Bab 1

2.1K 97 4
                                        

    Klik

Satu jepretan dari lensa kamera mengambil gambar kerlap-kerlip dari gedung-gedung pencakar langit.

Klik

Kali ini lensa kameranya diarahkan pada kilauan lampu kendaraan yang memenuhi ruas jalan sekitar bundaran pusat kota

Puas dengan setiap gambar yang diabadikan oleh lensa kameranya, bibir tipis milik lelaki itu tersenyum simpul. Di antara kedua kakinya yang berdiri di sky deck, sepasang irisnya menatap ke langit.

Desember datang lagi. Dan perasaan hampa itu selalu masih berhasil mendominnasi di antara langit tanpa bintang sepanjang bulan desember.

Hanya dengan begitu seulas senyum melebar di bibir seorang Kenzi Abraham

"Desember udah mau akhir, gue kok masih stuck di patah hati. Sama sekali nggak ada kemajuan dalam hal percintaan." Dalam hati Kenzi berbicara, meratap.

  Bagaimana tidak nelangsa?

Setelah tiga tahun merana karena putus cinta, Kenzi kira bisa move on setelah dia bertemu dengan Asha Salsabilla. Sebuah pertemuan yang dia anggap sebagai takdir, nyatanya tak lebih dari temu tanpa arti.

Kenzi harus kembali merasakan patah hati bahkan sebelum berjuang. Dipaksa melepaskan padahal belum sempat menggenggam.

Tarikan napasnya terasa begitu berat. Sepasang mata Kenzi bergulir, merangkum sekitar. Sebentar lagi dua ribu dua Lima.tentang revolusi tahun ini saja masih banyak belum tercapai.

"Ini tuh apakah dunia emang terlalu bersemangat buat menggulirkan waktu, atau guenya yang kurang ugal-ugalan buat mencapai tujuan, sih?" tanya Kenzi lagi dalam hati, masih sibuk dengan isi kepalanya sendiri.

Padahal Kenzi tidak mem-forsir diri untuk mencapai goal-goal yang membanggakan. Revolusinya selalu tentang sederhana.

Setelah mengucapkan tentang harapannya itu di dalam hati, Kenzi kembali memfokuskan lensa kameranya. Kali ini membidik patung pancoran dengan latar gedung-gedung tinggi yang diatur memburam.

Klik.

Kurang puas dengan hasilnya, Kenzi mengulangi lagi.

Klik.

Klik.

"Woy!"

Baru juga Kenzi akan kembali membidik kameranya ketika ada seorang perempuan yang tengah berdiri di ujung bundaran sky deck tiba-tiba menunjuk marah.

Mulanya Kenzi kira bukan ditujukan padanya. Tapi saat melihat perempuan itu mendekat lalu marah-marah, dia sungguh melongo. Terlebih tahu siapa perempuan ber-dress merah itu.

"Apa-apaan sih lo seenaknya foto-foto gue? Nggak sopan! Gue bisa aja laporin lo atas tuduhan perlakuan kurang meneyenangkan, yah!"

  Perempuan itu adalah Ritha. Yang kini teriakannya sukses menarik perhatiaan orang-orang di sky deck.

"Hah?" Berbanding terbalik dengan Ritha yeng menggebu-gebu, Kenzi malah ternganga tak mengerti. "Maksud lo?"

"Nggak usah pura-pura bego, yah. Gue tau lo tadi foto-fotoin gue diam-diam!"

"Dih-"

"Nggak usah sok ngelak lo. Gue tau gue cantik, tapi bukan berarti lo boleh fotoin gue seenaknya." Ritha bergerak hampir mengambil kamera milik Kenzi.

    Namun gagal, karena gerakannya sedikit lebih lambat. "Siniin kamera lo!"

"Buat apa!"

"Mau gue banting karena lo udah ganggu privasi gue!" teriak Ritha lagi. Bukan bermaksud menuduh, tapi ketika dia sedang berdiri di ujung sky deck, lensa kamera Kenzi itu persis tertuju ke arahnya.

"Gue nggak fotoin lo." Kenzi berusaha menekan nada bicaranya. Bisa-bisa viral dia kalau balas membentak perempuan.Walaupun perempuan yang sedang dia hadapi sekarang sangat menyebalkan. Tapi bagi kaum lelaki sejati perlu ingat jika perempuan akan selalu benar.

"Mana buktinya kalo lo nggak fotoin gue?" Satu tangan Ritha mengadah, meminta Kenzi untuk menyerahkan kameranya.

"Janji lo nggak akan banting kamera gue?"

"Tergantung. Kalo buktinya ada, terpaksa gue banting."

