak percaya.
Nonomi menunduk, dengan wajah khawatir.
“Kami… kami mencarimu. Kami khawatir…”
Sensei duduk perlahan, masih menatap wajah-wajah itu. Sensei terlihat kebingungan.
“Kenapa… kalian di sini…?” tanyanya pelan, dengan heran.
Hoshino menatap Halo di atas kepala Sensei. Matanya tajam, penuh pertanyaan yang belum bisa ia ucapkan.
“Kami bisa tanya hal yang sama… Kenapa kau punya Halo seperti itu…?”
Dan untuk sesaat, hanya suara angin yang menjawab. Tapi dari balik mata Sensei yang kaget… perlahan, muncul bayangan rasa bingung dan kekeliruan yang baru saja dimulai.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.