O2 - Sam Kenzo- I

2.8K 158 2
                                        

Angin laut membawa aroma manis permen kapas dan popcorn dari arah karnaval. Di sudut pagar besi yang menghadap pantai, berdiri seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun. Rambutnya memutih sebagian, namun tetap rapi, kontras dengan tuxedo hitam elegan yang membalut tubuhnya. Wajahnya tampan, tenang, tapi ada sorot muram yang tak bisa disembunyikan.

''Halo, Sir,'' sapa seorang perempuan dengan nada ramah.

Pria itu menoleh, sedikit terkejut, namun langsung membalas dengan senyum tipis.
"Oh, ya. Halo, Ma'am."

"Saya kira Sir-nya kenapa-kenapa, dari tadi diam aja."

Ia tertawa kecil, getir. "Enggak, aman aja."

Perempuan itu menyodorkan tangannya. "Aku (y/n). (y/n) Chana."

Sambutan hangat ditimpali oleh genggaman hangat.
"Sam. Kenzo. Panggil aja Koh Sam"

Keduanya saling menatap sejenak.
"Eh-sebentar," ucap mereka bersamaan, lalu terkekeh pelan karena kejadian lucu itu.

"Kamu... adiknya Caine?" tanya Sam, matanya menyipit, mencoba mengingat wajah itu.

(y/n) mengangguk. "Iya, aku adik Caine. Dan kamu, hubungan apa sama Rion?"

Sam menghela napas dan tersenyum ringan. "Aku... abangnya."

(y/n) membelalak sedikit.
"Tapi... kenapa muka bang Rion itu lebih kayak kakak kamu, sih?"

Sam terkekeh, menoleh sebentar ke arah laut. "Nggak tahu. Dari dulu gitu."

Ada jeda. Angin berhembus pelan. Sam menarik sebungkus rokok dari saku dalam jasnya.

"Kamu ngapain di sini?" tanya (y/n), suaranya penuh rasa ingin tahu.

Sam menyulut sebatang, lalu menghembuskan asap pertama.
"Nikmatin rokok... dan lihat laut." Ia menoleh sedikit. "Mau?"

(y/n) menggeleng sambil tersenyum sopan. "Sorry, aku nggak ngerokok."

Sam sedikit terkejut, buru-buru mematikan rokoknya di dinding besi. "Maaf, nggak tahu."

"Gapapa, aman aja," ujar (y/n), tulus.

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit, hingga Sam berkata pelan namun jelas, pandangannya tak beranjak dari gulungan ombak di kejauhan.
"Istrinya Rion itu... mantan gue."

(y/n) menoleh cepat. "Hah? Gimana maksudnya?"

Sam akhirnya menatapnya, senyuman getir tersungging di bibirnya.
"Iya. Erika, istri Rion itu... dulu pacar gue. Baru kemarin gue tahu kalau mereka bakal nikah."

(y/n) terdiam. Tidak tahu harus merasa apa. Simpati? Marah? Heran? Semuanya bercampur. Ia hanya bisa menepuk lembut pundak Sam dan berkata lirih, "I feel sorry for that."

Sam membalas dengan senyum tipis. "Aman aja." Ia kemudian berganti topik, mencoba mengangkat suasana.
"Eh, kamu tinggal di mana? aku sering nongkrong di bengkel, tapi baru kali ini liat kamu."

"Oh, aku jarang ke bengkel. Lebih sering di rumah, kerja juga di EMS. Jadi ya, gak terlalu banyak ketemu orang, apalagi kak Caine juga sibuk. Makanya gak banyak yang tahu aku adiknya."

Sam mengangguk pelan, seolah mengerti.
"Boleh gua minta nomor lu? Siapa tahu nanti gua butuh bantuan... atau sekadar ngobrol."

(y/n) tersenyum. "Tentu, boleh."

....

Angin malam pantai mulai terasa lembut ketika Sam dan (y/n) kembali menyusuri jalan menuju tenda utama pernikahan. Lampu gantung bergoyang pelan tertiup angin, dan suara musik klasik masih mengalun - tapi suasana hati keduanya jauh dari damai. terutama Sam.

TNMC X YOUWhere stories live. Discover now