Hari ini merupakan hari pertama Jiwoo ujian semester, wali kelas mereka mengatakan bahwa para murid diminta untuk duduk sesuai absen, sayangnya Jiwoo tidak satu ruangan dengan Stella, teman dekatnya di kelas. Yang Jiwoo tau, siswi yang duduk di depannya adalah Carmen. Teman sekelasnya yang selalu terlihat konyol, tetapi mereka berdua tidak dekat, perbedaan kepribadian memisahkan mereka.
Mata pelajaran pertama ujian adalah bahasa Inggris, seandainya Jiwoo satu ruangan dengan Stella, ia yakin nilainya pasti di atas 90. Waktu ujian sudah berlalu 30 menit, tapi Jiwoo baru berhasil mengerjakan setengah dari seluruh soal yang ada. Ia melihat kanan dan kirinya perlahan, tetapi tidak ada yang Jiwoo anggap bisa memberikannya contekan, saat Jiwoo melihat ke arah depan, ia baru teringat bahwa Carmen juga pandai dalam mengerjakan soal bahasa Inggris.
Jiwoo sadar mereka berdua tidak dekat, rasanya tidak pantas meminta contekan ke seseorang yang jarang sekali berinteraksi dengannya, tapi waktu terus berjalan dan Jiwoo tidak ingin nilainya jelek, secara perlahan Jiwoo mulai mengetuk kursi Carmen.
Tuk.. Tuk..
Carmen sedikit kaget dengan suara itu, setelah itu ia mendengar Jiwoo berbisik. “Carmen, nomor 26 dong.”
Carmen tersenyum dengan tingkah Jiwoo, teman sekelas yang jarang berinteraksi dengannya tiba-tiba meminta jawaban dari soal ujian. Walau mereka jarang berinteraksi, Carmen selalu hafal dengan wangi parfum chanel no. 5 yang selalu Jiwoo pakai, bahkan saat Carmen sedang tertidur di meja, ia tetap mengenal wangi Jiwoo saat Jiwoo lewat di sampingnya.
Carmen menuliskan jawaban nomor 26 di robekan kertas kecil dan melemparnya ke belakang, jatuh tepat di meja Jiwoo. Tidak lama setelah itu, Jiwoo mengetuk lagi kursi Carmen.
“Carmen, 27 dong. Susah bgt ini”
Akhirnya Carmen menuliskan seluruh jawabannya mulai dari nomor 1 sampai 50 di secarik kertas kecil, saat Jiwoo menerima kertas itu, ia tersenyum lebar karena ia merasa hidupnya telah disealmatkan oleh Carmen.
Setelah ujian bahasa Inggris selesai, masing-masing dari mereka keluar kelas untuk bertemu teman-teman lain sebelum mereka harus menghadapi ujian Ekonomi. Jiwoo buru-buru keluar saat melihat Carmen telah meninggalkan kursinya, Jiwoo memanggil Carmen untuk mengucapkan terima kasih.
“Carmen.”
“kenapa?” Carmen memutar balik dan menghadap Jiwoo dengan senyuman khasnya.
“Makasih.. yang tadi.” Carmen hanya menganggukan kepalanya dan setelah itu meninggalkan Jiwoo. Stella yang baru keluar dari ruang ujiannya menghampiri Jiwoo.
“susah gak ujiannya?” Tanya Stella.
“banget, aku sampe minta contekan ke Carmen.”
“Tumben..”
“Kalau kita sekelas, aku ga akan minta tolong ke dia, Stella.”
“Tapi nanti aku ga bisa minta contekan Ekonomi ke kamu.” Ucap Stella dengan nada sedihnya.
“Kemaren kan udah belajar bareng.”
“Tapi kan aku ga jago, Jiwoo.”
“Gapapa, yang penting udah melakukan yang terbaik, aku ke kelas ya.. Mau belajar Ekonomi lagi.” Ucap Jiwoo sambil menepuk pundak Stella.
Saat di dalam kelas, Jiwoo segera mengeluarkan catatan Ekonomi nya dan membaca ulang materinya. Tidak lama setelah itu Carmen masuk ke kelas, ia berjalan perlahan.. Sebelum Carmen duduk di kursinya, ia memanggil Jiwoo.
“Jiwoo.” Ucap Carmen, Jiwoo segera melihat ke arah sumber suara yang memanggilnya.