Sejenak Kenzi merangkum sekitar. Sial! Mata orang-orang masih tertuju padanya. Kalau tak dibuktikan mereka pasti mengira Kenzi betulan telah memfoto seorang perempuan yang tingkat percaya dirinya ketinggian itu.

"Nih." Pada akhirnya Kenzi mengalah. Dia serahkan dengan pasrah kamera kesayangannya.

Lantas saja Ritha cepat memeriksa hasil-hasil foto yang Kenzi ambil. Sampai terus menggulirnya bolak-balik, tetap saja dia tidak menemukan Kenzi yang memfoto dirinya.

"Nggak ada, kan?" Satu sudut bibir Kenzi terangkat naik.

Walaupun jelas tak terbukti, alih-alih minta maaf, Ritha malah mendelik tajam.

"Tadi gue lagi foto patung pancoran, bukan fotoin lo."

Hanya dengan begitu kedua pipi Ritha bersemu merah. Malu sekali. Posisi berdirinya yang lurus dengan patung pancoran, begitu gegabah menyimpulkan bahwa Kenzi tengah mengambil gambar dirinya.

"Nih, gue balikin kamera lo," katanya dengan nada jutek. Baru saja berbalik, hendak melangkah pergi kala suara Kenzi kembali terdengar.

"Di dunia ini nggak hanya tentang lo doang. Masih terlalu banyak bagian-bagian terindah semesta yang perlu diabadikan."

Kepala Ritha memutar hanya untuk memamerkan raut wajah tidak mengerti pada Kenzi.

"Berhenti bertingkah pick me, seolah-olah isi dunia ini hanya tertuju pada lo." Kedua kaki Kenzi melangkah pelan sampai berhenti tepat di depan Ritha.

Ternyata sepasang iris indah itu sudah memicing. Barangkali tak terima jika dirinya dilabeli cewek pick me oleh Kenzi.

  "Berhenti bertingkah menyebalkan," tutur lelaki itu pelan. Kemudian Kenzi berbalik, melangkah menjauh. Niat hati ingin berlama-lama menikmati malam di sky deck, ternyata mood-nya sudah lebih dulu hancur oleh keberadaan Ritha yang sama sekali tak diinginkan.

Setelah memastikan punggung lelaki itu tak terlihat lagi, Ritha baru berani menggerutu. "So-soan bilang gue nyebelin. Nggak sadar dia lebih dari menyebalkan. Dasar, muka knalpot motor aja sok keren banget!"

    Mood Ritha jadi sedikit berantakan setelah bertemu Kenzi tadi. Padahal datangnya dia kemari ingin menenangkan hati. Selayaknya orang-orang yang memilih menikmati malam di tengah kota hanya untuk membunuh hampa, sepi Ritha nyaris saja terobati jika tidak bertemu dengan cowok menyebalkan itu muncul.

Bukan karena gabut atau sekadar mengabadikan gambar, Ritha hanya sedang ingin lari dari sepinya hati, dari berisiknya isi kepala.

Sepasang iris indah itu bergulir sebelum berhenti pada patung pancoran. Sebetulnya dia tidak ingin terus mengingat segala kenangan yang bisa saja membunuhnya secara perlahan. Tapi sulit bagi dia untuk tidak lagi mengingat seseorang yang dia anggap sebagai penggenggam hatinya.

" Raffa " Bibir terpoles lipcream nude itu bergumam. "Aku kangen."

Jika biasanya selalu ada wacana yang terealisasikan di setiap penghujung bulan desember, tapi kali ini Ritha hanya bisa mengenang, lalu terbelenggu sendirian.

Seandainya desember tahun lalu dia tahu jika Raffa tidak akan menemani lagi di desember-desember yang akan datang, Ritha ingin memeluknya sedikit lebih lama. Sampai lebih siap menguatkan diri jika tidak apa-apa sendirian, tidak apa-apa tak memiliki tempat pulang.

Ritha nyaris saja terhanyut dalam perasaan mellow-nya kala getar ponsel di tas tangan menginterupsi. Bahkan sepasang irisnya sudah memburam ketika melihat layar ponsel yang menyala, tapi masih dapat membaca pesan whatsapp itu yang datangnya dari Mama.

Ada di mana? Mama ada di rumah kamu.

"Hah?" Sepasang bola matanya sampai dibuat lebar, memastikan jika dia tak salah membaca pesan. "Mama ngapain dateng ke rumah malem-malem?" Hanya dengan begitu, Ritha bergegas pulang.

Jangan sampai Mama menunggunya terlalu lama.

####

That annoying girl is my wifeStories to obsess over. Discover now