Udara malam terasa berat-tersengat asap dan amis darah yang menikam penciuman. Langit yang seharusnya bertabur bintang kini meredup, cahayanya kalah oleh kobaran api merah yang melahap rakus setiap rumah dan bangunan yang dulu berdiri megah. Desa kami, yang pernah menjadi surga kecil, kini berubah menjadi neraka di bumi.
Aku meringkuk di balik reruntuhan, tubuhku menempel erat pada dinding batu yang hangus. Paru-paruku membakar dengan setiap tarikan napas, tapi aku menahan setiap suara. Bahkan untuk bernapas pun, aku harus mencuri kesempatan.
Di hadapanku, pembantaian sedang berlangsung.
Dentingan logam beradu logam memecah keheningan. Jeritan-jeritan pilu merobek udara malam, dan di antara kekacauan itu-keluargaku berperang dengan putus asa, bertarung tidak hanya untuk kemenangan yang kian mustahil, tapi untuk sekadar memperpanjang hidup mereka beberapa detik lagi.
Kami sudah kalah sejak awal.
Pasukan kerajaan datang bagai gelombang tsunami yang tak berujung, menelan segala di jalurnya. Zirah besi mereka berkilau dingin memantulkan cahaya dari api yang melahap kota kami, seolah dewa-dewa perang yang menari dalam kehancuran.
Di tengah kekacauan, kutangkap sosok ayahku. Pedangnya berlumur darah, tubuhnya dipenuhi luka menganga. Namun ia tetap berdiri-tegak meski bahunya tertebas dalam, meski darah mengalir deras dari sisinya, membentuk genangan di kakinya. Matanya tidak menunjukkan rasa takut, hanya tekad membara.
"Kita tidak bisa bertahan lebih lama!" teriak salah satu prajurit kami, suaranya pecah oleh kepanikan yang tak terbendung.
Ayah tidak menjawab. Bibirnya hanya terkatup rapat, rahangnya mengeras saat ia menggenggam gagang pedangnya lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Tak jauh darinya, sosok kakakku bergerak lincah bagai penari di tengah kematian. Meski usianya baru menginjak dua puluh, setiap gerakannya mematikan-presisi dan tanpa keraguan. Setiap tebasan pedangnya menumbangkan satu nyawa. Tapi jumlah mereka terlalu banyak...
Dan ibu-pandanganku menemukan sosoknya di antara para perempuan dan anak-anak yang berusaha melarikan diri. Ia memimpin mereka dengan ketegaran yang ganjil di tengah kehancuran. Wajahnya menunjukkan keteguhan meski garis-garis keputusasaan mulai mengukir keningnya. Ia tahu benar bahwa harapan kami semakin menipis dengan setiap detik yang berlalu.
Aku ingin bangkit. Aku ingin berlari ke sana, mengangkat senjata, dan mati bersama mereka jika memang itu takdir kami.
Tapi aku hanyalah bocah empat belas tahun dengan tangan yang belum pernah merenggut nyawa. Tanganku gemetar memegang belati kecil-satu-satunya senjata yang kumiliki.
Aku hanya bisa bersembunyi dalam ketidakberdayaan.
Dan saat itulah, aku melihatnya.
Seorang pria berdiri angkuh di atas bukit kecil, mengawasi pembantaian dengan senyum tipis yang mencemooh. Jubah biru gelapnya berkibar pelan tertiup angin malam, lambang singa emas terukir megah di dadanya-simbol kebangsawanan yang kini terlihat seperti ejekan bagi kami.
Aku mengenalnya dengan jelas.
Pangeran kedua kerajaan. Tangan kanan raja. Pengkhianat busuk yang menjual informasi tentang keluarga kami demi kekuasaan.
Dialah alasan kami mati malam ini.
Darahku mendidih hingga ke ubun-ubun. Jemariku mencengkeram gagang belati kecil yang tersembunyi di ikat pinggangku hingga terasa sakit. Jika aku bisa mendekat... jika aku bisa menyelinap dan menghunjamkan belati ini ke lehernya yang tak terlindungi...
Tapi sebelum aku bisa mengambil keputusan, jeritan panjang yang mengerikan menggema di udara.
Aku menoleh-dan duniaku runtuh dalam sekejap.
ESTÁS LEYENDO
Raven: A Vengeful Echo No God Erases
FantasíaDi dunia yang dipenuhi kegelapan dan keputusasaan, Raven hidup sebagai satu-satunya yang selamat dari kehancuran keluarganya, yang dieksekusi oleh sang raja. Hatinya dipenuhi kebencian yang membara, dan satu-satunya tujuan hidupnya adalah balas dend...
