Hutan penuh cerita
Di suatu hari, terdapat satu anak laki laki bernama Mahendra Alvaro, Mahen sedang beberes barang barangnya, "ini apalagi yang kurang" mahen mengecek list barang barangnya lagi, mahen berniat untuk pergi ke hutan angker dan memastikan bahwa hutan itu sama seperti kata kata orang didesanya atau tidak, suara ketokan dari pintu kamar mahen terdengar tok tok tok, Terdengar suara mama mahen yang memanggil "mahen.." mahen langsung berdiri dan membuka kunci pintunya, mahen melihat ekspresinya mamanya yang khawatir, mama mahen menatap mata mahen dengan tulus
"mahen sayang, kamu serius bakal ke hutan angker itu? mama takut kamu akan hilang dan tersesat disana nak.." mama mahen dengan nada rendah
mahen tersenyum dan menatap mamanya "ma, percaya sama mahen ya, mahen bakal balik ke rumah dengan selamat dan tanpa terluka sedikitpun, mama percaya kan sama mahen? mahen bisa menjaga diri mahen nanti kalau disana, mahen gabakal lama kok perginya", mama mahen memeluk mahen, air mata mengalir ke pipi dan membasahi baju mahen, mahen memeluk erat mamanya, setelah berpelukan yang cukup lama, mahen bersalaman dan berpamitan "mahen pergi dulu ya ma! doain mahen baik baik aja, doa mama adalah keselamatan mahen" mahen menggendong tasnya dan berjalan pergi ke luar rumah
Hutan penuh cerita
Disisi Caelio, Cael sudah selesai beberes, Cael berdiam sejenak di depan pintu rumahnya "ael mau pamit sama ibun dan ayah dulu deh di makam, baru nanti ke pedesaan dan ke hutan yang dibilamg angker itu!" cael menghembuskan nafas berat dan berbalik badan, cael menutup pintunya dan menguncinya, cael berjalan ke arah sepedanya dan mengendarai sepedanya ke kuburan, setelah sampai cael memarkirkan sepedanya dan memasuki kuburan, cael mencari dimana nisan kedua orang tuanya "nisan ibun sama ayah mana ya.. ael lupa lagi" cael mencari satu persatu, akhirnya cael menemukan nisan kedua orangtuanya, cael duduk di antara makam kedua orang tuanya "ibun..ayah, cael datang untuk berpamitan, doakan cael baik baik saja ya.." cael bercerita panjang dan air mata mulai mengalir deras di pipinya, cael mengelus nisan kedua orang tuanya yang sudah tertutup tanah, cael mencium nisan kedua orang tuanya "ibun..ayah.. cael pamit dulu ya! nanti kalau cael kembali dengan selamat, cael bakal kesini lagi" cael berdiri dan berjalan ke arah sepedanya
Cael menggoes sepedanya dan mengendarai ke desa yang ingin ia petualangi, disetiap perjalanan, nafas cael memendek, dan saat mulai dekat dengan hutan, pandangan cael tiba tiba rabun dan kepala cael terasa sangat pusing, cael mengendarai sepedanya dengan kegok, Tampa sadar, cael terjatuh dan untungnya ditangkap oleh seseorang, itu adalah mahen, "bro? lo gapapa kan?" cael memegang kepalanya dan tangannya bertumpu dengan mahen "g-gapapa gapapa.." cael berusaha berdiri tegak namun kakinya lemas, mahen menatap cael "mau kemana lo? kok lewatin hutan?" mahen masih memegang cael karena takut cael akan jatuh "a-aku mau ke hutan, mau coba eksplor hutan.. karena katanya hutan disini itu hutan angker, jadi aku penasaran" jawab cael, mahen mengangkat alisnya dan menahan tawa "serius? dengan modelan lo yang baru didepan hutan aja langsung tumbang" mahen tertawa terbahak, cael berusaha berdiri seimbang dan mendorong mahen pelan "apaansih! aku tuh cuman pusing, kamu ngapain kesini!?" tanya cael dengan nada ketus, mahen masih menahan tawa, "gue? ya petualangan lah" jawab mahen dengan wajah menahan tawa, mata cael menyipit "huh, ayo barengan aja kedalem", mahen mendengar ajakan cael, mahen mengangguk "ayo, tapi sepeda lo.. gapapa ditaro disini? dititipin di masjid deket sini aja, kalo ilang nanti lo gabisa balik" usul mahen, cael menatap sepedanya "oke..anterin ke masjid nya ya", mahen mengangguk dan menuntun cael ke masjid didekat hutan
Saat di masjid, cael bertemu dengan pengurus masjid, "permisi pak, saya mau izin ingin menitipkan sepeda saya, apakah boleh?", pengurus masjid terdiam sejenak lalu mengangguk "boleh, taruh saja sepedanya disini, nanti akan saya bawa ke belakang masjid, ngomong ngomong, kalian berdua mau kemana?"
cael mengangguk dan ingin menjawab pertanyaan sang pengurus masjid "kita mau ke hu-" cael belum selesai bicara, namun mulut cael ditutup oleh mahen "kita mau main aja pak, terimakasih ya.. kita pamit dulu", mahen menarik lengan cael dan menuntun cael ke sebelah hutan "gila ya lo?, jangan bilang kita mau ke hutan, sepeda lo bakalan di hancurin, karena warga disini itu kalo ada orang yang ke hutan, warga disini bakal marah dan terus nasehatin kita sampe kita bener bener takut dan gabakal ada pemikiran untuk kesini lagi, soalnya beberapa anak kecil disini udah kebanyakan hilang karena masuk ke hutan, makanya disini kebanyakan orang dewasa"
Cael mengangguk paham dan meminta maaf kepada mahen "maaf ya, aku gatau", mahen mengangguk dan memegang lengan cael "ayo ke dalem hutan, jangan lupa berdoa sesuai agama lo ya", cael mengangguk dan berdoa didalam hatinya "tuhan... lindungi cael" saat sudah berdoa, mahen menatap cael sampai cael selesai berdoa, ketika selesai, mahen dan cael langsung melangkahkan kakinya ke dalam hutan, saat awal awal, hutan itu terasa seperti hutan biasa dan tidak ada hal hal aneh "katanya angker, tapi ini biasa aja, kocak banget ya" mahen mengoceh, tiba tiba ada naungan serigala dari belakang, mahen mempererat pegangannya pada cael "lo bawa senjata buat jaga jaga ga? kaya pisau atau apa gitu", cael menggeleng dam mahen menghembuskan nafas "sial, gimana kita kalo ada yang nyerang", mahen melihat sekelilingnya untuk berjaga jaga, mahen mengambil dua ranting pohon yang lumayan tebal "nih ambil satu, buat kita ngelawan sesuatu, lo tetep sama gue, jangan kemana mana, nanti lo ilang", cael mengangguk
.
.
.
.
.
udah ya wee, capekkk
YOU ARE READING
Petualangan penuh cerita
Short Storycerita ini menceritakan tentang dua anak remaja yang penasaran dengan cerita tentang hutan angker, dan mereka memutuskan untuk mencoba berpetualang dan membuktikannya
