Aku Tak Sendiri

1.6K 65 0
                                        


.
.
.

Langit sore tampak muram, seolah tahu isi hatiku hari ini. Aku berjalan tertatih menuju rumah Oma Indah. Langkahku berat, tapi lebih berat lagi rasanya di dada. Bekas tamparan Papa masih terasa panas di pipi kiriku. Bukan tamparan pertama... tapi entah kenapa, hari ini rasanya lebih sakit dari biasanya.

Aku tak sanggup lagi menahan. Aku hanya ingin pulang-pulang ke tempat yang benar-benar menganggapku layak hidup.

Begitu membuka pagar rumah Oma, aku melihat Onty Lulu yang sedang menyiram bunga. Matanya langsung membesar begitu melihat wajahku.

"Ya Tuhan, Ella! Wajah kamu kenapa, sayang?"

Aku tak jawab. Hanya menunduk dan menghindari pandangan. Tubuhku langsung dipeluk erat olehnya, air mataku pecah.

"Masuk dulu, ya. Oma lagi di ruang tengah. Kamu istirahat di dalam."

Rumah itu hangat-lebih hangat dari rumahku sendiri.

Oma Indah langsung bangkit dari sofa ketika melihatku. Opa Oniel berdiri di sampingnya, dan tak lama, satu per satu Onty-Onty mulai bermunculan. Lulu, Olla, Freya, Marsha, dan Katrin. Semua langsung berkumpul.

"Ella, sayang..." suara Oma lirih, tangannya mengelus pipiku pelan.
"Siapa yang tega beginiin kamu lagi?"

Aku hanya menangis. Tak bisa bicara. Tapi mereka tahu. Mereka semua tahu.

"Adel!" suara Onty Marsha meninggi. "Dia lagi kan?!"

"Sampai kapan dia terus kasar sama anak sendiri?!" Onty Freya menimpali.

"Mama kamu juga diam aja, ya?" tanya Onty Olla pelan, tapi tajam.

Aku hanya angguk pelan. Suara Oma bergetar saat berkata,
"Kamu tidur sini malam ini. Nggak apa-apa. Oma dan Opa yang tanggung jawab. Kalau mereka cari kamu, suruh bicara sama Oma."

"Kamu bukan beban, Ella. Kamu anak kami juga," kata Opa tenang, tapi penuh keyakinan.

Tiba-tiba pintu dibuka pelan dari luar. Gracie muncul-ragu, lalu perlahan mendekat.

"Kak Ella..." suaranya gemetar. "Maaf... aku sering pura-pura nggak peduli. Aku cuma takut Mama marah. Tapi... aku sayang Kak Ella. Sejak dulu."

Tak lama, Callie ikut masuk. Wajahnya pucat.

"Aku juga minta maaf, Kak..." katanya pelan. "Aku diam bukan karena aku nggak peduli. Tapi karena aku pengecut. Tapi sekarang aku janji... aku bakal berdiri buat Kak Ella."

Aku menatap mereka, tubuhku gemetar. Dan saat itu, Onty Zee-yang baru tiba bersama Oma Gracia dari keluarga Greshan-ikut mendekat dan berlutut di depanku.

"Ella, kamu berhak bahagia. Kamu berhak disayang. Dan kami semua akan pastikan itu terjadi."

Aku tak sanggup menahan lagi. Aku menangis keras-keras, dalam pelukan Oma dan Onty-onty yang merangkulku dari segala arah. Untuk pertama kalinya... aku benar-benar merasa aman.

"Terima kasih... karena tak pernah lelah menyayangiku... bahkan saat aku sendiri ingin menyerah..."

Keluarga?Where stories live. Discover now