Dia Seperti Orang yang Baik

336 25 24
                                        


POV SING

Di atas meja ada ikan
Disajikan memakai nampan
Hai, perkenalkan
Aku Sing si paling tampan.

Yah, selain tampan aku juga pandai bernyanyi, memainkan alat musik dan nge-dance. Lalu, ada lagi yang paling aku sukai yaitu menciptakan lagu. Aku sangat terkenal di lingkungan sekolah, sampai-sampai ada beberapa gadis cantik yang terang-terangan menulis surat cinta untukku.

Di mana pun aku melangkah dan di mana pun aku berada selalu ada yang mengajakku berkencan. Khem, sejujurnya aku sangat senang karena banyak yang menyukaiku, itu artinya kepopuleranku tidak terbatas.

Fakta yang kusebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari kelebihanku yang baru saja kalian tahu. Bersiap-siaplah, karena aku akan membuat kalian terkejut dengan beberapa fakta lagi mengenai diriku yang terlanjur sempurna ini.

Baiklah, mari kita mulai!

***

"Tuan Muda." Pak Sehoon, salah satu pengawalku membungkuk lalu memberikan ponsel yang dua detik lalu berdering. Ternyata Papa yang menelepon.

"Sing, Papa udah nelpon Pak Wali Kota soal liburan kamu di Bandung, Papa pikir itu udah cukup untuk kenyamanan kamu selama berlibur di sana."

"Harusnya Papa nggak usah lakuin itu, aku baik-baik aja kok selama Pak Sehoon ada di dekatku."

"Papa tau, Pak Sehoon akan melakukan tugasnya denga baik, tapi apa salahnya tetap waspada?"

Aku mengikuti saran Papa karena bagaimanapun semua itu demi keselamatanku. Kami akhirnya berbincang seru dan membicarakan banyak hal, kemudian kami menutup telepon ketika Papa menuruni tangga dan bergabung denganku di meja makan.

"Gimana sekolah baru kamu, lancar?" tanya Papa sambil menyesap kopinya.

"Lancar kok, Pa."

"Di sekolah ada yang cantik nggak?"

"Ada, tapi sejauh ini nggak ada yang masuk kriteria idaman."

"Nggak usah nyari yang secantik dan seanggun Mama kamu, nggak bakalan ketemu," kata Papa bangga.

"Iya, Pa, Mama memang sangat anggun. Ohya, Mama lagi di mana?"

"Biasa, lagi ngasih makan hewan peliharaannya."

"Mama udah nggak sedih 'kan, soalnya kemarin salah satu komodonya mati?"

Sementara aku dan Ayah berbincang, Pak Sehoon hanya berdiri di belakangku seperti patung. Aku menawarinya makan dan duduk bersama kami, tetapi dia menolak dengan sopan.

Pak Sehoon adalah mantan pasukan khusus, kemampuannya setara dengan seratus prajurit militer. Pak Sehoon telah banyak terlibat dalam operasi militer anti teror, menguasai banyak jenis beladiri, mampu bergerak cepat di segala medan, penembak jitu, dan ahli dalam pengintaian.

Aku tidak berlebihan dalam memuji kemampuan Pak Sehoon karena aku pernah membuktikannya sendiri. Pada saat musim panas tahun lalu, aku dan keempat temanku mencoba menapaki puncak gunung Salak. Entah bagaimana atau kami memang sedang kelelahan karena perjalanan panjang, kami tidak menyadari bahwa Leo salah satu teman kami menghilang dari kelompok. Aku segera menghubungi Pak Sehoon yang saat itu sudah sampai di posko lebih dulu. Tidak butuh beberapa jam apalagi berhari-hari untuk menemukan teman kami itu, Pak Sehoon hanya membutuhkan lima belas menit pencarian. Padahal yang kulihat ia hanya memperhatikan rumput dari bekas pijakan kami. Bukankah itu luar biasa?

Akhirnya kami pulang sebelum berhasil menaklukkan gunung Salak karena keadaan Leo memang tidak memungkinkan lagi untuk terus mendaki. Leo cedera, ada jejak memar di kaki kirinya. Aku mencoba bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Untuk beberapa saat aku terkejut mendengar penuturan Leo. Saat itu Leo hanya menoleh kebelakang sebentar, siapa yang menyangka matanya seketika tertutup kabut dan membuatnya kehilangan jejak kami. Walaupun begitu, kami bersyukur Leo segera ditemukan dan kembali bersama-sama lagi.

TERMINALWhere stories live. Discover now