Jam baru menunjukkan pukul 06.45 pagi saat Fuji berdiri di depan pintu kaca besar bertuliskan:
“Ruang Bedah – Akses Terbatas.”
Seragam perawat barunya masih kaku. Sepatunya sedikit kebesaran, hadiah dari kakaknya yang terlalu semangat menyambut hari pertamanya bekerja. Napasnya terasa sedikit berat. Gugup? Sedikit. Tapi lebih ke... takut salah. Ini bukan klinik kecil di kota kelahirannya. Ini rumah sakit pusat, tempat kasus-kasus berat ditangani, dan tempat dia harus membuktikan kalau dia pantas di sini.
“Permisi...” Fuji melangkah masuk, tangannya menggenggam map jadwal shift. Beberapa perawat senior sudah lalu-lalang dengan langkah cepat. Suasana ruangan sunyi tapi tegang. Ada suara monitor, langkah kaki, dan... seseorang yang berdiri membelakanginya di depan papan operasi.
Dokter itu tinggi, berseragam hijau operasi, tangan menyilang di dada. Dari cara dia berdiri saja, Fuji tahu orang ini tipe yang strict.
“Perawat baru?” suara pria itu dalam, tenang, tapi tegas. Tanpa menoleh.
Fuji buru-buru mengangguk, meski tahu dia nggak bisa lihat. “Iya, saya Fujianti Utami. Hari ini mulai shift pertama saya di ruang bedah.”
Akhirnya dokter itu berbalik. Matanya tajam, dingin, seolah bisa menilai seseorang hanya dari sekali pandang. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tampan, iya. Tapi lebih ke tipe tampan yang bikin tekanan darah naik, bukan deg-degan manis.
“Jangan terlambat. Jangan bicara kalau tidak perlu. Dan pastikan tanganmu tidak gemetar saat menyentuh pasien.” katanya pelan, tapi langsung menusuk.
Fuji mengangguk cepat, “Baik, Dokter...”
“dr. Verrell,” dia menyambung. “Dokter bedah utama di sini.”
Mata mereka bertemu sejenak. Fuji sempat ingin bilang sesuatu, mungkin minta maaf karena terlihat gugup. Tapi yang keluar justru..
“Dokter... selalu sedingin ini ya?”
Verrell diam. Alisnya naik sedikit. Fuji langsung menyesal.
Tapi untuk pertama kalinya, dia melihat sudut bibir pria itu sedikit terangkat entah senyum, entah hanya refleks kesal.
“Kita lihat saja nanti,” jawabnya pendek, lalu berbalik lagi ke papan operasi.
Fuji menarik napas panjang. Satu hal yang dia tahu pasti shift pertama ini nggak akan mudah.
YOU ARE READING
Heart Check
Teen FictionFuji, perawat muda yang baru saja pindah ke rumah sakit besar di Jakarta, ditugaskan di ruang operasi. Di sanalah dia bertemu dengan dr. Verrell Bramasta, seorang dokter bedah jenius tapi terkenal dingin dan perfeksionis. Fuji yang ceria dan hangat...