“Ya?”
“Itu...” Entah kenapa, tiba-tiba Carmen gugup saat berbicara dengan Jiwoo.
“Apa...??”
“Cantik.” Ucap Carmen sambil menunjuk Jiwoo.
“Hah?” Jiwoo kaget dengan ucapan Carmen, Carmen pun segera memindahkan telunjuknya ke arah buku catatan Jiwoo.
“Tulisan kamu, cantik.” Carmen mulai terdengar gugup.
“Oh.. Makasih.”
“Iya.. sebenernya... aku mau minta tolong kamu untuk tunjukin ujian Ekonomi nanti.” Carmen segera memberi tau tujuan aslinya memanggil Jiwoo.
“Boleh-boleh.”
“YES, makasih Jiwoo cantik... Eh.. Itu.. maksudnya yang tulisannya cantik.” ucap Carmen sambil tersenyum dengan paksa.
***
Interaksi itu adalah interaksi pertama mereka, hal itu terus berlanjut sampai mereka kelas 12. Mereka akan saling bertanya saat menghadapi ujian yang menurut mereka sulit atau pun bertukar jawaban untuk memastikan jawaban mereka benar. Sayangnya interaksi yang terjadi diantara mereka hanya terjadi saat masa-masa ujian, ketika mereka belajar seperti biasa di kelas, mereka akan bersikap seperti tidak mengenal antar satu sama lain.
Bahkan mereka tidak menyapa satu sama lain walau berada di dalam kelas yang sama, tetapi ketika waktu ujian tiba, mereka akan berinteraksi seperti sepasang sahabat yang sudah kenal sejak TK. Carmen maupun Jiwoo terkadang terlintas di pikiran mereka untuk menyapa satu sama lain, tapi ide itu hanya terlintas dan tidak pernah mereka lakukan.
***
Hari ini adalah hari terakhir mereka ujian, setelah ujian ini mereka akan fokus belajar UTBK untuk menggapai perguruan tinggi impiannya. Mereka tidak akan bertemu lagi di sekolah, jadi Carmen memutuskan untuk mengajak Jiwoo makan siang bersama, dari rumah ia terus mengucapkan “Semoga Jiwoo mau makan bareng aku, Semoga Jiwoo mau makan bareng aku.”
Carmen terus mengucapkan kalimat sakti itu, seharusnya ia mengingat rumus Akuntansi yang akan muncul di ujian nanti, bukan kalimat sakti itu.
Sesampainya di dalam kelas, Carmen segera menyapa Jiwoo, kali ini mereka sudah lebih akrab. “Selamat pagi Jiwoo cantik.” ia melambaikan tangannya.
“Tulisanku? atau aku?”
“KAMU LAH, cantikan kamu daripada tulisanmu.” Ucap Carmen sambil menaik turunkan alisnya.
“Kalau mau minta contekan Akuntansi langsung bilang aja, men.”
“Hehehe, kamu cantik banget deh.” lagi-lagi Carmen memuji Jiwoo.
“Kamu juga cantik kok.” balas Jiwoo.
“HAH? Hahahaha, aku mah emang cantik.” Jawab Carmen dengan penuh percaya diri, padahal hatinya berdegup kencang. Mereka berdua terdiam sejenak.
“Jiwoo, nanti siang kamu ada waktu gak?” Tanya Carmen.
“Ada, kenapa?”
“Emm.. Kamu, suka kopi gak?”
“Suka.”
“Suka makan gak?”
“tergantung menu nya.”
“Suka aku gak?” Kali ini Carmen mencoba menggodanya lagi.
“Mau ngajak makan?” Jiwoo langsung mengubah pertanyaan yang Carmen ajukan.
“Iyah... hehehe, mau gak?”
“Oke, nanti naik motor aku aja.” Ucap Jiwoo yang dilanjuti dengan anggukan Carmen.
“Eh, pertanyaannku belum dijawab.”
“Yang mana?”
“Suka aku gak?” Tanya Carmen.
“Mungkin suka... Suka belajar ekonomi.”
“YAHH...” Carmen berteriak sedih dan memutuskan untuk duduk dikursinya.
***
Jangan lupa vote & comment yh!! Thank you.
YOU ARE READING
Hearts2Hearts oneshot
Short Storyoneshot h2h, all pair bakal ada tapi bertahap ya..
